Kapegung Suguhkan Eksplorasi Bunyi dan Imajinasi dalam Perayaan Hari Musik Dunia di Tasikmalaya

Kapegung Suguhkan Eksplorasi Bunyi dan Imajinasi
FOTO: Andy Kusmayadi/ruber.id

NEWS, ruber.id – Studio Ngaos Art Kota Tasikmalaya menjadi ruang pertemuan antara bunyi, emosi, dan imajinasi melalui pertunjukan musik kontemporer bertajuk “Kapegung”, pada Jumat (19/6/2026) malam.

Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu, berhasil menarik perhatian penonton yang memenuhi area pertunjukan.

Kapegung Suguhkan Eksplorasi Bunyi dan Imajinasi

Karya musik ini digagas oleh tiga musisi yang aktif berkarya di dunia teater. Yakni Alfin Nurul Azmi, Ikhsan Tri Julian, dan M. Faisal Ramadhan.

Melalui Kapegung, mereka menawarkan pengalaman mendengarkan yang berbeda dari pertunjukan musik pada umumnya.

Alih-alih hanya menyajikan harmoni dan melodi, Kapegung menghadirkan eksplorasi bunyi sebagai medium artistik yang mengajak penonton memasuki ruang imajinasi dan pengalaman emosional yang bersifat personal.

Baca juga:  Misteri dan Mitos Tanjakan Bohong Tasikmalaya

Setiap rangkaian suara yang dihadirkan, dirancang untuk membuka kemungkinan tafsir yang luas bagi para pendengar.

Salah seorang pengkarya, Alfin Nurul Azmi, menjelaskan bahwa karya tersebut lahir dari proses kreatif para musisi yang selama ini berkecimpung dalam pertunjukan teater.

Menurutnya, bunyi memiliki kekuatan untuk membangun suasana, menghidupkan emosi.

Selain itu, menghadirkan pengalaman yang kerap sulit diungkapkan melalui kata-kata.

“Bunyi tidak hanya sekadar didengar. Ia mampu membawa seseorang ke ruang imajinasi tertentu dan menghadirkan pengalaman emosional yang berbeda pada setiap individu,” ujarnya.

Hadirkan pengalaman intim

Alfin menuturkan, dalam Kapegung tidak ada tafsir tunggal yang ingin dipaksakan kepada penonton.

Bunyi yang sama dapat memunculkan beragam respons, mulai dari perasaan tenang, sedih, hingga kegelisahan, tergantung pengalaman dan sudut pandang masing-masing pendengar.

Baca juga:  Update COVID-19 Kota Tasikmalaya: 4 Pasien Positif Masih Dirawat, 2 Meninggal

Melalui pendekatan tersebut, para pengkarya berupaya menghadirkan pengalaman mendengarkan yang lebih intim dan reflektif.

Penonton, diberikan kebebasan untuk merasakan serta memaknai setiap unsur bunyi sesuai dengan pengalaman pribadi mereka.

Sebagai musisi yang memiliki latar belakang teater, Alfin, Ikhsan, dan Faisal mengembangkan konsep musikal yang tidak hanya berfokus pada aspek harmoni. Tetapi, pada penciptaan atmosfer, ekspresi artistik, serta hubungan antara bunyi dan ruang pertunjukan.

Pertunjukan Kapegung menjadi salah satu wujud apresiasi terhadap perkembangan musik kontemporer di Tasikmalaya.

Karya ini, sekaligus membuka ruang dialog baru mengenai cara masyarakat menikmati dan memahami musik sebagai pengalaman yang lebih luas dari sekadar hiburan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Musik Dunia yang diperingati setiap 21 Juni.

Baca juga:  Objek Wisata Kawah Karaha Bodas, Spot Foto Instagramable di Tasikmalaya

Perayaan tahun ini, digelar di Studio Ngaos Art dengan dukungan sejumlah komunitas dan ruang kreatif. Di antaranya Ngaos Art, Laung, Studio Rumah Palsu, Kanabini, dan Ladaya.

Melalui Kapegung, para pengkarya berharap musik dapat menjadi medium yang tidak hanya menghadirkan suara. Tetapi juga mampu menyentuh kesadaran, menggugah perasaan, serta memperkaya imajinasi para penikmatnya.