Budayawan Tasikmalaya Bahas Rencana Bedah Buku Puisi Mantra Nonton TV dalam Forum Ngopi Sore

Bedah Buku Puisi Mantra Nonton TV
Budayawan Tasikmalaya bahas rencana bedah buku Puisi Mantra Nonton TV dalam Forum Ngopi Sore. Foto: Istimewa/ruber.id

NEWS, ruber.id – Suasana hangat penuh inspirasi mewarnai pertemuan para penggiat sastra dan budaya dalam kegiatan ngopi sore bersama budayawan Tasikmalaya, Acep Zam-Zam Noor, di Kedai Simpoel Kopi, Jalan Yudanegara, Kota Tasikmalaya, Jumat (5/6/2026).

Pertemuan yang digelar secara santai tersebut, menjadi ruang bertukar gagasan bagi para pelaku seni dan literasi.

Bedah buku antologi puisi Mantra Nonton TV bersama Budayawan Tasikmalaya

Salah satu topik utama yang dibahas, yaitu rencana penyelenggaraan bedah buku antologi puisi Mantra Nonton TV, karya penyair dan akademisi Bunyamin Fasya.

Para peserta menilai, buku tersebut memiliki nilai sastra yang kuat.

Karena, memuat berbagai refleksi sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Baca juga:  Srikandi Resik, Pahlawan Kebersihan Kota Tasikmalaya yang Tak Kenal Lelah

Melalui kegiatan bedah buku, karya tersebut diharapkan dapat menjangkau pembaca yang lebih luas, khususnya kalangan generasi muda dan pencinta sastra.

Selain menjadi ajang pengenalan karya, forum bedah buku juga dipandang sebagai sarana membangun ruang dialog yang mampu memperkaya perspektif pembaca. Sekaligus, meningkatkan apresiasi terhadap karya-karya sastra.

Dalam diskusi tersebut, Acep Zam-Zam Noor mengatakan dukungannya terhadap rencana kegiatan tersebut.

Menurutnya, berbagai aktivitas literasi seperti bedah buku memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem sastra yang sehat dan produktif.

Ia menilai, kegiatan semacam itu tidak hanya memperkenalkan karya kepada publik. Tetapi juga, dapat menjadi sumber motivasi bagi para penulis dan sastrawan muda untuk terus berkarya.

Baca juga:  Jajanan Viral Serba Rp10.000 Ramaikan Pagi di Kota Tasikmalaya

Di sisi lain, kegiatan literasi juga berpotensi menarik lebih banyak masyarakat untuk terlibat aktif dalam dunia sastra.

“Tasikmalaya, memiliki tradisi panjang dalam melahirkan seniman dan sastrawan.”

“Potensi ini, perlu terus dirawat melalui berbagai kegiatan yang mampu mempertemukan penulis, pembaca, serta komunitas sastra,” ujar Acep.

Rencana bedah buku Mantra Nonton TV pun, mendapat sambutan positif dari peserta diskusi.

Mereka berharap, agenda tersebut dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali budaya diskusi sastra di Tasikmalaya.

Selain itu, memperkuat jejaring komunitas literasi yang berkembang di berbagai kalangan.

Pertemuan sederhana di sebuah kedai kopi itu menjadi bukti, bahwa ruang-ruang informal masih memiliki peran penting dalam melahirkan ide, kolaborasi, dan gerakan kebudayaan yang berdampak positif bagi masyarakat.

Baca juga:  Curug Pariuk Tasikmalaya, Berpetualang Sambil Menikmati Panorama Unik

Semangat untuk terus mengembangkan dunia sastra dan literasi di Tasikmalaya pun kembali mengemuka melalui diskusi yang berlangsung akrab dan penuh antusiasme. ***