Silaturahmi Alumni Karawitan STSI, ISBI Bandung asal Tasikmalaya

Silaturahmi Alumni Karawitan STSI, ISBI Bandung asal Tasikmalaya
Silaturahmi seni, para alumni jurusan Karawitan STSI, ISBI Bandung, bersama Maestro Kawih Kepesindenan, Mamah Eti si Mata Roda, Selasa (1/2/2022). Andy/ruber.id

BERITA TASIKMALAYA, ruber.id – Silaturahmi Alumni Karawitan STSI, ISBI Bandung asal Tasikmalaya. Kesenian merupakan bagian dari salah satu unsur kebudayaan yang hidup di masyarakat.

Keberadaannya, masih tetap terjaga hingga kini.

Tasikmalaya sendiri, memiliki beragam kesenian baik di wilayah kota maupun kabupaten, salah satunya Seni Karawitan.

Seni Karawitan adalah seni tradisional warisan nenek moyang, yang mesti dilestarikan.

Karena saat ini, sedikit sekali kaum muda yang menekuni proses berkesenian ini.

Salah satu upaya untuk membangkitkan gairah berkesenian, harus sering diadakan pertemuan atau prores bersama.

Pegiat Seni Karawitan, bukan hanya dari kalangan masyarakat (seniman) saja.

Melainkan, dari lulusan institusi seni mempunyai peranan penting untuk kelangsungan Seni Karawitan, di Tasikmalaya khususnya.

Baca juga:  Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Tukang Rongsok di Tasikmalaya, Korban Ditusuk Berkali-kali

Puluhan alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, atau yang sekarang berganti nama menjadi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) mengadakan pertemuan.

Pertemuan ini berlangsung di Jalan Bebedahan 1 Nomor A: 35, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (1/2/2022).

Kegiatan ini, merupakan ajang silaturahmi antaralumni asal Tasikmalaya.

Dengan penggagas acara Andri Candiaman, lulusan STSI Bandung Jurusan Karawitan tahun 2001.

Upaya Alumni Gali Potensi Bidang Seni Karawitan

Andri menuturkan, acara ini terlaksana dengan tujuan, mempererat tali silaturahmi lulusan Karawitan.

Selain itu, kata Andri, sebagai upaya menggali potensi bidang seni karawitan.

“Tujuannya, agar dapat berproses bersama, memperkaya khasanah Seni Karawitan di Tasikmalaya,” jelasnya.

Baca juga:  Lintas Komunitas di Tasikmalaya Berbagi Takjil Gratis kepada Pengguna Jalan

Andri menjelaskan, seyogyanya, keberadaan Seni Karawitan saat ini bukan hanya dapat kita lihat dalam acara penyambutan pengantin saja.

Namun, banyak sekali yang perlu diperkenalkan kepada khalayak mengenai reportoar lagu, dan sajian musikalitasnya.

Turut hadir, salah satu maestro kepesindenan Eti Ratna Suminar yang akrab dengan sapaan si mata roda.

Meski usia tak lagi muda, semangat Eti masih dapat menandingi peserta yang hadir.

Dalam kesempatan ini, Eti melantunkan lagu-lagu kawih Sunda (kiliningan) dengan suara khasnya.

Dengan iringan waditra (alat musik) mulai dari kecapi, gambang, rebab, goong dan kendang.

Seni Karawitan, harus mendapatkan kembali ruhnya dalam seni pertunjukkan.

Potensi yang setiap individu miliki ini perlu terpetakan, agar kesenian ini tidak hanya sebagai tontonan semata.

Baca juga:  Di Hari Anak Nasional, KPAID Kabupaten Tasikmalaya Raih Predikat Terbaik se-Indonesia

“Hal ini, bertujuan sebagai ajang regenerasi. Msalnya untuk juru sinden, juru kawih, bahkan nayaga, ucap Andri.

Penulis: Andy Kusmayadi/Editor: Bam