Home Blog

Jambret Bermobil Avanza Rampas Emas 15 Gram dari Nenek asal Cisarua Sumedang

0

CISARUA, ruber.id – Mara, nenek umur 73 tahun asal Dusun Gandasoli TT 02/02, Desa Kebonkalapa, Cisarua, Sumedang, Jawa Barat jadi korban penjambretan, Kamis (27/2/2020).

Nek Mara dijambret dua orang yang turun dari mobil Toyota Avanza Silver di wilayah Gandasoli jam 11.00 WIB.

Dandim 0610/Sumedang Letkol Arh. Novianto Firmansyah membenarkan kejadian ini.

“Korban saat itu menunggu anaknya di depan warung, tapi tiba-tiba datang kendaraan minibus Avanza warna silver.”

Sebelum kejadian, kata Dandim, korban berencana menjual emas ke Pasar Sumedang, sambil menunggu anaknya, Eman, yang masih berjualan ayam potong.

“Mobil tersebut ditumpangi dua orang tak dikenal yang langsung menghampiri korban.”

“Awalnya, pelaku berpura-pura mau beli rokok. Tapi tiba-tiba, korban langsung diboyong pelaku ke dalam mobil,” katanya kepada ruber.id, Kamis malam.

Setelah di dalam mobil, kata Dandim, perhiasan emas seberat 15 gram dirampas pelaku.

“Korban kemudian diturunkan di Jalan Raya Serang, Cimalaka,” ungkap Dandim.

Saat ini, kata Dandim, korban sudah kembali ke rumahnya di Gandasoli, Cisarua.

“Korban tidak mengalami luka apapun. Saat ini, pihak terkait tengah memburu para pelaku,” ujar Dandim. (R003)

Baca berita lainnya: Kuras Emas 60 Gram dan Uang Rp5 Juta, Munding Diringkus Polres Sumedang

loading...

Basarnas Bandung Masih Cari Kakek asal Karawang di Sungai Citarum

0

KARAWANG, ruber.id – Tim SAR gabungan terus berupaya melakuka pencarian terhadap Suparta, 56, yang tenggelam di Sungai Citarum.

Suparta merupakan kakek asal Karawang, Jawa Barat yang terseret arus Sungai Citarum.

Sebelum hilang terseret arus sungai, Suparta mandi di Sungai Citarum sebagai pemenuhan nazar.

Baca beritanya: Sebelum Hilang Terseret Arus Sungai Citarum, Kakek asal Karawang Ini Nazar Sesuatu

Pada hari kedua ini, tim melakukan penyisiran Sungai Citarum di Desa Anggadita, Klari, Karawang dari jam 08.00 WIB.

“Pencarian dilakukan dengan menggunakan dua unit LCR untuk melakukan penyisiran,” Kepala Basarnas Bandung Deden Ridwansyah, Kamis (27/2/2020) sore.

Deden menyebutkan, tim SAR gabungan memperluas area penyisiran.

Pencarian dilakukan 3-5 kilometer dari titik kejadian, dengan membagi tim menjadi dua SRU (Search and Rescue Unit).

Di mana, kata Deden, tim SRU 1 melakukan penyisiran dari arah kiri tepi sungai.

Sedangkan SRU 2, lanjut Deden, melakukan penyisiran dari arah kanan tepi sungai.

“Tiap SRU bergerak sejauh 3-5 kilometer dari titik kejadian menggunakan dua LCR,” ungkapnya.

Namun, kata Deden, hingga Kamis sore jam 15.30 WIB, pencarian belum membuahkan hasil.

Deden menambahkan, selain Basarnas Bandung, unsur SAR yang terlibat dalam operasi pencarian yaitu BPBD Karawang.

Selanjutnya, Rescue Peruri Communication, SAR Zhadoel, SAR MTA, TNI AD, PMI dan camat Klari.

“Tim SAR dilengkapi satu unit rescue car, satu unit LCR Basarnas. Satu unit LCR BPBD Karawang, dan satu set peralatan komunikasi,” ucapnya. (R003)

Baca juga berita lainnya: Karawang Masih Direndam Banjir, Basarnas Bandung Evakuasi Warga di Perum Purwasari

loading...

Banjir Bandang Rendam Ratusan Rumah di Pamarican Ciamis

0

PAMARICAN, ruber.id – Banjir bandang merendam Dusun Ciparakan, Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Ciamis, Jawa Barat, KamisĀ  (27/2/2020) jam 15.30 WIB.

Akibatnya, ratusan rumah milik 400 Kepala Keluarga (KK) di dusun tersebut terendam air banjir.

Ketua Tagana Ciamis Ade Waluya menyebutkan, banjir bandang disebabkan meluapnya air dari anak Sungai Citalahab, dari Kaki Gunung Geger Bentang.

“Banjir terjadi tiba-tiba saat hujan deras mengguyur hari ini,” ucap Ade, Kamis sore.

Ade mengatakan, air Sungai Citalahab meluap hingga membanjiri pemukiman warga.

“Meski air yang merendam tidak terlalu tinggi, namun saat ini, aktivitas warga terganggu dan mereka khwatir banjir makin membesar,” sebutnya.

Ade menjelaskan, Tagana terus berupaya membantu warga di lokasi.

Tagana Ciamis, lanjut Ade, juga mengimbau warga untuk tetap hati-hati dan waspada. (R012/Akrim)

Baca berita lainnya: Belasan Rumah di 3 Kecamatan di Ciamis Rusak Diterjang Puting Beliung

loading...

Wisnu Murdianto Dilantik sebagai Kasi Intel Kejari Depok

0

DEPOK, ruber.id – Kepala Kejari Depok, Jawa Barat, Yudi Triadi, SH., MH., melantik Herlangga Wisnu Murdianto, SH., MH., sebagai kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) yang baru.

Pelantikan dan pengambilan sumpah janji jabatan Herlangga dilaksanakan di Aula Kejari Depok, Kamis (27/2/2020).

Pelantikan Herlangga berdasarkan
Keputusan Jaksa Agung RI Nomor: KEP-IV-037/C.4/01/2020.

Herlangga dilantik menggantikan Kosasih SH., MH., yang sudah pindah tugas menjadi koordinator Kejati Jambi.

Sebelum dilantik menjadi Kasi Intel Kejari Depok, Herlangga bertugas sebagai Kasub Protokol dan Pengamanan Wakil Jaksa Agung pada Bagian Protokol.

Dan Pengamanan Pimpinan Biro Umum Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan Kejaksaan Agung, di Jakarta

Kepala Kejari Depok Yudi Triadi mengucapkan selamat bergabung di keluarga Kejari Depok.

Yudi berharap, dukungan dan kerjasamanya demi mewujudkan Kejari Depok, menuju zona integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi, sebagaimana arahan dari pimpinan tinggi. (R007/Moris)

Baca berita lainnya: Divonis 13 Tahun Penjara, Terdakwa Polisi Tembak Polisi di Depok Ajukan Banding

loading...

Pembunuh Sadis Siswi SMPN 6 Tasikmalaya Ayah Kandungnya Sendiri, Ini Alasannya

0

TASIKMALAYA, ruber.id – Pelaku pembunuhan keji terhadap Delis, 13, siswi SMPN 6 Tasikmalaya terungkap.

Ternyata, pelaku pembunuh Delis tak lain adalah ayah kandungnya sendiri, Budi Rahmat, 45.

Diketahui, Budi merupakan warga Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya.

Budi sudah bercerai dengan ibu Delis, yaitu Wati Fatmawati, 46.

Kapolres Polres Tasikmalaya Kota AKBP Anom Karibianto mengungkapkan, pembunuh Delis tak lain adalah ayah kandungnya sendiri yaitu BR.

“Korban dibunuh tersangka di rumah kosong dekat tempat ayahnya bekerja,” katanya saat jumpa pers di Mapolres Tasikmalaya Kota, Kamis (27/2/2020) siang.

Alasan Budi hingga tega membunuh darah dagingnya sendiri karena kesal terhadap korban.

Sebelum tewas dibunuh, kata Anom, sepulang dari sekolah, menemui sang ayah di rumahnya di Tawang.

Kemudian, Delis menemui sang ayah di tempatnya bekerja di wilayah Tawang.

Tujuan korban menemui sang ayah, untuk meminta uang guna keperluan study tour yang sebelumnya Budi janjikan yaitu sebesar Rp400.000.

“Saat itu, BR sedang bekerja di rumah makan. Korban kemudian diminta sang ayah menunggunya sekitar jam 19.00 WIB di sebuah rumah kosong,” ungkapnya.

Setelah bertemu, kata Anom, terjadi perdebatan antara anak dan ayah ini.

Budi hanya mampu menyanggupi permintaan anaknya ini sebesar Rp300.000.

Kurang Rp100.000 dari apa yang diminta Delis untuk keperluan study tour.

“BR ngaku khilaf. Dia kemudian mencekik leher korban hingga tewas,” sebutnya.

Kemudian, kata Anom, BR kembali ke tempatnya kerjanya dan meninggalkan jenazah anaknya di rumah kosong tersebut.

Pada malam sekitar jam 22.30 WIB, BR kembali ke rumah kosong tersebut untuk mengikat korban.

“Korban diikat BR menggunakan kabel. Lalu dia bawa menuju gorong-gorong di depan sekolahnya. Saat itu sedang hujan lebat,” ucapnya.

Jenazah korban, kata Anom, dibenamkan ke dalam gorong-gorong berdiameter 40 sentimeter itu dengan cara paksa.

“Jasad korban dimasukkan ke dalam gorong-gorong itu secara paksa,” tuturnya.

Atas perbuatannya, lanjut Anom, pelaku dijerat Pasal 76 c UU Nomor 35/2014 tentang Perubahan UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

“Ancaman hukuman 15 tahun penjara. Tapi, karena tersangka adalah orangtua kandung korban, maka hukumannya ditambah sepertiga jadi 20 tahun,” ujarnya. (dimas)

Baca berita sebelumnya: Ibu Siswi SMPN 6 Tasikmalaya Minta Pelaku Pembunuh Anaknya Dihukum Mati

loading...

Disdik Sumedang: Tragedi Susur Sungai SMPN 1 Turi, Jangan Malah Membatasi Kreativitas Pelajar

0

JATINANGOR, ruber.id – Tragedi susur sungai SMPN 1 Turi yang menewaskan 10 orang siswa, jangan malah membatasi kreativitas pelajar.

Kepala Dinas Pendidikan Sumedang Agus Wahidin menyebutkan, musibah susur sungai yang terjadi Sleman, Yogyakarta ini akan jadi pelajaran bagi Dinas Pendidikan Sumedang, Jawa Barat.

Disdik Sumedang, kata Agus, meminta tiap sekolah di Sumedang untuk melakukan mitigasi ketika akan melakukan aktivitas belajar mengajar di alam terbuka.

Tapi, kata Agus, jangan sampai adanya kejadian di Sleman ini malah membatasi kreativitas pelajar.

“Kami tidak melarang guru atau pihak sekolah untuk melakukan aktivitas belajar mengajar di luar kelas.”

“Tidak boleh itu melarang kreativitas. Jadi, guru juga jangan takut untuk kreatif dan mendorong anak-anaknya berkembang. Melarang kreativitas di sekolah itu tidak boleh, bahaya,” katanya di Jatinangor, Rabu (27/2/2020).

Yang terpenting, kata Agus, jika akan melakukan aktivitas KBM di luar kelas atau di alam terbuka.

Maka, yang perlu diperhatikan guru atau pihak sekolah yaitu mitigasi resiko.

“Lakukan mitigasi resiko terlebih dahulu. Kalkulasi secara baik resiko yang akan terjadi jika melakukan aktivitas belajar di luar kelas,” ucapnya.

Jadi, kata Agus, musibah yang menimpa guru dan para pelajarnya di SMPN 1 Turi jangan malah menghambat guru untuk mengembangkan kreativitas anak didik.

“Para pelajar di Sumedang harus tetap mendapatkan kesempatan yang cukup, untuk mengekspresikan dirinya,” sebutnya. (R003)

Baca berita lainnya: Semarak Festival Kabaret se Jawa Barat bersama Sanggar Teater Sebelas April

loading...

Ibu Siswi SMPN 6 Tasikmalaya Minta Pelaku Pembunuh Anaknya Dihukum Mati

0

TASIKMALAYA, ruber.id – Wati Fatmawati, 46, ibu siswi SMPN 6 Tasikmalaya, Delis, 13, berharap pelaku pembunuh anaknya dihukum mati.

Wati pun mengaku lega karena firasatnya selama ini benar, dan bahwa kematian anaknya karena kecelakaan itu hanya rumor.

Sejak awal, Wati meyakini bahwa anaknya ini merupakan korban pembunuhan keji.

“Banyak yang mengatakan kematiannya karena kecelakaan. Saya tak percaya, dan tetap yakin jika anak saya itu dibunuh,” katanya ditemui di rumahnya, Kamis (27/2/2020) pagi.

Wati mengaku tak segan untuk menjawab apa yang disampaikan warga lain itu.

“Anak saya meninggal karena dibunuh. Tidak mungkin jasad anak saya ini ditemukan di gorong-gorong yang sempit dan tersebunyi seperti itu, jika tidak dibunuh seseorang,” ucapnya.

Wati mengaku akan menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak kepolisian.

Wati hanya berharap, penyebab anaknya dibunuh dapat ia ketahui secara jelas.

“(Pembunuhnya) jangan sampai lepas. Saya berharap pelaku dihukum mati. Secepatnya bisa ditangkap, saya ingin pelakunya dihukum mati,” ujar Wati. (dimas)

Baca berita lainnya: Siswi SMPN 6 Tasikmalaya Korban Pembunuhan, Polisi Segera Tetapkan Tersangka

loading...

Divonis 13 Tahun Penjara, Terdakwa Polisi Tembak Polisi di Depok Ajukan Banding

0

DEPOK, ruber.id – Terdakwa polisi tembak polisi di Depok, Jawa Barat, Brigadir Rangga Tianto, divonis majelis hakim 13 tahun penjara.

Atas vonis ini, terdakwa yang menembak mati sesama polisi Bripka Rahmat Effendy ajukan banding.

Diketahui, peristiwa polisi tembak mati polisi ini terjadi di Polsek Cimanggis, Kota Depok pada Kamis 25 Juli 2019, sekitar jam 20.50 WIB.

Putusan tersebut sesuai dengan, subsidair tuntutan Jaksa Penuntut umum Rozi Juliantono yang menuntut terdakwa dengan pasal 338 KUHP terkait pembunuhan dengan jeratan 13 tahun penjara.

Rangga menyebutkan, setelah berunding dengan beberapa kuasa hukum, ia mengajukan banding.

“Saya menyatakan mengajukan banding,” ucapnya usai mendengar amar putusan di ruang sidang utama, Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok, Rabu (26/2/2020).

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim mempersilakan terdakwa mengajukan banding sesuai aturan hukum yang berlaku.

Sehingga, putusan ini belum berkekuatan hukum tetap (Belum inkrah).

Dalam putusannya, Ketua Majelis Hakim Yuanne Marietta menyatakan, terdakwa secara sah melakukan pembunuhan terhadap korban.

Dalam kasus ini, sejumlah barang bukti juga telah diamankan.

“Menyatakan terdakwa secara sah melakukan pembunuhan. Seperti dalam tuntutan subsider Jaksa.”

“Dengan ini, menjatuhkan putusan hukuman kepada terdakwa 13 tahun penjara.”

“Dengan penetapan masa penahanan,” kata Ketua Majelis Hakim Yuanne saat membacakan amar putusan di PN Depok.

Hakim Yuanne menuturkan, sejumlah alat bukti yang telah diamankan sebagai kejahatan yaitu satu pucuk senjata dengan satu magazine berisi tujuh butir selongsong peluru.

Selanjutnya, surat penggunaan senjata api, surat keanggotaan Pol Airud Baharkam Polri, seperangkat seragam milik terdakwa, dua proyektil.

“Membebani tersangka membayar biaya perkara sebesar Rp50.000,” tutur Yuanne. (R007/Moris)

Baca berita lainnya: Nenek Arpah Sakit, Sidang Ditunda

loading...

Sejarah Panjang Perjalanan Bus Medal Sekarwangi, Eksis Berkat Fanatisme Penumpang Sumedang

0

BAGIAN 3 (Habis)
SUMEDANG, ruber.id
– Meski sempat diterjang badai krisis moneter 1998.

Dan pada tahun 1996 ditinggal wafat perintis sekaligus pimpinan perusahaan, H Atang Sobandi, namun, Medal Sekarwangi tetap eksis.

Ini, tak lepas dari komitmen pimpinan baru perusahaan yakni H Atep Gunawan Sobandi yang menginginkan agar Medal Sekarwangi tetap beroperasi.

Pimpinan Harian PO Medal Sekarwangi Hendi Kusmara menyebutkan, meski sejak saat itu perusahaan terus mengalami kemunduran.

Dan memasuki awal tahun 2000-an, usaha angkutan bus terus mengalami penurunan, imbas kemajuan teknologi dan pengaruh faktor psikologis penumpang.

Tapi, Medal Sekarwangi terus berupaya memberikan pelayanan dan servis terbaiknya kepada tiap penumpang.

“Kemajuan teknologi informasi yang memberikan kemudahan dan kecepatan dalam berkomunikasi menjadi faktor utama kelesuan usaha pada jalur angkutan bus.”

“Psikologis penumpang yang berubah juga makin memperburuk keadaan. Namun begitu, hal ini justru menjadi angin segar bagi tumbuhnya perusahaan jasa travel.”

“Sehingga wajar, saat ini banyak sekali perusahaan baru di bidang jasa travel bermunculan,” sebutnya.

Meski begitu, kata Hendi, dengan berbagai tantangan yang ada dan kondisi perusahaan yang terus mengalami penurunan.

Seperti jumlah trayek yang terus berkurang, jumlah armada bus yang beroperasi kian sedikit, tapi berkat fanatisme penumpang asal Sumedang, Medal Sekarwangi tetap ada.

Medal Sekarwangi tepat menjadi teman bagi warga dalam menempuh perjalanan Sumedang-Jakarta dan sebaliknya.

Hendi menuturkan, trayek yang tersisa yakni jurusan Wado-Jakarta, Wado-Bandung, Bantarujeg-Bandung.

Lalu, Wado-Bekasi, Sumedang-Depok, Cikijing-Jakarta, dan Sumedang-Tangerang.

Sementara total karyawan di kantor Sumedang, Bandung, dan Jakarta berjumlah 60 orang.

Awak bus 252 orang, dan total bus yang masih beroperasi sebanyak 75 armada, ukuran besar dan medium.

Amalkan Trisakti, Medal Sekarwangi Akan Tetap Terlihat di Jalanan
Hendi mengatakan, meski kondisi Medal Sekarwangi hanya mampu mencapai titik balance antara pendapatan dengan pengeluaran.

Disebabkan antara pengeluaran untuk pemeliharaan kendaraan, pembelian spare part dan kesejahteraan para awak busnya.

Tapi, perusahaan tetap mengupayakan agar tiap tahunnya mampu melakukan peremajaan armada bus.

“Meski kondisi usaha saat ini dari hari keharinya kian lesu tapi saya pribadi mengharapkan agar Medal Sekarwangi bisa tetap eksis seperti yang diinginkan (Alm) H Atang Sobandi.”

“Beliau menginginkan agar Medal Sekarwangi tetep aya tur katingali di jalan (Tetap ada dan terlihat di jalan),” katanya.

Untuk tetap menjaga eksistensi dan kelangsungan usahanya, kata Hendi, Medal Sekarwangi senantiasa mengamalkan motto yang diwariskan perintis yakni Trisakti.

Atau tiga unsur dasar yaitu menjiwai, introspeksi (Koreksi diri), dan keadlian.

Menjiwai, kata Hendi, dalam arti seuruh awak Medal Sekarwangi mulai dari pucuk pimpinan hingga sopir harus mempunyai rasa memiliki akan perusahaan.

“Bahwa ini, rumah sekaligus dapur bagi seluruh awak,” urai Hendi.

Kemudian koreksi diri, yakni tiap awak harus berani menerima segala kekurangan dan mengakui kesalahan.

“Sehingga mampu belajar dari pengalaman,” sebutnya.

Selanjurnya, Medal Sekarwangi, dalam menjalankan usahanya harus memenuhi rasa keadilan.

“Sadar antara hak dan kewajibannya masing-masing,” kata Hendi.

Sementara itu, soal fanatisme penumpang Bus Medal Sekarwangi, salah seorang sopir Tupah Supandi, memiliki cerita tersendiri.

Katanya, sejak kali pertama menjadi bagian dari Medal Sekarwangi pada tahun 1981, fanatisme penumpang asal Sumedang itu telah ada.

“Bukan sekali dua kali, saya mendengar warga asal Sumedang yang bekerja di Jakarta mengatakan kalau di Jakarta melihat Bus Medal Sekarwangi lewat, mereka suka rindu dan jadi sangat ingin pulang ke Sumedang.”

“Kata yang lainnya lagi, katanya, kalau tersesat di Jakarta tinggal nyari Bus Medal Sekarwangi.”

“Pasti bisa kembali ke Sumedang dan dari Jakarta ke Sumedang tidak akan bireuk (salah) naik Medal Sekarwangi pasti sampai.”

“Bahkan, saat Lebaran, para penumpang selalu bercerita seperti itu, bangga dan merasa sangat dihargai, itulah kesan-kesan saya selama menjadi sopir bus ini,” ucap Tupah tahun 2012 lalu.

Tupah berharap, ke depan, Medal Sekarwangi tetap ada meski nantinya, ia harus kembali kepangkuan Illahi.

“Dengan usia setua ini, saya masih dipercaya mengemudikan bus trayek Sumedang-Jakarta.”

“Mungkin ini satu penghargaan dari perusahaan yang sangat saya syukuri.”

“Meski begitu, selama saya di sini, perusahaan pun tak pernah rewel terhadap saya.”

“Justru, saya yang harus berterima kasih, karena dengan bekerja di sini saya bisa hidup layak bersama keluarga.”

“Harapannya, meski saya telah tiada, Medal Sekarwangi harus tetap ada sampai kapan pun,” kenang Tupah. (R003/Arsip ruber.id)

Baca BAGIAN 2: Sejarah Panjang Bus Medal Sekarwangi, Tetap Eksis di Tengah Badai Krisis

Baca BAGIAN 1: Sejarah Panjang Perjalanan Bus Medal Sekarwangi, dari Hasil Bumi Lahirlah Bis Peristiwa

loading...

Tega Bener! Masih Miskin, Belasan KPM di Garut Malah Sudah Digraduasi

0

BANJARWANGI, ruber.id – Belasan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bantuan sembako di Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Garut, Jawa Barat terkena graduasi.

Graduasi atau naik kelas/dicabut ini, membuat KPM kaget ketika proses penggesekan di agen, saldo kartu KKS kosong.

Rupanya, setelah diusut oleh TKSK dan agen, belasan KPM ini sudah digraduasi.

Agen BNI 46 Desa Talagasari Abdul Sobur mengaku prihatin dengan dicabutnya bantuan terhadap belasan KPM ini.

Padahal, kata Abdul, setelah dicek ke lapangan, KPM itu masih tergolong miskin.

“Ketika kami cek ke lapangan, sebenarnya belum saatnya mereka kena graduasi. Karena kondisi ekonominya masih sangat mengkhawatirkan,” kata Abdul, Rabu (27/2/2020).

Abdul berharap, pihak berwenang agar melihat dulu ke lapangan sebelum melakukan graduasi kepada KPM.

“Saya mohon ada koordinasi dulu, supaya yang kena graduasi sesuai dengan kenyataan di lapangan,” ucapnya.

Belasan KPM yang terkena graduasi ini diketahui ketika pencairan sembako pada Januari 2020.

Hal ini membuat KPM terpaksa gigit jari saat tahu bahwa kartu KKS mereka bersaldo nol alias kosong.

“Mereka tidak tahu bahwa bulan lalu, sudah tidak bisa menerima bantuan lagi.”

“Ketika datang ke agen, tiba-tiba kartunya tidak terdaftar. Ketika kami konsultasikan, ternyata mereka sudah digraduasi,” katanya.

Sementara itu, Pendamping Bansos Sembako Kecamatan Banjarwangi, Endang Ruslan Ependi mengaku tidak tahu adanya graduasi belasan KPM ini.

“Saya juga dari awal belum paham, belum mendengar ada graduasi. Tapi, setelah pencairan ada data tidak terdaftar.”

“Saya cari solusinya di kecamatan dan kabupaten ternyata kena graduasi,” katanya.

Endang mengaku heran, karena dari awal tidak ada sosialisasi terlebih dahulu perihal adanya graduasi KPM. (R011/Fey)

Baca berita lainnya: Tentukan Jenis Pangan, Tikor Banjarwangi Garut Musyawarah dengan Agen dan KPM

loading...