NEWS, ruber.id – Suasana malam puncak Pasanggiri Jaipongan Kala Darma se-Jawa Barat di Kota Tasikmalaya semakin meriah dengan hadirnya pagelaran Wayang Golek, Sabtu (12/9/2026) malam.
Pertunjukan seni tradisi Sunda tersebut, digelar di Lapangan Parkir Plaza Asia Tasikmalaya sebagai bagian dari rangkaian Milangkala ke-70 Daya Mahasiswa Sunda (Damas).
Tak sekadar menjadi hiburan bagi peserta dan keluarga, pagelaran Wayang Golek juga menjadi sajian budaya yang dinikmati masyarakat yang hadir untuk menyaksikan malam puncak. Sekaligus, pengumuman para pemenang Pasanggiri Jaipongan Kala Darma.
Dalang Anom Aditya Opick Sunandar Sunarya pukau penonton di malam puncak Pasanggiri Jaipongan Kala Darma
Salah satu penampilan yang mendapat perhatian penonton yakni aksi dalang anom atau dalang muda, Aditya Erlangga.
Ia, tampil menggunakan nama panggung Aditya Opick Sunandar Sunarya.
Dalang berusia 18 tahun itu, mampu menghidupkan suasana melalui kepiawaiannya memainkan wayang sekaligus membawakan dialog-dialog bernuansa komedi.
Sejumlah tokoh punakawan seperti Cepot, Dawala dan Gareng menjadi bagian dari lakon yang dibawakan Aditya.
Tingkah dan dialog khas para punakawan sukses mengundang gelak tawa penonton sepanjang pertunjukan.
Meski masih muda, Aditya menunjukkan kemampuan yang cukup matang dalam seni pedalangan.
Saat ini, ia tercatat sebagai siswa SMK Seni Budaya Kota Tasikmalaya.
Aditya, merupakan Putra Ajaran atau Pujaran dari Mekar Arum Dua Giri Harja.
Ia, menimba ilmu pedalangan dari Abah Opick Sunandar Sunarya, yang merupakan murid almarhum Asep Sunandar Sunarya. Salah satu maestro Wayang Golek Sunda yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan seni pedalangan di Jawa Barat.
Kecintaan Aditya terhadap seni tradisi, juga tumbuh dari lingkungan keluarganya.
Sang ayah, diketahui merupakan salah seorang seniman di Kabupaten Tasikmalaya.
Penampilan Aditya pada malam puncak Pasanggiri Jaipongan Kala Darma, sekaligus memperlihatkan bahwa seni tradisi Sunda masih memiliki tempat di kalangan generasi muda.
Wayang Golek tidak hanya hadir sebagai hiburan. Tetapi, menjadi ruang untuk melahirkan dan memperkenalkan generasi penerus seni pedalangan kepada masyarakat.
Ruang bagi masyarakat untuk kembali menikmati seni tradisi Sunda
Ketua Penyelenggara Pasanggiri Jaipongan Kala Darma, Handikan Rahman S, mengatakan, pertunjukan Wayang Golek sengaja dihadirkan untuk memberikan ruang lebih luas bagi seni tradisi dalam rangkaian Milangkala ke-70 Damas.
“Selain memberikan apresiasi kepada para peserta dan pemenang Pasanggiri Jaipongan, kami ingin malam puncak ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali menikmati seni tradisi Sunda.”
“Kehadiran dalang anom seperti Aditya menjadi bagian penting dari regenerasi dan keberlanjutan seni budaya,” ujar Handikan.
Menurutnya, generasi muda perlu memperoleh kesempatan untuk tampil di hadapan publik.
Selain itu, menunjukkan kemampuan mereka dalam mengembangkan seni tradisi.
Dengan adanya ruang tersebut, kesenian seperti Wayang Golek dan Jaipongan diharapkan dapat terus bertahan, berkembang mengikuti perubahan zaman. Namun, tetap berpegang pada akar budaya Sunda.
“Kami berharap, kegiatan ini bukan hanya menjadi sebuah perayaan. Tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni budaya Sunda,” katanya.
Pagelaran Wayang Golek yang menampilkan dalang anom Aditya pun, menjadi salah satu penutup meriah rangkaian Pasanggiri Jaipongan Kala Darma se-Jawa Barat.
Perpaduan antara penghargaan terhadap para peserta pasanggiri dan pertunjukan seni tradisi menjadikan malam puncak Milangkala ke-70 Damas berlangsung semarak, dan sarat dengan nuansa budaya Sunda.***






