NEWS, ruber.id – Lingkung Seni Setra Manik Pakuan Kota Tasikmalaya kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga eksistensi seni tradisional melalui kegiatan Ujian Tari.
Selain menjadi sarana evaluasi kemampuan peserta didik, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses pembinaan untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya.
Ujian Tari Setra Manik Pakuan
Ujian Tari tersebut, digelar di Kopi Bento, Jalan NoeNoeng Tisna Saputra, Kota Tasikmalaya, pada Minggu (30/8/2026).
Mengangkat tema “Melestarikan Tradisi, Menginspirasi Generasi”, kegiatan berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.
Sebanyak 77 peserta, mengikuti ujian dari berbagai tingkatan. Mulai dari kategori Dasar, Pemula Dasar, Pemula, Madya hingga Mahir.
Para peserta, menunjukkan kemampuan dalam menguasai berbagai unsur tari yang selama ini dipelajari melalui proses pembinaan di Lingkung Seni Setra Manik Pakuan.
Menariknya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang yang inklusif.
Salah satu dari 77 peserta, merupakan anak penyandang tunarungu yang mengikuti ujian pada kategori Pemula Dasar.
Keikutsertaan tersebut, menjadi gambaran bahwa seni tari dapat menjadi ruang ekspresi yang terbuka bagi siapa saja.
Dengan dukungan dan pembinaan yang tepat, keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk belajar, berkarya dan mengembangkan potensi di bidang seni.
Ujian tari, tidak semata-mata digunakan untuk mengukur kemampuan peserta dalam menghafal serta memperagakan gerakan.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk membangun kedisiplinan, kepercayaan diri, ketekunan serta pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam seni tradisi.
Hadirkan akademisi sebagai penguji
Untuk memastikan proses penilaian berlangsung secara objektif dan memberikan manfaat bagi perkembangan peserta, Lingkung Seni Setra Manik Pakuan menghadirkan dua penguji yang memiliki kompetensi di bidang seni tari.
Keduanya yakni Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd, dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, serta Alya Putri Suhaya, M.Pd, dosen tari pada Jurusan Seni Pertunjukan Universitas Siliwangi.
Kehadiran para akademisi tersebut, diharapkan tidak hanya memberikan penilaian terhadap kemampuan peserta. Tetapi juga, menghadirkan masukan yang konstruktif.
Dengan demikian, peserta dapat mengetahui kelebihan maupun aspek yang masih perlu diperbaiki dalam proses pengembangan kemampuan kepenarian mereka.
Evaluasi melalui ujian diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk terus meningkatkan kualitas. Baik dari sisi teknik, maupun pemahaman terhadap seni tari yang dipelajari.
Ujian bukan akhir dari proses belajar
Dalam kesempatan ini, Pimpinan Sanggar Setra Manik Pakuan, Andri Candiaman, S.Sn, memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar tidak menjadikan ujian sebagai sesuatu yang menakutkan.
Menurutnya, ujian merupakan bagian dari perjalanan belajar yang penting untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kemampuan setiap peserta.
Oleh karena itu, hasil yang diperoleh seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk melangkah ke tahap pembelajaran berikutnya.
Ia menekankan, proses mempelajari seni membutuhkan ketekunan, kedisiplinan dan keberanian untuk menerima evaluasi.
Setiap kritik dan masukan dari penguji dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki kemampuan.
“Jangan menjadikan hasil ujian sebagai akhir dari proses belajar. Jadikan setiap masukan dari juri sebagai bahan untuk terus berkembang dan menjadi penari yang lebih baik,” ajak Andri.
Menjaga seni tradisi di tengah perubahan zaman
Kegiatan Ujian Tari Setra Manik Pakuan, menjadi salah satu bentuk nyata upaya menjaga keberlangsungan seni tradisi di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.
Pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan teknis dalam menari. Tetapi juga, generasi yang memahami arti penting seni tradisional sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya.
Melalui kegiatan seperti ini, para peserta diperkenalkan pada proses belajar yang tidak berhenti pada kemampuan tampil di atas panggung.
Mereka juga, diarahkan untuk memiliki rasa memiliki, kecintaan dan kepedulian terhadap keberadaan seni tradisi.
Semangat “Melestarikan Tradisi, Menginspirasi Generasi” pun diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan.
Semangat tersebut, menjadi dorongan agar generasi muda terus belajar, berkarya dan mengambil peran dalam menjaga warisan budaya.
Dengan demikian, Ujian Tari Setra Manik Pakuan bukan hanya menjadi agenda evaluasi peserta didik. Tetapi juga, menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk melahirkan generasi muda yang terampil berkesenian.
Selain itu, memiliki kesadaran kuat terhadap pentingnya melestarikan seni tradisional.***






