Tuesday, 4 Aug 2020

Transportasi Jabodetabek Tetap Berjalan dengan Pembatasan, BPTJ Imbau Warga Tidak Mudik Lokal

Baca Juga

Ini Alasan Mengapa Jawa Barat Lebih Diminati Investor Dibandingkan DKI Jakarta

JAKARTA, ruber – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil terus berusaha menggenjot nilai investasi di Jabar. Peluang usaha ditambah iklim investasi di Tanah Pasundan yang...

Marketingnya Pasti Bagus Nih, Wedding Organizer Abal-abal Sukses Tipu Puluhan Calon Pengantin

KOTA DEPOK, ruber.id - Seorang pemilik Wedding Organizer (WO) di wilayah Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat ditangkap polisi.

Polsek Rancah Selidiki Misteri Hilangnya Belasan Kambing di Ciamis

RANCAH, ruber.id - Kurun dua hari terakhir, 17 ekor kambing milik peternak di dua kecamatan di Ciamis, Jawa Barat, raib digondol maling.

Longsor Isolasi 1 Kampung di Balikpapan, Brimob Kaltim Tinjau Lokasi

Longsor Isolasi 1 Kampung di Balikpapan, Brimob Kaltim Tinjau Lokasi KALIMANTAN TIMUR, ruber.id – Tim Patroli Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Kaltim tinjau bencana alam...

JAKARTA, ruber.id – Transportasi di Jabodetabek pada dua hari Lebaran Idul Fitri 1441 H, akan tetap berjalan dengan pembatasan.

Ini artinya, pada hari H Lebaran, Minggu (24/5/2020) dan H+1, Senin (25/5/2020) transportasi massal di wilayah Jabodetabek akan tetap beroperasi.

Kepala Bagian Humas BPTJ Budi Rahardjo menyebutkan, tetap berjalan dengan pembatasan sendiri artinya sesuai dengan ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Transportasi dengan pembatasan ini ditujukan terutama untuk fasilitasi kegiatan yang dikecualikan dalam PSBB,” jelasnya.

BACA JUGA: Mudik Lebaran 2020 Jadi yang Terberat bagi Pemerintah dan Aparat Keamanan, Ini Alasannya

Oleh karena itu, kata Budi, warga di Jabodetabek diminta untuk berlebaran di rumah.

Dan tidak melakukan kegiatan silaturahmi fisik atau anjangsana ke mana pun di wilayah Jabodetabek (Mudik Lokal).

“Kegiatan anjangsana untuk silaturahmi pada masa Lebaran tidak termasuk dalam kegiatan yang dikecualikan dalam PSBB,” sebutnya.

Bahkan, kata Budi, apabila merujuk Permenkes Nomor 9/2020 tentang PSBB dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19, kegiatan ini sangat berpotensi menimbulkan kerumunan yang seharusnya dihindari.

“Pada Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah ini, pengoperasian angkutan umum di wilayah Jabodetabek akan mengalami pembatasan.”

“Di antaranya, untuk angkutan umum misalnya PT KCI akan melayani perjalanan KRL dengan jam operasional mulai pukul 05.00-08.00 WIB.”

“Kemudian dilanjutkan jam 16.00-18.00 WIB, untuk seluruh lintas perjalanan,” ucapnya.

Adapun, kata Budi, pada waktu di luar jam operasional tersebut, stasiun akan ditutup.

Untuk jam operasional TransJakarta, pada hari Minggu (24/5/2020) akan berlangsung mulai jam 10.00-18.00 WIB.

Selanjutnya untuk hari Senin (25/5/2020), TransJakarta akan beroperasi mulai jam 06.00-18.00 WIB.

Sementara itu, kata Budi, waktu operasional angkutan umum regular di Bodetabek (di luar DKI Jakarta) tetap sama seperti di awal penerapan PSBB. Yaitu pada jam 05.00-19.00 WIB.

“Setiap orang atau pelaku usaha yang memiliki kegiatan dalam kriteria pengecualian yang hendak memanfaatkan layanan angkutan umum massal pada waktu-waktu tersebut, diharapkan untuk dapat menyesuaikan jadwal.”

“Selain itu, harus senantiasa mengakses informasi melalui akun-akun resmi media sosial masing-masing operator angkutan umum massal,” tuturnya.

Perlu juga diketahui, kata Budi, penerapan protokol kesehatan berupa pembatasan jumlah penumpang dan penerapan physical distancing berupa pengaturan tempat duduk tetap berlaku.

Adapun, jumlah penumpang kendaraan pribadi dan angkutan umum maksimal 50%, dari kapasitas penumpang.

Sedangkan untuk kereta api perkotaan (KRL) maksimal 35%.

“Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mengapresiasi beberapa pemerintah daerah di Jabodetabek yang telah menyatakan akan mengantisipasi kegiatan mudik lokal di wilayah masing-masing,” katanya.

Pemerintah daerah dimaksud di antaranya adalah Pemprov DKI Jakarta, Pemkot Bekasi, Pemkab Bogor, dan Pemkot Depok.

Dengan adanya antisipasi ini, lanjut Budi, diharapkan masyarakat tidak melakukan kegiatan mudik lokal.

Sehingga, selain mengurangi potensi penyebaran COVID-19, juga akan berdampak pada berkurangnya penggunaan angkutan pribadi pada Hari Raya Idul Fitri di Jabodetabek.

Sebagaimana kegiatan tradisi yang sudah berjalan selama ini, mudik lokal, selain melibatkan orang banyak atau berkelompok juga mempertemukan generasi muda dan generasi yang lebih tua.

“Sehingga, sangat berpotensi menjadi media penularan COVID-19,” jelasnya.

Sosialisasi Tidak Mudik Lokal
Mudik lokal dengan esensi silaturahmi sebenarnya memiliki tujuan yang baik.

Namun, kata Budi, ketika kemudian Idul Fitri harus dirayakan dalam masa pandemi ini perlu kesadaran publik agar kegiatan ini untuk sementara ditunda.

Pemerintah baik pusat dan daerah yang telah bekerja keras untuk mengendalikan penyebaran covid-19 tidak mungkin berhasil tanpa didukung masyarakat.

“Jadi masyarakat memang harus memiliki kesadaran untuk bahu membahu dengan pemerintah mencegah pandemi COVID-19 terus berkembang, agar kehidupan kembali dapat berjalan normal,” sebutnya.

Untuk itu, kata Budi, sejak beberapa pekan lalu, BPTJ telah berupaya melakukan berbagai kegiatan sosialisasi kepada masyarakat Jabodetabek.

Tujuannya, untuk menyadarkan masyarakat agar tidak melakukan kegiatan mudik lokal pada Hari Idul Fitri.

Sosialisasi dipimpin langsung oleh Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Polana B. Pramesti.

Dengan melibatkan pula instansi lain seperti Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah dan juga tokoh masyarakat.

Juga melibatkan pemerhati transportasi dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki pandangan yang sama.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan adalah ngobrol virtual dengan berbagai komunitas motor dan mobil menjelang berbuka puasa.

Kemudian talkshow di berbagai media radio di Jabodetabek dengan segmentasi komunitas tertentu.

Pemasangan spanduk di seluruh Jabodatabek hingga pemanfaatan media sosial dengan berbagai platform.

“Dari kegiatan sosialisasi ini, diharapkan terbangun kesadaran masyarakat Jabodetabek untuk tidak melakukan mudik lokal.”

“Dalam rangka silaturahmi merayakan Idul Fitri 1441 Hijriah nanti,” ucapnya.

Silaturahmi, kata Budi, tidak perlu harus dilakukan dengan kehadiran fisik.

Namun juga, dapat dilakukan dengan cara virtual yang tidak akan mengurangi makna silaturahmi itu sendiri.

Ibadah puasa Ramadan sebulan penuh yang telah memberikan latihan bagaimana menahan diri dapat menjadi bekal untuk meraih kemenangan yang utuh.

“Yaitu tidak menularkan COVID-19 yang besar kemungkinan terjadi jika melakukan silaturahmi fisik pada Hari Raya Idul Fitri,” tuturnya. (R007/Moris)

BACA JUGA: Warga Diminta Tak Paksakan Diri Naik KRL Jabodetabek, Ini Jadwal Bus Gratis yang Disiapkan

Komentar

loading...

Artikel Terbaru

Korban Tenggelam di Waduk Jatiluhur Purwakarta Ditemukan

PURWAKARTA, ruber.id - Tim SAR gabungan menemukan korban tenggelam di Waduk Jatiluhur, Desa Kemuning, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Korban...

Diberi Dua Tugas Baru, Tahun 2021 Insentif Ketua RT/RW di Pangandaran Naik Lagi

PANGANDARAN, ruber.id - Ketua RT dan RW di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat diberikan dua tugas baru di tahun 2021. Pertama, mereka harus...

Viral Hiu Tutul Terdampar di Pantai Cipatujah: Jadi Spot Selfie, Lalu Dicincang Rame-rame

TASIKMALAYA, ruber.id - Seekor ikan hiu tutul terdampar dan ditemukan warga telah mati di Pantai Bubujung, Desa Ciheras, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya,...

Pemkab Dorong Produk UMKM dan IKM di Pangandaran Tembus Pasar Global

PANGANDARAN, ruber.id - Pemkab Pangandaran, Jawa Barat dorong produk UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dan IKM (Industri Kecil dan Menengah) tembus...

Inter Milan Segera Perpanjang Kontrak 5 Pemainnya

SPORT, ruber.id - Inter Milan akan segera melakukan negosiasi untuk memperpanjang kontrak 5 pemain. Lima pemain ini dianggap menjadi...