NEWS, ruber.id – Peringatan Hari Wayang Nasional 2026, menjadi momentum penting bagi para pegiat seni tradisi untuk memperkuat eksistensi dan keberlanjutan seni pewayangan.
Melalui gelaran bertajuk Pasamoan Karya Fest, Komite Budaya Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya bersama Forum Dalang & Wiyaga Tasikmalaya Raya menghadirkan perhelatan seni budaya yang memadukan kreativitas, kolaborasi, serta regenerasi dalang.
Mengusung semangat Gentra Loka Vol. 10, kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (7/11/2026), di Area Gedung Creative Center, Dadaha, Kota Tasikmalaya ini menghadirkan pertunjukan Rampak 14 Dalang serta Gempungan Dalang Wiyaga se-Tasikmalaya Raya.
Pasamoan Karya Fest satukan dalang lintas generasi di momen Hari Wayang Nasional
Pasamoan Karya Fest, tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni. Tetapi juga, menjadi ajang pertemuan para pelaku seni pewayangan dari berbagai generasi.
Sejumlah tokoh, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Chandra Negara, Opick Sunandar Sunarya dari Mekar Arum 2 Giri Harja.
Kemudian, Andri Candiaman dari Rangga Setra, dan Ridwan Tjahyo Lili A.S dari Putra Giri Kencana Wangi.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian, yakni Pagelaran Rampak Dalang Cilik dan Rampak Dalang Anom.
Kehadiran para dalang muda tersebut, menjadi gambaran tumbuhnya regenerasi dalam dunia pewayangan.
Selain itu, menunjukkan bahwa seni tradisi masih memiliki ruang bagi generasi penerus untuk berkembang dan berkreasi.
Selain pertunjukan pewayangan, Pasamoan Karya Fest juga menghadirkan sejumlah penampilan spesial. Di antaranya, Kembang Arunika, Ruas Katresna, Ambu Midang, Keila Adzani, Ayuri, Tjepi, serta pertunjukan Pencak Silat Gajah Putih.
Ketua Pelaksana Pasamoan Karya Fest, Cevi Whiesa Manunggaling Hurip, menyampaikan, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang silaturahmi, kolaborasi, dan konsolidasi bagi para dalang, wiyaga, serta seluruh elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan seni pewayangan.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan mempertahankan pertunjukan tradisional. Tetapi juga, perlu membuka ruang kreativitas dan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal, mempelajari, serta terlibat langsung dalam ekosistem seni pewayangan.
“Kami berharap, Pasamoan Karya Fest juga mampu memperkuat solidaritas antarpelaku seni di wilayah Tasikmalaya Raya,” ucap Cevi.
Melalui pertemuan lintas generasi, pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam seni wayang dapat terus diwariskan.
Lebih dari sekadar perayaan, kata Cevi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa seni pewayangan merupakan bagian dari identitas kebudayaan yang harus terus dirawat di tengah perubahan zaman.
“Tantangan pelestarian budaya saat ini, bukan hanya bagaimana mempertahankan tradisi. Melainkan, bagaimana membuatnya tetap relevan, dikenal, dan dicintai oleh generasi masa kini,” kata Cevi.
Melalui Pasamoan Karya Fest, semangat menjaga warisan leluhur diharapkan tidak berhenti pada panggung pertunjukan. Tetapi, tumbuh menjadi gerakan kebudayaan yang berkelanjutan di Kota Tasikmalaya dan sekitarnya.***






