NEWS, ruber.id – Lingkung Seni Dewa Motekar asal Kota Tasikmalaya membawa seni tradisional Jawa Barat ke panggung Bali International Rhytme Competition 2026.
Ajang seni tersebut, berlangsung pada 27 September hingga 1 Oktober 2026 di Kabupaten Badung, Bali.
Keikutsertaan Dewa Motekar, menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan seni budaya Sunda.
Selain itu, menjaga keberlangsungan seni tradisional Jawa Barat di tengah perhelatan yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara.
Dalam penampilannya, Dewa Motekar membawakan dua karya tari. Yakni, Tari Rampak Kenturng Wanoja dan Tari Gaplek yang merupakan salah satu tari rakyat khas Jawa Barat.
Kedua karya tersebut, dipilih untuk merepresentasikan identitas budaya Jawa Barat dan memperkenalkan karakter seni Sunda kepada para peserta dan penonton yang hadir dalam ajang internasional tersebut.
Dewa Motekar Tasikmalaya bawa tari tradisional Jabar ke ajang internasional di Bali
Pimpinan Lingkung Seni Dewa Motekar, Chris Novika Supardi atau yang akrab disapa Kang Nono, mengatakan, keikutsertaan kelompoknya bukan hanya ditujukan untuk mengikuti kompetisi.
Menurutnya, kesempatan tampil di Bali juga menjadi ruang untuk membawa nama Kota Tasikmalaya.
Selain itu, memperkenalkan seni tradisional Jawa Barat kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kami membawa dua garapan, yaitu Tari Rampak Kenturng Wanoja dan Tari Gaplek. Bagi kami, tampil dalam kegiatan internasional seperti ini bukan hanya persoalan kompetisi, tetapi bagaimana seni tradisi Jawa Barat bisa dikenal oleh masyarakat yang lebih luas,” ujar Nono.
Nono menyebutkan, Dewa Motekar mengikutsertakan tujuh penari dan satu pendamping dalam kegiatan tersebut.
Mereka tampil membawa karya yang dianggap memiliki nilai penting sebagai bagian dari identitas budaya Jawa Barat.
Menariknya, keberangkatan rombongan Dewa Motekar ke Bali dilakukan menggunakan biaya pribadi.
Langkah tersebut, kata Nono, menjadi bentuk komitmen para pengelola dan anggota kelompok untuk tetap berkarya serta memberikan pengalaman kepada generasi muda.
“Kami berangkat dengan biaya pribadi. Ini merupakan bentuk kecintaan kami terhadap seni dan budaya.”
“Kami ingin anak-anak dan para penari memiliki pengalaman tampil di luar daerah, bertemu dengan kelompok seni lain, serta belajar dari keberagaman budaya yang ada,” katanya.
Bali International Rhytme Competition 2026 diikuti peserta dari berbagai wilayah dan negara. Di antaranya berasal dari Bali, Polandia, Italia, Filipina, India, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Menurut Nono, keberagaman peserta menjadi pengalaman tersendiri bagi para penari Dewa Motekar.
Mereka, tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan karya. Tetapi juga, dapat mengenal karakter seni dan budaya yang dibawa kelompok lain.
Pertemuan tersebut dinilai penting bagi para pelaku seni, terutama generasi muda. Karena, dapat membuka wawasan dan menumbuhkan kepercayaan diri untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang seni tradisional.
Jadi motivasi untuk terus merawat seni tradisi
Nono berharap, keikutsertaan Dewa Motekar dalam ajang tersebut dapat menjadi pemicu semangat untuk terus merawat dan mengembangkan seni tari tradisional Jawa Barat.
“Harapan kami, seni tradisional tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga terus hidup dan berkembang.”
“Generasi muda harus diberikan kesempatan untuk mengenal, mempelajari, kemudian mengembangkan seni budaya yang menjadi warisan,” tuturnya.
Ia juga berharap dukungan terhadap kelompok-kelompok seni di daerah dapat semakin diperkuat.
Dengan demikian, para pelaku seni memiliki kesempatan yang lebih luas untuk tampil dan memperkenalkan karya mereka. Baik di tingkat nasional, maupun internasional.
Keikutsertaan Lingkung Seni Dewa Motekar dalam Bali International Rhytme Competition 2026 menjadi salah satu langkah kelompok seni asal Kota Tasikmalaya tersebut dalam membawa identitas budaya Jawa Barat ke ruang pertunjukan yang lebih luas.
Selain itu, menjadi upaya menjaga agar seni tradisional tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.***






