PANGAUBAN Jilid 1 Digelar di Tasikmalaya, Angkat Warisan Seni Sunda Karya Mang Koko

PANGAUBAN Jilid 1 Digelar di Tasikmalaya
Foto: Andy Kusmayadi/ruber.id

NEWS, ruber.id – Semangat melestarikan seni tradisi Sunda kembali digaungkan para pelaku budaya di Kota Tasikmalaya melalui pagelaran bertajuk PANGAUBAN Jilid 1.

Kegiatan ini, menjadi wadah apresiasi terhadap seni sekar Sunda dan Kecapi Kawih Wanda Anyar. Sebuah gaya permainan kecapi khas yang dipopulerkan maestro karawitan Sunda, almarhum Koko Koswara atau Mang Koko.

Pagelaran tersebut, berlangsung di Gedung Creative Center (GCC) Kompleks Dadaha, Kota Tasikmalaya, pada Rabu, 20 Mei 2026, mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.

Mang Koko, dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni karawitan Sunda.

Berbagai karya kawih ciptaannya, hingga kini masih kerap dibawakan para seniman tradisional. Tidak hanya di Jawa Barat, tetapi juga di berbagai panggung seni internasional.

Baca juga:  Bingung Weekend Mau ke Mana? Yuk ke Citiis Tasikmalaya

Melalui kegiatan ini, para pegiat seni berharap warisan karya Mang Koko tetap lestari dan semakin dikenal oleh generasi muda.

Acara “PANGAUBAN” Jilid 1 terselenggara melalui kolaborasi sejumlah komunitas dan kelompok seni di Tasikmalaya.

Di antaranya, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya melalui Komite Musik Tradisi, Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS).

Kemudian, Gentra Wiwitan, Gentra Mustika, Padepokan Rangga Setra, Sanggar Panghegar, Sanggar Gending Gandari.

Selanjutnya, dari Padepokan Sabda Pangrumat, RL Studio, Kendangers Tasikmalaya, hingga SMK Seni Budaya Tasikmalaya.

Dalam pertunjukan, para penonton disuguhkan sejumlah lagu legendaris karya Mang Koko.

Seperti Angin Priangan, Hariring Nu Kungsi Nyanding, Malati di Gunung Guntur, Imut Malati, Salam Manis, serta Longkewang.

Baca juga:  Percepat Penanganan Covid-19, bank bjb Dukung Gebyar Vaksin Jabar Juara 2021

PANGAUBAN Jilid 1, jadi ruang silaturahni seniman di Tasikmalaya

Ketua pelaksana kegiatan, Trisna Nugraha mengatakan, “PANGAUBAN” menjadi ruang silaturahmi bagi para seniman.

Selain itu, bentuk penghormatan terhadap para maestro Sunda yang telah berjasa besar dalam perkembangan seni karawitan.

“Kegiatan ini, menjadi upaya nyata untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat. Terutama kalangan muda, terhadap warisan seni budaya Sunda agar tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi,” jelas Trisna. ***