NEWS, ruber.id – Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Cabang Tasikmalaya sukses menyelenggarakan Studium Generale bertema “Kearifan Budaya Lokal” di Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya, Jumat (19/12/2025).
Kegiatan ini, menjadi bagian dari upaya Damas Tasikmalaya dalam membekali calon anggota dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai kesundaan dan identitas budaya lokal.
Studium Generale tersebut, dirancang tidak hanya untuk menumbuhkan semangat berorganisasi. Tetapi juga, memperkuat wawasan kebudayaan sebagai fondasi pembentukan karakter mahasiswa di tengah derasnya arus modernisasi.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Perjuangan Tasikmalaya, Geri Syahril Sidik.
Dalam sambutannya, pihak rektorat menyampaikan apresiasi atas inisiatif Damas Tasikmalaya yang menghadirkan diskursus kebudayaan ke lingkungan akademik.
Menurutnya, kegiatan semacam ini penting sebagai upaya membentengi jati diri generasi muda agar tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal tanpa menutup diri dari perkembangan zaman.
Hadir sebagai narasumber, Dian Hendrayana, akademisi Sastra Sunda dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Dalam pemaparannya, ia mengulas konsep Gapura Panca Waluya yang dipahami bukan sekadar sebagai bangunan fisik. Melainkan, simbol filosofis tentang kemuliaan hidup masyarakat Sunda.
Sebagai anggota Korps Alumni Damas Bandung, Dian menekankan, pentingnya memahami akar budaya sebagai pedoman etika dan spiritualitas bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik maupun sosial.
Sementara itu, narasumber lainnya, Enan Suherlan memberikan perspektif dari sisi legal-formal.
Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya sekaligus alumni Damas Angkatan 25 ini mengupas regulasi terkait pemajuan kebudayaan.
Mulai dari Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan hingga Peraturan Daerah Kebudayaan Kota Tasikmalaya.
Ia menjelaskan, keberadaan regulasi tersebut menjadi landasan penting dalam melindungi serta mengembangkan ekosistem seni dan budaya di daerah.
“Mahasiswa bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga harus melek regulasi agar gerakan kebudayaan memiliki payung hukum yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang berlangsung dinamis.
Antusiasme peserta, terlihat dari berbagai pertanyaan dan tanggapan yang muncul.
Hal itu menandakan, tingginya minat mahasiswa Universitas Perjuangan Tasikmalaya untuk mengenal dan memperdalam identitas budaya mereka sendiri. ***






