Korban Perilaku Menyimpang di Pangandaran Enggan Lapor, Ini Alasannya

KASI Perlindungan Anak di Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Kabupaten Pangandaran Teti Suhaeti. smf/ruber.id

PANGANDARAN, ruber.id — Korban perilaku menyimpang yang terjadi kepada anak di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat enggan melapor.

Alasannya, pihak keluarga korban takut dan malu atas kejadian yang menimpa anak mereka.

BACA JUGA: Terjadi Kekerasan Anak di Pangandaran, Legislator Minta Perlindungan Anak Dimaksimalkan

Kasi Perlindungan Anak di Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Kabupaten Pangandaran Teti Suhaeti mengatakan, sebetulnya pada tahun 2019 sering terjadi perilaku menyimpang terhadap anak di bawah umur.

Namun, kata Teti, keluarga korban enggan untuk melapor karena alasan malu dan takut.

Baca juga:  Kasus Kekerasan dan Pelecehan pada Anak di Pangandaran Naik

“Tahapan teknis jika terjadi perilaku menyimpang pada anak, korban seharusnya melapor ke desa dan kecamatan melalui bidang P2TP2A,” kata Teti kepada ruber.id, Jumat (18/10/2019).

Selain itu, kata Teti, laporan bisa dilakukan ke polsek setempat juga ke bagian PPPA di polres setempat.

“Setelah laporan dilakukan ke pihak berwajib, maka akan dilanjutkan ke tahapan proses hukum kepada tersangka,” tambah Teti.

Teti menjelaskan, untuk anak korban perilaku menyimpang maka akan ada penanganan truma healing dalam rangka pemulihan psikologi anak.

“Penanganan trauma healing kepada anak korban perilaku menyimpang biasanya ditangani oleh pemerintah provinsi,” ucap Teti.

Penanganan trauma healing, kata Teti, biasanya dilakukan setelah ada laporan adanya korban.

Baca juga:  Target Bupati Jeje di Tahun 2021, Bangunan Pondok Pesantren di Pangandaran Bakal Kokoh dan Megah

Teti menambahkan, jika ada korban tetapi tidak melapor maka penanganan trauma healing tidak bisa dilakukan.

Teti menjelaskan, penanganan trauma healing sangat penting bagi anak korban karena jika tidak ditangani maka akan berdampak negatif.

“Biasanya anak korban itu menyimpan dendam kalau tidak ditangani dengan trauma healing,” terang Teti.

Teti menyebutkan, data penanganan kasus perilaku menyimpang kepada anak terakhir dilakukan pada tahun 2017.

Rinciannya, lanjut Teti, ada 3 kejadian di 3 lokasi berbeda yaitu di Kecamatan Cimerak 12 anak, Kecamatan Sidamulih 11 anak, dan Kecamatan Padaherang 1 anak.

“Dari tiga kasus yang terjadi dan tiga lokasi berbeda tersebut, yang melakukan trauma healing hanya di dua lokasi yaitu di Kecamatan Cimerak, dan Kecamatan Sidamulih,” ujar Teti. smf