Damas Dorong Pembaruan Gerakan Pemuda Sunda, Fokus pada Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi

Damas Dorong Pembaruan Gerakan Pemuda Sunda
Peserta simposium pemuda Sunda 2026 berfoto bersama di Bale Rumawat, Universitas Padjajaran Bandung. Ist/ruber.id

NEWS, ruber.id – Daya Mahasiswa Sunda (Damas) mendorong pembaruan gerakan pemuda Sunda melalui penguatan pendidikan, kemandirian ekonomi, dan pelestarian budaya.

Upaya tersebut, menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Simposium Pemuda Sunda 2026 di Bale Rumawat, Universitas Padjadjaran (Unpad), Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Minggu (18/10/2026).

Simposium yang berlangsung pukul 08.00 hingga 15.00 WIB itu, merupakan bagian dari rangkaian Milangkala ke-70 DAMAS.

Kegiatan ini, menjadi ruang refleksi bagi generasi muda dalam memperkuat peran dan kontribusinya menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Damas dirong pembaruan gerakan pemuda Sunda

Mengangkat tema “Rejuvansi Ki Sunda: Rekonstruksi Pendidikan, Industri Kreatif, Nilai Budaya jeung Kamandirian Ekonomi Pamuda Jawa Barat”. Forum tersebut, menjadi wadah pertukaran gagasan untuk merumuskan arah gerakan pemuda Sunda agar lebih adaptif dalam menghadapi tantangan zaman.

Sekitar 170 peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat mengikuti kegiatan tersebut.

Baca juga:  Ide Bisnis dan Tips Sukses Merintis Usaha di Cirebon

Simposium juga, menghadirkan Sekretaris Daerah Jawa Barat, kalangan akademisi, unsur birokrasi, aktivis, serta pemerhati sosial sebagai narasumber.

Partisipasi masyarakat, diperluas melalui siaran langsung di YouTube dan Zoom Meeting.

Ketua Umum Damas, Abdillah Darmabuana, menegaskan bahwa pembangunan kepemudaan tidak boleh hanya berfokus pada regenerasi organisasi.

Lebih dari itu, pengembangan potensi anak muda harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan daerah dan persiapan masa depan bangsa.

Menurutnya, generasi muda perlu mendapatkan kesempatan dan dukungan yang memadai agar mampu mengambil peran strategis dalam berbagai sektor pembangunan.

“Pemuda tidak cukup hanya dipersiapkan untuk menjadi penerus. Mereka harus diberikan kesempatan, akses, kapasitas, dan ruang yang memadai agar mampu menjadi pelaku utama pembangunan.”

“Oleh karena itu, kita perlu melihat kembali apakah sistem pendidikan, kesempatan kerja, pengembangan ekonomi, dan kebijakan kebudayaan hari ini benar-benar telah menjawab kebutuhan generasi muda,” ujarnya.

Baca juga:  Kejari Depok Komitmen Bangun Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM

Milangkala ke-70 jadi titik awal pembaruan Damas

Memasuki usia ke-70, DAMAS menjadikan perjalanan panjang organisasinya sebagai momentum untuk mengevaluasi kiprah sekaligus memperkuat arah perjuangan ke depan.

Abdillah menilai, keberhasilan sebuah organisasi tidak cukup diukur dari usia dan keberlangsungannya. Tetapi juga, dari sejauh mana organisasi tersebut mampu memberikan manfaat serta menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Karena itu, semangat rejuvenasi atau pembaruan perlu diwujudkan melalui penguatan nilai perjuangan, penyegaran pola pikir, peningkatan kapasitas kader, serta perluasan kontribusi organisasi bagi masyarakat Sunda.

Ia juga menekankan pentingnya menempatkan nilai-nilai kesundaan sebagai kekuatan untuk berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Identitas budaya daerah, harus menjadi landasan untuk membangun masyarakat yang terbuka, menjunjung gotong royong, dan mengutamakan kepentingan bersama.

“Bagi kami, rejuvenasi bukan sekadar mengganti generasi atau memperbarui program. Rejuvenasi adalah keberanian untuk mengevaluasi diri, memperbaiki cara kerja, dan memastikan bahwa perjuangan organisasi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Baca juga:  Tim SAR Temukan Warga Cianjur Hanyut di Sungai Citarum

Cetak Generasi Sunda yang berdaya saing

Melalui simposium tersebut, Damas berharap lahir gagasan dan langkah konkret untuk membangun generasi muda Sunda yang tidak hanya memiliki pemahaman kuat terhadap akar budayanya. Tetapi juga unggul dalam pendidikan, kreatif dalam berkarya, serta mandiri secara ekonomi.

Penguatan kapasitas intelektual dan ekonomi dinilai penting agar pemuda Sunda mampu menghadapi persaingan. Selain itu, mengambil bagian dalam perkembangan di tingkat nasional maupun global.

Abdillah menegaskan, pembaruan gerakan kepemudaan harus mampu menjembatani nilai-nilai budaya dengan kebutuhan masa kini.

Dengan demikian, pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan kemajuan pendidikan, pertumbuhan industri kreatif, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kita ingin melahirkan generasi Sunda yang berakar pada kebudayaannya, memiliki kualitas intelektual, mandiri secara ekonomi, serta mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat nasional maupun global,” ucapnya.***