Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede Sumedang Makan 4 Korban Jiwa

  • Bagikan
Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede Sumedang
Penari tari umbul kolosal di Waduk Jatigede, Sumedang kesurupan hingga pingsan. R003/ruber.id

BERITA SUMEDANG, ruber.idPaskaevent Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Beredar sejumlah informasi hoaks.

Satu di antara yang paling meresahkan yaitu ulah oknum penyebar hoaks. Yang menyatakan bahwa ada 4 korban tewas paskagelaran tari umbul tersebut.

Dalam kabar hoaks yang menyebar melalui broadcast WhatsApp dan media sosial lainnya tersebut. Ada 4 korban, 3 penari dan 1 wartawan.

Sekda Sumedang Herman Suryatman menyebutkan, Pemkab Sumedang sangat menyesalkan adanya hoaks yang oknum tidak bertanggungjawab sebar.

Pihaknya, kata Herman, sangat menyesalkan adanya hoaks yang oknum tidak bertanggungjawab sebar ini. Di mana, menyatakan ada penari asal Tanjungsari meninggal dunia.

Dalam informasi hoaks yang tersebar itu, kata Herman, penyebar hoaks juga membumbuinya dengan sejumlah foto.

Termasuk, foto dirinya yang tengah takziah di kediaman almarhum Ade Boxer. Wartawan media lokal di Sumedang yang meninggal dunia. Sepulang dari Waduk Jatigede.

Foto itu, kata Herman, saat ia takziah ke rumah duka almarhum Ade Sutarya. Yang meninggal dunia di Tomo setelah pulang dari Jatigede.

Herman juga memastikan, seluruh penari yang menjadi peserta Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede tidak ada yang meninggal dunia.

“Semua penari pulang ke rumah masing-masing dengan selamat.”

“Memang, ada 78 penari yang kami tangani di posko kesehatan dengan keluhan pusing dan lemes. Ada juga beberapa yang pingsan,” ucap Herman.

Herman menjelaskan, dari laporan yang ia terima dari Kepala Dinas Kesehatan Dadang Sulaeman, 78 penari yang pingsan akibat kelelahan. Kekurangan asupan makanan atau hypoglikemi, dan kekurangan asupan cairan atau dehidrasi.

Herman berharap, kepada warga agar berhati-hati dalam menyimak media sosial dan broadcast dari WhatsApp.

Herman menambahkan, pastikan terlebih dahulu informasi yang ada itu akurat dan sumbernya akuntabel.

“Jangan sampai terpancing ikut menyebarkan kabar hoaks atau tidak benar,” tegas Herman.

Penulis/Editor: R003

  • Bagikan