17.4 C
Indonesia
Minggu, September 19, 2021
spot_img

Pasar Banjarsari Ciamis Mirip Kolam Ikan, Ini Kata Pengamat

CIAMIS, ruber — Intensitas hujan yang cukup tinggi beberapa hari terakhir di Kabupaten Ciamis mengakibatkan ruas jalan di Pasar Banjarsari Kecamatan Banjarsari tergenang.

Kondisi ini, membuat kenyamanan warga beraktivitas di pasar tersebut terganggu.

BACA JUGA: Sering Macet, Dishub Ciamis Berlakukan Satu Arah di Jalan Rumah Sakit

Pedagang ikan di Pasar Banjasari, Khoiri, 46, mengeluhkan kondisi ini. Menurutnya, kondisi ini menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat, sehingga berimbas pada turunnya pendapatan pedagang.

“Warga enggan melewati jalan menuju lokasi para pedagang, karena tak ingin kotor dan terkena air cileuncang,” katanya, Sabtu (17/1/2019).

Menurut Khoiri, kondisi jalan memang buruk dan dipenuhi lubang.

“Jadi, sudah biasa tergenang kalau hujan turun. Malah, kalau hujan lebat, jalan itu mirip kumpulan kolam ikan,” sebutnya.

Kondisi jalan tersebut, sambung Khoiri, sebenarnya tak hanya dikeluhkan para pedagang, tetapi juga oleh para pembeli.

“Padahal, sudah beberapa kali terjadi kecelakaan di area jalan itu. Memang tidak parah, hanya motor terguling, atau pedagang yang terpeleset, tetapi kan tetap menganggu kenyamanan. Entah sampai kapan jalan masuk menuju pedagang ini mau diperbaiki,” katanya.

Menanggapi hal ini, Pengamat Ekonomi asal Universitas Padjadjaran Domy Sokara mengatakan, pasar tradisional sebenarnya banyak memberikan keuntungan melalui sistem retribusi dari para pedagang.

“Faktanya, pasar mampu berkontribusi sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah,” katanya ketika dihubungi ruber, Sabtu (19/1/2019).

Selain itu, sebut Domy, pasar tradisional juga merupakan sentra tumbuh kembang bagi usaha mikro kecil maupun menengah (UMKM).

“Pasar tradisional adalah tempat bagi pedagang kaki lima, pedagang eceran, hingga penjual yang bermodal dan beromset kecil,” ucapnya.

Sehingga, kata Domy, merupakan hal penting untuk menjaga dan merawat pasar tradisional.

“Di antaranya dengan memperhatikan fasilitasnya, termasuk akses jalan yang mumpuni,” ungkap Domy.

Pasar tradisional, kata Domy, memang terkesan semerawut. Tetapi, sebenarnya, di situlah terjadi interaksi langsung masyarakat. Sebagai akibat dari proses tawar menawar saat bertransaksi.

“Maka, bisa dikatakan bahwa pasar tradisional merupakan ruang publik yang bebas, dan memiliki kearifan lokal yang tidak dipunyai pasar modern. Seyogianya pemerintah daerah memperhatikannya,” ucapnya. eta

loading…


BACA JUGA:  Delapan Kecamatan di Ciamis Dilanda Krisis Air Bersih

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles