NEWS, ruber.id – Legenda Situ Gede Tasikmalaya, kembali dihidupkan melalui seni pertunjukan dalam Festival Kreasi Pagelaran Seni Jawa Barat.
Pertunjukan yang digelar di Teater Tertutup Taman Budaya Bandung tersebut mengangkat kisah Eyang Prabudilaya yang sarat dengan nilai budaya, konflik, dan tragedi.
Cerita legenda Situ Gede Tasikmalaya dalam Festival Kreasi Pagelaran Seni Jawa Barat
Pementasan, membawa penonton mengikuti perjalanan Prabudilaya. Seorang raja muda dari Sumedang yang melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu hingga ke Mataram dan Tatar Sukapura.
Namun, perjalanan yang awalnya menjadi bagian dari pencarian ilmu itu berkembang menjadi kisah penuh persoalan.
Itu terjadi ketika Prabudilaya, semakin larut dalam proses menuntut ilmu hingga mengabaikan kehidupan rumah tangganya.
Situasi tersebut, kemudian memunculkan kekecewaan, prasangka, hingga keputusan yang berujung pada tragedi.
Prabudilaya akhirnya menghilang tanpa kabar, membuat keberadaan pewaris takhta tersebut menjadi misteri.
Sang ibu, kemudian berusaha mencari jejak putranya. Pencarian itu membawanya ke sebuah rawa tersembunyi.
Di lokasi tersebut, ia melihat cahaya yang berasal dari sebuah gundukan tanah.
Penemuan itu, akhirnya membuka tabir mengenai keberadaan Prabudilaya. Tangis dan doa sang ibu mengiringi peristiwa tersebut.
Dalam legenda yang berkembang di tengah masyarakat, air rawa kemudian semakin tinggi hingga menyisakan makam Prabudilaya yang berada di sebuah pulau.
Kisah itulah, yang dipercaya menjadi salah satu cerita asal-usul terbentuknya Situ Gede di Tasikmalaya.
Kenalkan kembali kekayaan cerita rakyat Jawa Barat melalui medium seni pertunjukan
Sutradara pertunjukan, Momon Suanda Geni atau yang akrab disapa Kang Momon, mengatakan pengangkatan legenda tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan cerita rakyat Jawa Barat melalui medium seni pertunjukan.
Menurutnya, kisah Prabudilaya tidak sekadar menghadirkan cerita legenda.
Tetapi juga, menggambarkan berbagai persoalan kehidupan manusia. Seperti perjalanan mencari ilmu, hubungan rumah tangga, prasangka, serta konsekuensi dari sebuah keputusan.
“Melalui pertunjukan ini, kami ingin membawa kembali cerita yang tumbuh di masyarakat ke atas panggung dengan pendekatan seni pertunjukan. Sehingga, nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya dapat kembali dikenal oleh generasi sekarang,” ujar Kang Momon kepada ruber.id, Sabtu (22/8/2026).
Pementasan dikemas dengan memadukan drama, tari, musik tradisional, serta tata artistik yang mendukung jalannya cerita.
Seniman yang terlibat pementasan
Sakinatun Nisa dipercaya sebagai koreografer, Handhika bertugas sebagai penata gending, sedangkan Shofia Nabila Darmawan menangani tata kostum.
Sejumlah seniman dan pemeran muda turut ambil bagian dalam menghidupkan tokoh-tokoh dalam legenda tersebut.
Iwan Kevin, memerankan Prabu Dilaya. Sementara, Shofia Nabila Darmawan tampil sebagai ibu Prabu Dilaya.
Sakinatun Nisa memerankan Dewi Kondang Hala dan Lilia Yulstiani sebagai Cahya Karembong.
Sementara itu, Arif Saefudin dan Dadang masing-masing tampil sebagai Guru Prabu Dilaya 1 dan Guru Prabu Dilaya 2.
Tokoh Emban 1 diperankan Nisa, sedangkan Emban 2 dimainkan Natalia Indah.
Adapun karakter para bidadari diperankan Shaqiva, Tiara, Risvi, Noviana, Sawiti, dan Intan yang masing-masing tampil sebagai Bidadari 1 hingga Bidadari 6.
Kang Momon menilai, cerita lokal seperti legenda Situ Gede memiliki kekuatan tersendiri.
Hal itu, karena tidak hanya menyimpan kisah masa lalu. Tetapi juga, mengandung nilai budaya yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Oleh karena itu, seni pertunjukan dinilai menjadi salah satu medium efektif untuk menjaga cerita rakyat agar tidak terputus dari akar budaya masyarakat.
“Cerita rakyat bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga perlu terus dihidupkan melalui berbagai bentuk kreativitas.”
“Panggung seni menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan cerita Jawa Barat kepada masyarakat. Khususnya, generasi muda,” katanya.
Melalui pementasan tersebut, Festival Kreasi Pagelaran Seni Jawa Barat tidak hanya menghadirkan hiburan bagi penonton.
Kegiatan itu, sekaligus menjadi ruang pelestarian budaya dengan mengemas legenda Situ Gede melalui perpaduan cerita, gerak, musik, dan visual.
Dengan pendekatan tersebut, kisah Prabudilaya kembali mendapatkan ruang di tengah perkembangan zaman.
Selain itu, memperkenalkan kekayaan tradisi tutur Jawa Barat kepada generasi masa kini.***






