Wayang di Indonesia dan Sejarahnya

Sejarah Wayang di Indonesia
Foto seni pertunjukkan wayang golek dari screenshoot video YouTube.

KOPI PAGI, ruber.id – Sejarah wayang di Indonesia. Saat ini, negara kita sedang mengalami polemik larangan pertunjukkan wayang, dari sekelompok orang dengan kepercayaan tersendiri.

Larangan ini terlihat dari spanduk-spanduk yang terpasang di beberapa ruas jalan di Jakarta.

Namun beberapa pihak juga sangat menyesalkan larangan tersebut dan hal ini menjadi perdebatan yang cukup ramai.

Sejarah Wayang di Indonesia

Dari perspektif sejarah, tentunya larangan ini sangat disayangkan.

Hal ini mengingat, wayang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia.

Wayang, merupakan karya sastra dan kebudayaan asli dari Indonesia yang paling tua, dan diperkirakan sudah ada sejak 1500 tahun sebelum Masehi.

Seni pertunjukkan wayang sendiri lahir dari para cendikia nenek moyang suku Jawa, di masa silam.

Baca juga:  Cerita Kakek Tua Sebatang Kara, Tinggal Digubuk Reyot, Tak Lagi Dapat Bantuan Raskin dan Bertahan Hidup Jadi Buruh Angkut Sampah di Pangandaran

Di mana pada masa itu, wayang diperkirakan hanya terbuat dari rerumputan yang diikat.

Sehingga, bentuknya masih sangat sederhana.

Wayang dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang, dan dalam upacara-upacara adat Jawa.

Pada periode selanjutnya, penggunaan bahan-bahan lain seperti kulit binatang buruan atau kulit kayu mulai dikenal dalam pembuatan wayang.

Adapun wayang kulit tertua yang pernah ditemukan diperkirakan berasal dari abad ke-2 Masehi.

Catatan sejarah pertama tentang adanya pertunjukkan wayang ini, mengacu pada sebuah prasasti yang bisa dilacak berasal dari tahun 930.

Dalam sejarah menyebutkan, adanya sosok Galigi mawayang.

Saat itulah dan sampai sekarang, beberapa fitur teater boneka tradisional tetap ada.

Baca juga:  Sejarah Panjang Bus Medal Sekarwangi, Tetap Eksis di Tengah Badai Krisis

Galigi sendiri merupakan seorang penampil yang sering diminta untuk menggelar pertunjukkan, ketika ada acara atau upacara penting.

Pada saat itu, ia biasanya membawakan sebuah cerita tentang Bima, seorang ksatria dari kisah Mahabharata.

Penampilan yang dibawakan oleh Galigi tercatat dalam Kakawin Arjunawiwaha yang dibuat oleh Mpu Kanwa pada tahun 1035.

Dan mendiskripsikannya sebagai seorang yang cepat, dan hanya berjarak satu wayang dari Jagatkarana.

Kata Jagatkarana, merupakan sebuah ungkapan untuk membandingkan kehidupan nyata kita dengan dunia perwayangan.

Di mana, Jagatkarana yang berarti penggerak dunia atau dalang terbesar hanyalah berjarak satu layar dari kita.

Perkembangan Wayang