Thursday, 2 Apr 2020

Ridwan Saidi: Nama Ciamis Lebih Tua dari Galuh, Tokoh Kawali: Ucapannya Menyakiti Kami

Baca Juga

Keren! Perajin Batik Kodja Pangandaran Ciptakan Batik Motif Marlin

Keren! Perajin Batik Kodja Pangandaran Ciptakan Batik Motif Marlin PANGANDARAN, ruber.id -- Batik yang merupakan salah satu ciri khas nusantara kini mulai diproduksi di berbagai...

Xiaomi Rilis Redmi Note 8 Pro, Ini Fungsi Empat Kameranya

Xiaomi Rilis Redmi Note 8 Pro, Ini Fungsi Empat Kameranya ruber.id  -- Hari ini, Xiaomi resmi meluncurkan ponsel seri terbarunya Redmi Note 8 Pro. Ponsel ini...

Soal Tabloid Indonesia Barokah, Dewan Pers Sebut Bukan Produk Jurnalistik

JAKARTA, ruber -- Setelah melakukan kajian, Dewan Pers menyimpulkan bahwa Tabloid Indonesia Barokah bukan merupakan produk jurnalistik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun...

Belum Kantongi Izin, Penerimaan Pajak Parkir Stasiun Kereta Api Kota Banjar Nol Rupiah

BANJAR, ruber - Pajak parkir khusus di lokasi milik swasta dan BUMN belum terserap optimal ke kas daerah Kota Banjar. Pemicunya, karena rata-rata lokasi...

KAWALI, ruber.id – Ucapan yang dilontarkan Ridwan Saidi menyakiti hati seluruh elemen di Ciamis, Jawa Barat.

Dalam kesempatan wawancara wartawan Ciamis dengan Ridwan Saidi, tokoh asal Betawi ini juga menyatakan bahwa mama Ciamis lebih tua dari nama Galuh.

Nama Ciamis, kata Ridwan Saidi, sudah ada sejak 3.000 tahun lalu. Nama Galuh sendiri, muncul kemudian setelah nama Ciamis.

Nama Ciamis, kata Saidi, dibawa etnis Astronesia, diketahui garis peradaban dari Australia sampai  Taiwan.

Di mana, asal mula katanya yaitu Amis hingga akhirnya namanya menjadi Ciamis

“Kalau nama Galuh itu munculnya baru. Jadi, lebih lama itu Ciamis, sudah ada sejak 3.000 tahun lalu,” ucap Saidi.

Ridwan Saidi menyatakan, apa yang disampaikannya ini tak lain sebagai upaya menjaga kebenaran sejarah.

“Sejarah yang ada sekarang salah, karena itu, perlu membangun Indonesia itu dari sejarah dan menjaga persatuan Indonesia juga.”

“Karena jelas, keberadaan sejarah Indonesia harus direkonstruksi secara gamblang.”

“Karena ada motonya, kalau ingin merusak bangsa rusaklah sejarahnya, jangan sampai seperti itu,” sebutnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kecamatan Kawali Atus Gusmara  mengatakan masyarakat yang benar-benar mencintai nama Galuh serta karuhun Galuh sangat tersakiti dengan semua pernyataan Saidi.

Sebab, kata Atus, berdasarkan penyelusuranya, setelah Kerajaan Tarumanagara dan Salakanagara dibagi dua menjadi Sunda dan Galuh.

Kedua kerajaan ini, kata Atus, dibatasi oleh Sungai Citarum.

Dari Sungai Citarum itu, beberapa kali berpindah dari mulai di Menir, Sungur, Purwa Galuh, Bojong Galuh hingga ke Kawali.

Bahkan, kata Atus, situs Astana Gede di Kawali sudah ditetapkan menjadi situs cagar budaya.

“Ini artinya, hasil penelitian arkeolog sudah sah. Jadi, semua ucapan Ridwan Saidi itu hanya penyesatan dari sejarah yang sebenarnya,” ujar Atus. (R012/Akrim)

Baca berita sebelumnya: Lawan Kong Ridwan Saidi, Status #GaluhPernahdanAkanTetapAda Viral

Loading...

Komentar

loading...
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Lagi, Dua Pasien Dalam Pengawasan Corona di Garut Meninggal Dunia

GARUT, ruber.id - Dua Pasien Dalam Pengawasan COVID-19 di Kabupaten Garut, Jawa Barat meninggal dunia, Kamis (2/4/2020). Pusat Informasi...

Hujan Deras Terjang Ciamis: Pohon Tumbang di Rumdin Wabup, Longsor dan Petir Menyambar Rumah Warga

CIAMIS, ruber.id - Hujan deras menerjang Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020) sore. Akibatnya, bencana alam terjadi di sejumlah titik wilayah di...

Total Positif Hasil Rapid Test Jadi 11 Orang, Warga Terdampak Corona di Sumedang Dapat Bantuan Sosial

SUMEDANG, ruber.id - Hasil rapid test sebelas warga Kabupaten Sumedang positif COVID-19, Kamis (2/4/2020) jam 16.00 WIB. Bupati Sumedang...

FMKKS Sumedang: Dana BOS Bisa Digunakan untuk Pencegahan Corona

SUMEDANG, ruber.id - Pandemi corona membuat berbagai kegiatan dan penyelenggaraan pendidikan yang bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak dapat dilaksanakan.

Awasi Pemudik dari Zona Merah, 93 Kades di Pangandaran Diminta Laporkan Data Perantau

PANGANDARAN, ruber.id - Derasnya arus mudik dari zona merah COVID-19 dikhawatirkan akan memperluas penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus Corona.