23.4 C
Indonesia
Kamis, September 23, 2021
spot_img

Ridwan Saidi: Bukti Ada Kerajaan di Ciamis Harus Ada Tambang Emas, Batu Rompe itu Pariangan

CIAMIS, ruber.id — Budayawan Betawi Ridwan Saidi secara terang-terangan tetap bersikukuh bahwa nama Kerajaan Galuh tidak ada baik di Ciamis atau di Indonesia.

Ridwan yang kerap disapa Babeh ini mengatakan, harus ada beberapa faktor pendukung yang membuktikan adanya kerajaan di Ciamis.

Salah satunya harus ada tambang emas atau punya pelabuhan komersial strategi.

“Kalau seperti Bogor, Kerajaan Sunda punya tambang emas. Sumedang juga punya, bahkan yang di Sumatera punya tambang emas. Contohnya lagi Majapahit penghasilannya dari Pelabuhan Tuban,” bebernya.

“Kalau dikatakan di Ciamis ada Kerajaan Galuh, toh penghasilanya dari apa, tidak ada faktor pendukungnya. Contohnya di Jogjakarta, abdi dalemnya itu dapat honor, pengeluaranya sampai Rp4 miliar.”

BACA JUGA:  Warga Kawali Tunggu Kong Ridwan Saidi di Ciamis, Siap Ngasih Ongkos
BACA JUGA:  Budayawan Ciamis: Ridwan Saidi Tokoh Betawi yang Bodoh, Menyesatkan Nilai Historis Galuh

Babeh menambahkan, Peradaban Ciamis pantasnya merujuk kepada penemuan Batu Rompe di Kecamatan Lumbung.

Susunan batu itu sampai sekarang tidak ada yang bisa menafsirkan. Padahal Babeh menjelaskan bahwa susunan batu itu merupakan Pariangan yang ada pada abad kelima Masehi.

Batu itu, menurut Babeh, sama seperti yang ada di Karawang dan Sumatera barat. Di Sumatera, sama juga disebut Pariangan dari abad kelima Masehi.

BACA JUGA: Budayawan Ciamis: Ridwan Saidi Tokoh Betawi yang Bodoh, Menyesatkan Nilai Historis Galuh

“Saya ketahui di situ (Sumatera) ada Monumen Stuns. Itu menandakan organisasi persawahan di sana sudah maju, semacam KUD yang cukup gede,” paparnya.  

Babeh pun menyarankan agar yang harus dibesarkan dan diteliti lebih detail adalah penemuan terakhir di Lumbung.

BACA JUGA:  Budayawan Ciamis: Ridwan Saidi Tokoh Betawi yang Bodoh, Menyesatkan Nilai Historis Galuh
BACA JUGA:  Sebut Kerajaan Galuh Tidak Ada, Gubernur Jabar Minta Babeh Saidi Minta Maaf

Pasalnya, itu menandakan bahwa peradaban Ciamis dari pertaniannya sudah maju. Jadi, batu itu sebagai peringatan bahwa pertanian di Ciamis maju dan besar.

“Kalau dikatakan pertanian maju saya percaya. Karena batu rompe itu buktinya,” tuturnya.

Setelah batu rompe, Babeh mengatakan selanjutnya ada batu cikapundung. Jadi, memang ada urutannya.

Babeh juga menegaskan bahwa banyaknya prasasti di Ciamis belum tentu bisa disebut ada kerajaan.

“Toh harus ada penghasilan. Ada tambang emas atau pelabuhan,” katanya. (R004/Akrim)

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles