Nelayan Cina Kembali ke Natuna, Guru Besar UI: Pemerintah Perlu Lakukan Backdoor Diplomacy

KOTA DEPOK, ruber.id — Nelayan Cina dikabarkan kembali memasuki ZEE Indonesia di Natuna Utara.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai, kabar tersebut harus disikapi serius pemerintah Indonesia.

“Pemerintah perlu melakukan backdoor diplomacy,” kata Hikmahanto melalui rilis yang diterima ruber.id, Selasa (14/1/2020).

Hikmahanto menjelaskan, backdoor diploamcy biasanya dilakukan agar hubungan antardua negara yang bersahabat tidak terpapar atas suatu masalah yang sensitif.

Backdoor diplomacy, kata dia, dilakukan jika terjadi kebuntuan dalam diplomasi formal.

Dalam melakukan backdoor diplomacy, pemerintah akan menunjuk tokoh yang dapat mempengaruhi kebijakan yang diambil oleh suatu negara.

Dalam kaitan dengan mulai kembalinya nelayan-nelayan Cina di Natuna Utara, maka backdoor diplomacy yang dilakukan adalah dalam rangka menyampaikan pesan oleh tokoh yang ditunjuk.

Pesan yang disampaikan yaitu, bila nelayan-nelayan Cina terus berdatangan, ini akan membangkitkan sentimen anti-negara Cina dari publik Indonesia.

Bila kemarahan publik tidak dapat dibendung oleh pemerintah, maka kepentingan Cina di Indonesia akan terganggu.

Hal ini mengingat, pemerintah Indonesia akan merespons kehadiran nelayan-nelayan Cina dengan mengambil sejumlah langkah yang keras sesuai tuntutan publiknya.

Langkah ini, kata dia, bisa jadi akan dibalas oleh pemerintah Cina.

Situasi inilah, kata Hikmahanto, yang berpotensi merusak persahabatan Indonesia dan Cina yang selama ini terjalin. (R007/Moris)

Baca berita lainnya: Konflik Indonesia-Cina, Tak Surutkan Tekad Warga Garut Bertahan di Natuna