21.4 C
Indonesia
Selasa, November 30, 2021

Kisah di Balik Batu Kuda di Kaki Gunung Sawal Ciamis, Berani Naik Harus Rela Kesurupan

Batu besar mirip kuda di Kabupaten Ciamis menyimpan mitos. Konon, siapa saja yang naik di batu tersebut akan merasakan sakit kepala dan pusing tiba-tiba. Bahkan ada juga yang kesurupan. Percaya atau tidak?

dadang/CIAMIS

DI sebuah daerah di Kabupaten Ciamis tepatnya di Blok Pasirmalang, Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis atau di Kaki Gunung Sawal, terdapat sebuah batu besar yang menyerupai kuda lengkap dengan tunggangannya atau pelana.

Sebagian warga di tempat ini percaya dengan mitos naik batu akan sakit kepala dan kesurupan.

BACA JUGA: Polisi Ungkap Kronologi dan Identitas Mayat Perempuan di Sungai Ciamis

Bahkan beberapa warga juga sempat melihat batu tersebut bercahaya pada malam-malam tertentu, seperti pada malam Jumat Kliwon.

Pengelola lahan di lokasi Batu Kuda Asep Hidayat mengatakan, pada zaman dulu, lokasi tersebut merupakan tempat menggembala kuda dan kerbau.

Konon juga, menurut cerita, adanya perebutan kekuasaan lahan tersebut. Sampai akhirnya lahan ini dibiarkan begitu saja.

“Memang di sini batu itu disebutnya Batu Kuda, ada pelananya dan pijakannnya. Namun ada mitos yang berkembang kalau seseorang naik, tidak lama setelah turun akan merasa pusing. Tak jarang juga sampai kesurupan. Jadi warga di sini jarang yang berani naik ke batu itu,” ucapnya.

Warga sekitar, kata dia, tidak ada yang berani memindah atau merusak batu tersebut.

Alasannya, khawatir bila dipindah akan terjadi malapetaka di daerahnya. Bahkan, saat malam Jumat, warga sempat melihat batu tersebut terlihat bercahaya.

“Dulu menurut orangtua, di batu ini juga sempat ada ritual dan sesajen, namun seiring waktu sekarang sudah tidak ada lagi,” tuturnya.

Beberapa minggu ke belakang, kata dia, ada tiga anggota klub motor di Ciamis yang kesurupan, saat melaksanakan kegiatan di sekitar lokasi Batu Kuda.

Menurutnya, mitos tersebut boleh percaya atau tidak. Yang jelas, dengan adanya mitos tersebut, batu tersebut tetap berdiri kokoh di atas bukit di Kaki Gunung Sawal.

Penuturan sesepuh, kata dia, batu tersebut menjadi sebuah patok penguat tanah atau penyangga gunung supaya tidak longsor.

“Batu kuda ini diyakini juga sebagai patok penguat, menurut pepatah orangtua dulu, kalau batu ini diambil maka bukit ini bisa saja longsor. Kami ambil hikmahnya dari mitos yang berkembang ini,” terangnya. (*)

loading…


BACA JUGA:  Remaja Ciamis Positif Corona yang Terpapar di Tasikmalaya Sembuh

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles