24.4 C
Indonesia
Selasa, September 21, 2021
spot_img

Belum Sejahtera, Petani Tembakau di Garut Harapkan Irigasi

GARUT, ruber — Industri tembakau merupakan salah satu penyumbang utama bagi kas negara. Bahkan, orang terkaya di Tanah Air ada yang berasal dari kalangan pebisnis tembakau.

Namun demikian, kenyataan itu masih berbanding terbalik dengan kehidupan petani tembakau di sektor hulu. Sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja masih kerepotan, dan masih jauh dari kata sejahtera.

Demikian pula yang dirasakan Mahdar, 46, petani sekaligus pengolah tembakau di kaki Gunung Cikuray, Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut.

Mahdar merasakan beberapa persoalan petani tembakau yang perlu dibantu penyelesaiannya. Misalnya dalam hal budidaya, masalah sulitnya air di musim kemarau, yang masih menjadi kendala utama dalam produktivitas tembakau.

BACA JUGA:  Hasil Panen Padi Capai Target, Ini Tips Dinas Pertanian Pangandaran
BACA JUGA:  Pentingnya Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Corona Menurut Rektor IPB dan Pakar Ekonom UI

“Di musim kemarau seperti sekarang, secara cuaca sebetulnya bagus untuk tembakau. Tapi kita kadang kesulitan air. Kalau kurang air, panen tembakau jadi kurang,” kata Mahdar, saat ditemui di kediamannya, Rabu (26/06/2019).

Harapannya kepada Pemerintah, adalah agar hutan di kaki Gunung Cikuray dapat dijaga dari pembalakan liar. Sebab, menjaga hutan sama dengan menjaga persediaan air dalam tanah.

“Untuk sumber air di gunung itu sebagian didapat dari mata air. Kalau hutan habis dibabat, air jadi kurang,” katanya.

Kemudian, dia juga berharap pemerintah bisa membangun jaringan irigasi yang baik untuk lahan pertanian. Dengan demikian, produktivitas petani tembakau di Garut bisa semakin meningkat.

Persoalan selanjutnya adalah masalah harga tembakau yang dinilainya masih terlalu standar untuk mendapatkan kesejahteraan.

BACA JUGA:  Lada Banjarnegara Tembus Pasar Ekspor
BACA JUGA:  Dari Tubuhnya Keluar Asap, Kronologis Petani Sumedang Tersambar Petir

“Selama ini, petani memang tidak memiliki daya tawar dalam harga, karena masih ditentukan oleh bandar tembakau,” tuturnya.

Selama lima tahun terakhir misalnya, Mahdar hanya merasakan satu kali saja harga tembakau dihargai cukup tinggi sehingga mereka bisa menikmati jerih payah bertani.

“Namun selebihnya, harga tembakau hanya sekedar cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya. fey

Foto: PETANI tembakau Mahdar asal Garut tengah menjemur tembakau untuk kemudian dijual hasilnya pada pengepul. fey/ruang berita

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles