Agar Pembakaran Alquran Tidak Terjadi Berulang

Agar Pembakaran Alquran Tidak Terjadi Berulang
Foto ilustrasi Alquran from Pexels

OPINION, ruber.id – Agar Pembakaran Alquran Tidak Terjadi Berulang. Ratusan umat Islam di Kota Tasikmalaya menggelar unjuk rasa di depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Jumat (27/1/2023) lalu.

Demonstrasi ini, sebagai respons atas aksi politikus rasialis Swedia-Denmark Rasmus Paludan, yang membakar kitab suci Alquran.

Aksi pun diikuti oleh perwakilan dari berbagai ormas Islam, komunitas, santri dan ulama dari sejumlah pondok pesantren di Tasikmalaya.

“Kegiatan ini, sebagai respons kami atas perbuatan keji yang dilakukan Rasmus Paludan, apalagi dia berkali-kali melakukan hal itu,” kata Abu Hazmi, koordinator aksi.

Cermin Islamofobia

Kembali berulang, sebuah aksi pembakaran Alquran. Ini bukti bahwa Islamofobia adalah penyakit sistematis masyarakat Barat yang sekuler.

Islamofobia telah mengurat dan mendarah daging di Eropa dan di belahan negara-negara Barat lainnya.

Fakta, selalu muncul kasus-kasus Islamofobia yang dilakukan oleh kelompok yang terorganisasi.

Bahkan, menjadi bahan kampanye para politisi. Mereka sama sekali tidak ingin duduk bersama agar bisa melihat fakta yang sebenarnya. Benarlah firman Allah SWT dalam QS Ali Imran: 118.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.”

“Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Bukti Kegagalan Kapitalisme Sekuler

Allah SWT telah memperingatkan kebencian kaum kafir kepada kaum Muslim.

Maka, kita sebagai kaum Muslim yang dijanjikan kehidupan lebih baik di akhirat seharusnya lebih kuat dari apa yang mereka persangkakan.

Baca juga:  Isra Mikraj 1445 Hijriah: Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW dan Sejarahnya

Demikian pula, fakta ini menjadi bukti kerusakan masyarakat sekuler dan kegagalan sistem kapitalisme-sekuler menciptakan integrasi atau keharmonisan masyarakat.

Pembakaran Alquran yang sering terjadi juga menunjukkan, bahwa toleransi dalam sistem demokrasi hanyalah omong kosong semata.

Nyatanya, umat Islam tidak memiliki kebebasan dalam menjalankan keyakinannya.

Demokrasi liberal sampai kapan pun tidak akan pernah melindungi keberagamaan umat Islam dalam hal ibadah apalagi penerapan sistemnya, umat Islam akan selalu menjadi bulan-bulanan.

Keberagaman Bukan Persoalan

Padahal, dahulu pada masa Islam masih berkuasa keberagaman agama, suku, dan budaya tidak menjadi persoalan. Karena negara menerapkan aturan yang sangat adil, baik bagi masyarakat Muslim maupun masyarakat non-Muslim.

Mereka mendapatkan hak yang sama serta mendapatkan perlindungan dari negara ketika menjalankan ibadah sesuai ajaran agama mereka.

Toleransi dan saling menghormati terasa sangat kental karena negara menjaminnya, serta dengan penerapan sanksi yang jelas dan adil.

Toleransi yang diatur oleh syariah Islam tersebut telah diterapkan dalam kehidupan nyata kaum Muslim.

Hal itu, bisa dilihat dari berbagai kebijakan Khilafah Islamiyah yang berjalan selama 14 abad.

Sangat banyak ilmuwan dan sejarawan dunia yang menuliskan aspek toleransi dalam kebijakan Khilafah tersebut.

Kebijakan Khilafah Utsmaniyah

Orientalis Inggris, T.W. Arnold misalnya, pernah menuliskan tentang kebijakan Khilafah Ustmaniyah terhadap warganya yang non-Muslim.

T.W Arnold menyatakan, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Arnold pun mencatat bahwa keadilan Khilafah Islamiyah membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan Khilafah dibandingkan dipimpin oleh Kaisar Romawi.

Baca juga:  Menuju Peralihan Pasca-Pandemi, Tradisi Mudik Lebaran 2022 Kembali Dibuka

Padahal, Kaisar Romawi beragama Kristen (Arnold, The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, hlm. 134).

Tindakan Shalahuddin Al Ayyubi

Karen Armstrong juga menceritakan, bahwa ketika pasukan Salib Kristen menaklukkan kota suci Jerusalem pada tahun 1099, mereka membantai penduduknya yang Muslim dan Yahudi.

Puluhan ribu kaum Muslim yang hendak mencari penyelamatan di atap Masjid Al Aqsha dibantai dengan sangat sadis.

Kejamnya pasukan Salib di Jerusalem tersebut, menurut Armstrong, sangat sulit dibayangkan akal sehat (Karen Armstrong, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, 1997, hlm. 3-4).

Tindakan keji pasukan Salib itu sangat berbeda dengan tindakan Shalahuddin al-Ayyubi ketika merebut kembali Jerusalem.

Jerusalem menjadi tempat yang aman bagi kaum Yahudi. Bahkan, saat itu Shalahuddin memanggil kembali banyak orang Yahudi ke Jerusalem dan mengizinkan mereka tinggal di sana dengan aman (Armstrong, hlm. 299).

Armstrong menggambarkan pula harmonisnya hubungan kaum Muslim dengan Yahudi di Spanyol dan Palestina.

Menurutnya, di bawah Islam, kaum Yahudi menikmati zaman keemasan di Andalusia. Justru kaum Yahudi mengalami penindasan ketika Kristen berkuasa.

Seperti pada abad ke-15 telah terjadi peningkatan persekusi anti-semitik di Eropa saat kaum Yahudi diusir dari berbagai kota.

Sebagiannya, mengalami pembantaian secara keji termasuk di Spanyol oleh penguasa Kristen.

Perang Salib yang berkepanjangan telah memberikan inspirasi bagi Barat itu sendiri, bahwa kaum Muslim tidak mungkin dikalahkan secara fisik sebelum mereka dilumpuhkan secara pemikiran.

Baca juga:  Optimalisasi Teknologi Pembelajaran Daring di SDN Kebalen 07

Barat pun melakukan ghazwul-fikri (perang pemikiran) dan membuat berbagai propaganda negatif terhadap Islam. Termasuk, dalam masalah toleransi.

Bukan Sekadar Kecaman

Menyikapi pembakaran Alquran dan penghinaan yang terus berulang terhadap Islam dan kaum Muslimin, kita tentu sangat menyayangkan sikap penguasa saat ini yang hanya sekadar mengecam.

Dalam perkara-perkara ini, seharusnya bukan sekadar kecaman yang dilakukan.

Tetapi, memberikan pelajaran yang keras. Yaitu, bisa dengan memutus hubungan diplomatik karena telah menyinggung perkara yang sangat penting dalam Islam, yaitu Alquran.

Pemutusan hubungan diplomatik secara total, akan memberikan pelajaran bagi yang menghina Islam.

Termasuk, negara-negara yang memberikan pembelaan kepada penghina.

Karena, terjaganya kemuliaan agama ini menjadi hal yang sangat penting dalam pandangan Islam.

Sanksi Tegas untuk Penghina

Demikian pula menjadi hal yang sangat penting dalam politik luar negeri negara. Yang didasarkan Islam tidak akan membiarkan penghinaan-penghinaan seperti ini terjadi. Negara akan memberikan sanksi yang sangat tegas.

Sebagaimana pada masa kekhalifahan Utsmani yang pernah memberikan peringatan keras kepada Eropa.

Yang mana pada saat itu, akan mementaskan drama yang menghina Rasulullah SAW.

Khalifah mengancam akan menyerukan jihad fisabilillah untuk memerangi Eropa.

Hal ini pun, membuat rencana pemutaran drama itu dihentikan.

Umat Islam hari ini membutuhkan adanya penguasa yang berani menentang barat.

Membutuhkan negara global yang menyatukan negeri-negeri Islam.

Negara global yang merepresentasikan Islam, merepresantasikan kepentingan umat Islam dan aspirasi umat Islam.

Inilah, yang akan memberikan pelajaran nyata dan menghentikan penghinaan yang terus terjadi berulang-ulang. Wallahu a’lam bishshawab.