28.4 C
Indonesia
Rabu, September 22, 2021
spot_img

Surat Kabar Sin Po, dari Terbit Hingga Jadi Koleksi Digital

KOPI PAGI, ruber.id – Sin Po merupakan surat kabar pertama yang memuat text lagu Indonesia Raya pada bulan November 1928.

Adalah Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya ini. Ia merupakan wartawan harian Sin Po, sejak tahun 1925.

Sejarah Surat Kabar Sin Po

Sin Po adalah surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu yang terbit di Hindia Belanda sejak tahun 1910.

Hingga era setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1965. Pertama kali diterbitkan di Batavia pada 1 Oktober 1910 sebagai surat kabar mingguan.

Sin Po berubah menjadi surat kabar harian pada 1 April 1912.

Harian ini terkenal dengan sikapnya yang mendukung nasionalisme Tiongkok dan perjuangan bumi putra.

Sin Po turut memelopori penggunaan nama “Indonesia” untuk menggantikan “Hindia Belanda” sejak Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Sin Po berhenti terbit saat Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, namun kembali terbit pada tahun 1946.

Pada tahun 1962 harian ini berganti nama menjadi Warta Bhakti.

Sebelum akhirnya dibredel pemerintah pada tahun 1965 setelah kejadian Gerakan 30 September.

BACA JUGA:  Terowongan Wilhelmina Pangandaran, Dikenal Angker Sejak Dibangun, Simpan Nilai Historis

Sin Po edisi bahasa Indonesia adalah tempat Tan Tek Ho bekerja setelah mendapat pendidikan di Kay Lam Hak Tong dan kembali ke Jawa.

BACA JUGA:  Terowongan Wilhelmina Pangandaran, Dikenal Angker Sejak Dibangun, Simpan Nilai Historis

Kemudian, Tan menerbitkan majalah sendiri.

Surat kabar yang terbit di Jakarta ini, mula-mula dipimpin oleh Lauw Giok Lan, yang menjadi pemimpin redaksi.

Pada waktu yang sama ia juga memimpin surat kabar Perniagaan.

Sejak tahun 1925 sampai tahun 1947, pemimpin redaksi Sin Po dijabat oleh Kwee Kek Beng.

Ia merupakan wartawan terkemuka yang meninggal di Jakarta pada bulan Mei 1979.

Sesudah diproklamasikan Republik Tiongkok pada tahun 1912, Sin Po menyuarakan nasionalisme daratan Tiongkok.

Selama 20 tahun, surat kabar ini mencerminkan haluan politik sebagian masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda pada masa penjajahan Belanda.

Surat kabar ini berpendirian bahwa masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda harus mempertahankan kewarganegaraan asalnya dan menolak ikut serta dalam percaturan politik kolonial Belanda.

Digitalisasi Sin Po

Pada 25 Oktober 2018, Monash University membuat terobosan penting dengan meluncurkan koleksi digital Sin Po Wekelijksche Editie, atau yang dikenal Sin Po edisi mingguan.

BACA JUGA:  Sejarah Panjang Bus Medal Sekarwangi, Tetap Eksis di Tengah Badai Krisis

Proyek digitalisasi itu memakan waktu setahun.

Menurut Rheny Pulungan yang dikutip dari Tempo, Subject Librarian for Indonesian Studies and Politics di Monash University.

Digitalisasi Sin Po diharapkan dapat menjadi contoh awal bagi proyek digitalisasi lainnya di Sir Louis Matheson Library, Monash University.

Koleksi Sin Po di Monash diboyong sekitar 50 tahun silam oleh Charles Coppel, Indonesianis asal Australia yang sudah puluhan tahun menekuni kajian Tionghoa Indonesia.

BACA JUGA:  Generasi Muda Perlu Ingat Peristiwa Penting G30S/PKI

Ia mendapatkan koleksi tersebut dari Liem Ek Hian, putra dari Liem Thian Joe, penulis buku Riwajat Semarang (1931).

“Namun ide untuk mendigitalisasi Sin Po tersebut baru muncul setahun belakangan atas dorongan dari Profesor Charles Coppel, Profesor Ariel Heryanto, dan juga para mahasiswa yang menganggap koleksi Sin Po ini sebagai publikasi penting.”

“Karena secara rigid merekam dinamika politik, sosial, dan budaya dari masyarakat Indonesia pada saat itu,” tutur Rheny Pulungan, yang juga doktor lulusan University of Melbourne.

Apalagi, sambung Rheny, Sin Po juga berperan penting dalam mendukung kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme Belanda.

BACA JUGA:  Melihat Prosesi Jamasan, Ngumbah Pusaka Koleksi Museum Tosan Aji Purworejo

Anita Dewi, Research and Learning Coordinator di Sir Louis Matheson Library, menyatakan bahwa proyek digitalisasi Sin Po hanya merupakan permulaan.

“Sebelumnya Monash telah mendigitalisasi pidato-pidato Soekarno dan menuai respons cukup positif.”

“Setelah Sin Po, mungkin majalah Star Weekly yang akan kami digitalisasi selanjutnya,” ujar Anita.

Dalam acara peluncuran koleksi digital Sin Po, Charles Coppel menyinggung kontribusi Sin Po dalam memopulerkan terminologi “Indonesia” terhitung sejak 15 Maret 1926.

Tom Hoogervorst, peneliti senior dari KITLV, berbicara mengenai peranan Sin Po dari segi linguistik.

Terutama berkaitan dengan pembentukan Bahasa Indonesia yang kita kenal saat ini.

BACA JUGA:  Ngudag Tapak, Katara Badranaya Ajak Generasi Milenial Tasikmalaya Susuri Tempat Bersejarah

Sedangkan Ariel Heryanto membahas kontribusi Sin Po dari aspek popular culture.

Termasuk bagaimana upayanya menerjemahkan dan menyalin cerita-cerita klasik dari seluruh dunia dan kemudian memublikasikannya dalam skala besar.

Bagi mereka yang tertarik untuk melakukan penelitian mengenai sejarah Indonesia lewat penerbitan koran Sin Po, sekarang akan dipermudah karena dokumentasi koran yang terbit di Jakarta sekarang tersedia secara digital.

Penulis: Eka Kartika halim
Editor: Bam

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles