Sejarah Hari Pramuka di Indonesia

Tanggal 14 Agustus di tetapkan sebagai Hari Pramuka
Foto ilustrasi by pixabay.

KOPI PAGI, ruber.id – Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 14 Agustus merupakan Hari Pramuka. Penetapan ini bermula sejak zaman Presiden Soekarno.

Peringatan Hari Pramuka di Indonesia berawal dari Keppres Nomor 238 Tahun 1961.

Keppres yang diterbitkan tanggal 20 Mei 1961 itu mengatur tentang gerakan Pramuka.

Kemudian, tanggal 30 Juli 1961 seluruh tokoh kepanduan di Indonesia menyatakan diri untuk bergabung dengan organisasi ini.

Lalu satu bulan kemudian, tepatnya tanggal 14 Agustus 1961, Presiden Soekarno memimpin penetapan Kwarnas, Kwarnari dan Majelis Pimpinan Nasional.

Penetapan tersebut dilakulan di Istana Negara bersamaan dengan penganugerahan Panji Gerakan Pramuka.

Peristiwa tersebut menjadi momentum perkenalan organisasi ini ke masyarakat lebih luas.

Baca juga:  Bupati Sumedang: Kehadiran Brigez Harus Jadi Solusi di Tengah Masyarakat

Sehingga tanggal 14 Agustus diperingati sebagai hari jadinya.
Awal Berdirinya Organisasi Pramuka di Indonesia
Pramuka diketahui sejatinya telah berdiri sejak lama. Awalnya muncul organisasi kepanduan sejak jaman penjajahan Belanda.

Organisasi kepanduan milik Belanda yang dinamai Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) berdiri tahun 1912.

Namun di Tahun 1916, organisasi tersebut berubah nama menjadi Nederland Indosche Padvinders Vereniging.

Organisasi ini terlarang diikuti oleh orang Indonesia. Sehingga khusus hanya orang Belanda saja yang bisa jadi anggota.

Oleh karenanya, di Tahun 1916, Mangkunegara VII menginisasi pembentukan organisasi kepanduan bangsa Indonesia pertama. Organisasi ini diberi nama Javaansche Padvinders Organisatie.

Munculnya organisasi ini kemudian membuat Belanda khawatir.

Baca juga:  Ramai Soal PPDB, Ini Aturan Sistem Zonasi Sekolah di Pangandaran

Pasalnya, jadi pemicu berdirinya organisasi pandu yang lain. Sehingga Belanda melarang menggunakan istilah Padvinder.

Larangan tersebut membuat Haji Agus Salim mengakali dengan menggunakan istilah pandu atau kepanduan untuk organisasi kepanduan milik Indonesia.

Setelah kejadian itu, organisasi kepanduan terus berkembang. Hingga akhirnya organisasi kepanduan dengan organisasi Praja Muda Karana (Pramuka).

Istilah praja muda karana memiliki artiĀ  jiwa muda yang senang berkarya. Sultan Hamengkubuwono ke IX sebelumnya memakai istilah poromuka.

Arti dari poromuka adalah pasukan terdepan dalam perang.

Kini pramuka menjelma sebagai gerakan kependidikan non formal yang sangat besar.

Lambang Pamuka yang digunakan adalah tunas kelapa. Memiliki makna selalu berguna bagi orang banyak.

Baca juga:  Jangan Bunuh Semut, Dosa! Apalagi di Bulan Puasa

Penulis : Shendy Boy