SMAN 5 Tasikmalaya Ajak Siswa Peduli dan Empati pada ODGJ

SMAN 5 Tasikmalaya Ajak Siswa Peduli dan Empati pada ODGJ
SMAN 5 Tasikmalaya ajak siswa peduli dan empati pada ODGJ, Jumat (25/9/2026). Andy Kusmayadi/ruber.id

NEWS, ruber.id – SMAN 5 Tasikmalaya atau yang akrab disebut Campus 5 menjadi ruang pembelajaran yang berbeda pada Jumat (25/9/2026).

Sejak pukul 06.30 hingga 08.00 WIB, seluruh siswa mengikuti kegiatan pembiasaan positif melalui talkshow bertajuk Kepedulian Sosial Bersama Sobat ODGJ bersama Yayasan Mentari Hati.

SMAN 5 Tasikmalaya ajak siswa peduli dan empati pada ODGJ

Kegiatan tersebut, menjadi bagian dari upaya sekolah dalam menanamkan nilai-nilai positif yang sejalan dengan program pemerintah Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).

Tidak hanya berlangsung di dalam kelas, pembelajaran kali ini mengajak para siswa melihat secara langsung realitas kehidupan sosial di tengah masyarakat.

Hadir sebagai narasumber sekaligus Sobat ODGJ empat penyintas disabilitas mental yang saat ini berada dalam pendampingan Yayasan Mentari Hati.

Baca juga:  Komunitas Perjalanan Tasikmalaya Ajak Piknik Lansia ke Galunggung dan Asia Plaza

Keempat penyintas tersebut yakni Naomi, Indri, Lala, dan Gabriel.

Keempatnya, berbagi cerita dan berinteraksi langsung dengan para siswa mengenai perjalanan kehidupan mereka hingga mampu kembali berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan.

Suasana talkshow, berlangsung hangat. Para siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga diajak berbincang dan memahami bahwa orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) merupakan bagian dari masyarakat yang membutuhkan dukungan, penerimaan, dan kesempatan untuk kembali berdaya.

Kehadiran para Sobat ODGJ juga memberikan pengalaman belajar yang mengajarkan siswa untuk tidak mudah memberikan stigma kepada seseorang berdasarkan kondisi yang pernah dialaminya.

Interaksi secara langsung menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenal sisi kemanusiaan para narasumber secara lebih dekat.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Guru Mata Pelajaran Sosiologi, Nur Laila, bersama Miftah Ari Angga, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 5 Tasikmalaya.

Baca juga:  260 Santri TKA/TPA di Pangandaran Diwisuda

Menurut Miftah Ari Angga, kegiatan ini dirancang agar pembelajaran kepedulian sosial tidak berhenti pada pemahaman secara teori. Tetapi, dapat dirasakan dan dipelajari melalui pengalaman langsung.

“Kami ingin anak-anak mendapatkan pengalaman bahwa kepedulian sosial itu bukan hanya materi yang dibicarakan di dalam kelas.”

“Mereka bisa bertemu, berbincang dan melihat langsung bahwa teman-teman ODGJ yang sudah pulih juga memiliki kemampuan untuk berinteraksi, berkarya dan menjadi bagian dari masyarakat,” ujar Miftah.

Ia menambahkan, pertemuan tersebut diharapkan mampu membangun empati.

Selain itu, mengurangi stigma yang masih sering muncul di masyarakat terhadap ODGJ.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak semakin memahami pentingnya menghargai sesama manusia.”

Baca juga:  Jadi Tuan Rumah Pentas PAI Tingkat Provinsi, Kontingen Sumedang Ditarget Juara Umum

“Jangan melihat seseorang hanya dari masa lalunya atau kondisi yang pernah dialaminya, tetapi berikan ruang, dukungan dan kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Bagi SMAN 5 Tasikmalaya, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda pembiasaan pagi.

Lebih dari itu, Campus 5 menjadi ruang pembelajaran sosial yang mempertemukan siswa dengan pengalaman nyata kehidupan masyarakat.

Melalui dialog bersama Naomi, Indri, Lala, dan Gabriel, para siswa diajak membangun cara pandang yang lebih terbuka, menumbuhkan empati, serta membiasakan diri untuk peduli terhadap sesama.

Kegiatan ini juga, memperlihatkan bahwa pendidikan karakter dapat hadir melalui berbagai pengalaman.

Ketika siswa berani berinteraksi, mendengarkan cerita, dan memahami kehidupan orang lain, nilai-nilai kepedulian sosial tidak hanya menjadi pengetahuan. Tetapi, dapat tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.***