Milangkala ke-11 SMK Seni Budaya: Rumawat Jagat, Ngagugah Riksa Jadi Refleksi Perjalanan Sekolah Seni di Tasikmalaya

Milangkala ke-11 SMK Seni Budaya
Sejumlah siswa dan guru SMK Seni Budaya Tasikmalaya, ziarah ke makam (alm) Sule Nurharismana di Cineam, Kabupaten Tasikmalaya. Foto: Istimewa/ruber.id

NEWS, ruber.id – SMK Seni Budaya memperingati Milangkala ke-11 dengan mengusung tema “Rumawat Jagat, Ngagugah Riksa”. Peringatan tersebut digelar selama tiga hari, Senin hingga Rabu, 14-16 September 2026.

Milangkala tahun ini, tidak sekadar menjadi agenda perayaan ulang tahun sekolah.

Milangkala ke-11 SMK Seni Budaya: Rumawat Jagat, Ngagugah Riksa jadi refleksi perjalanan sekolah seni di Tasikmalaya

Momentum tersebut, dimanfaatkan untuk mengenang perjuangan para pendiri sekaligus merefleksikan perjalanan SMK Seni Budaya dalam mempertahankan pendidikan seni dan budaya di tengah perkembangan zaman.

Rangkaian kegiatan diawali pada Senin (14/9/2026) melalui ziarah dan silaturahmi ke sejumlah makam pendiri sekolah.

Para siswa dan guru, terlebih dahulu mengunjungi makam almarhum Sule Nurharismana di Cineam, Kabupaten Tasikmalaya.

Kemudian, ziarah dilanjutkan ke makam almarhum Ahdiat di Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, serta makam almarhum Cucu Darnyu di kompleks pemakaman Cinehel, Tasikmalaya.

Baca juga:  Lancarkan Lalu Lintas Masjid Raya Al Jabbar, Pemkot Bandung Rekayasa Jalan

Kegiatan tersebut, merupakan gagasan OSIS SMK Seni Budaya yang mendapat dukungan dari seluruh civitas sekolah.

Selain sebagai bentuk penghormatan, ziarah menjadi sarana bagi para siswa untuk mengenal sejarah serta memahami perjuangan tokoh-tokoh yang memiliki peran dalam berdirinya SMK Seni Budaya.

“Bagi kami, milangkala bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga bagaimana siswa mengenal dan menghargai sejarah sekolah.”

“Ziarah ini menjadi bagian penting untuk mengingat kembali jasa para pendiri yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan SMK Seni Budaya,” ujar Sansan Septiansyah selaku pelaksana kegiatan.

Setelah ziarah, rangkaian milangkala diisi dengan berbagai agenda yang menggambarkan perjalanan dan kreativitas warga sekolah dalam berkesenian.

Sejumlah kegiatan yang disiapkan antara lain pemutaran dokumenter perjalanan SMK Seni Budaya dari masa ke masa, prosesi pemotongan tumpeng, serta pertunjukan seni yang melibatkan para siswa dan warga sekolah.

Baca juga:  Objek Wisata Mangkubumi Tasikmalaya, Bernuansa Alami nan Asri

Tidak hanya menampilkan karya seni, milangkala ke-11 juga menghadirkan ruang diskusi untuk membicarakan masa depan pendidikan seni.

Salah satunya, melalui forum bertajuk “Sekolah Seni di Ambang Kemunduran” dengan menghadirkan budayawan Jawa Barat, Iik Setiawan, sebagai pembicara.

Forum tersebut, diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi kritis mengenai berbagai tantangan yang dihadapi sekolah seni saat ini.

Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan pendidikan seni, tetapi juga menyangkut kemampuan sekolah dalam beradaptasi dengan perubahan, mencetak generasi kreatif.

Selain itu, menjaga agar seni dan budaya tetap memiliki ruang di tengah dinamika kehidupan masyarakat.

Sansan mengatakan, pemilihan tema “Rumawat Jagat, Ngagugah Riksa” memiliki pesan kuat mengenai tanggung jawab sekolah seni untuk terus merawat lingkungan kebudayaan sekaligus membangun kesadaran generasi muda.

“Tema ini kami pilih sebagai pengingat bahwa seni dan budaya harus terus dirawat. Anak-anak muda juga perlu digugah kesadarannya agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan, seni, budaya, dan keberlangsungan sekolah seni itu sendiri,” katanya.

Baca juga:  Jelang Belajar di Sekolah, Ratusan Guru di Kota Bandung Disuntik Vaksin Covid-19

Ia berharap peringatan milangkala ke-11 tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan mampu mempererat kebersamaan seluruh civitas akademika.

Selain itu, menumbuhkan kembali semangat untuk mengembangkan pendidikan seni dan budaya.

Dengan memadukan refleksi sejarah, penghormatan terhadap para pendiri, pertunjukan seni, hingga diskusi mengenai masa depan sekolah seni, milangkala ke-11 SMK Seni Budaya menjadi ruang untuk menengok perjalanan masa lalu. Sekaligus menyusun langkah menghadapi, tantangan di masa mendatang.

Seni dan budaya, pada akhirnya, bukan sekadar warisan yang harus dikenang.

Keduanya perlu terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan agar tetap hidup serta mampu menjawab perubahan zaman dan menjadi bagian dari kehidupan generasi berikutnya.***