Panen Sayuran Tutup KKN Konversi Mahasiswa UIN SGD Bandung di Komunitas Salarea Garut

KKN Konversi Mahasiswa UIN SGD Bandung di Komunitas Salarea Garut
Panen sayuran tutup KKN Konversi Mahasiswa UIN SGD Bandung di Komunitas Salarea Garut. Foto: Ist/ruber.id

NEWS, ruber.id – Panen sayuran dari greenhouse kebun gizi serta pembagian makanan bergizi bagi balita menutup Kuliah Kerja Nyata (KKN) Konversi mahasiswa Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung di Komunitas Salarea, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.

Program pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung sekitar satu bulan tersebut, merupakan bagian dari KKN Konversi kolaborasi dosen Magister Informatika.

Panen sayuran tutup KKN Konversi mahasiswa UIN SGD Bandung di Komunitas Salarea Garut

Kegiatan, dipusatkan di greenhouse kebun gizi stunting yang dibangun PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) bersama Yayasan Kelompok Kerja Salarea (Salarea Foundation), lembaga yang menaungi Komunitas Salarea.

Sebanyak delapan mahasiswa Teknik Informatika UIN SGD Bandung terlibat dalam kegiatan tersebut.

Mereka, melakukan uji coba penerapan teknologi penyiraman dan pemupukan otomatis berbasis Internet of Things (IoT).

Sistem yang dikembangkan memungkinkan proses penyiraman dan pemupukan dikendalikan dari jarak jauh melalui web apps.

Teknologi tersebut, diharapkan dapat membantu pengelola greenhouse menghemat waktu dan tenaga sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan kebun gizi.

Baca juga:  SMK di Jabar Akan Beradu Skill dalam LKS Tingkat Provinsi

Salah seorang mahasiswa peserta KKN Konversi, Putri Puspita, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman berharga karena mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam persoalan nyata di masyarakat.

“Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah membantu pengelolaan greenhouse kebun gizi.”

“Selama kegiatan berlangsung, kami berhasil menerapkan sistem tersebut dan melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi yang ada di lapangan,” ujar Putri, Minggu (13/9/2026).

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman dalam mengembangkan teknologi. Tetapi juga, belajar menyelesaikan berbagai kendala yang muncul selama proses penerapan sistem di lapangan.

Putri berharap, teknologi yang telah dikembangkan dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh Salarea Foundation sehingga memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Hal senada disampaikan mahasiswa lainnya, Aryanti Nagela.

Ia menjelaskan, saat awal kegiatan, proses penyiraman dan pemupukan di greenhouse masih dilakukan secara manual.

“Kami kemudian berinisiatif membuat sistem otomatis berbasis IoT untuk membantu meringankan pekerjaan pengelola sekaligus mendukung keberlanjutan program kebun gizi,” katanya.

Baca juga:  Tak Ikut Pawai Juara Persib, Farhan Fokus Jadi Sweeper

Aryanti menyebutkan, sistem tersebut telah diterapkan pada 28 titik.

Selain sistem otomatis, mahasiswa juga melengkapinya dengan web apps yang memiliki sejumlah fitur. Mulai dari pengaturan jadwal, kontrol manual, perintah suara, hingga AI Assistant.

Ia mengaku, bersyukur sistem yang dikembangkan dapat dipahami dan dipraktikkan oleh para pengelola kebun gizi.

“Semoga sistem ini dapat terus dimanfaatkan dan dirawat dengan baik, serta memberikan manfaat bagi keberlanjutan program kebun gizi di Komunitas Salarea,” harapnya.

Apresiasi dukungan Komunitas Salarea Garut

Sementara itu, dosen pembimbing KKN yang juga Ketua Jurusan Magister Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN SGD Bandung, Dr. Yana Aditia Gerhana, mengapresiasi kepercayaan dan dukungan Komunitas Salarea dalam pelaksanaan program pengabdian tersebut.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas memberikan manfaat ganda.

Mahasiswa, memperoleh ruang untuk mengaplikasikan keilmuan. Sementara masyarakat, mendapatkan dukungan teknologi yang dapat menunjang keberlanjutan program kebun gizi.

“Kolaborasi ini, sangat bermanfaat bukan hanya bagi pengalaman mahasiswa didik kami. Tapi juga, berdampak positif bagi keberlanjutan program penanganan stunting lewat hasil panen kebun gizi,” ungkap Yana.

Baca juga:  Disdik Sumedang: Tragedi Susur Sungai SMPN 1 Turi, Jangan Malah Membatasi Kreativitas Pelajar

Ketua Salarea Foundation, Dadan M Ramdan, mengatakan penerapan digitalisasi pertanian memberikan dampak positif terhadap efisiensi pengelolaan greenhouse. Terutama dari sisi waktu, biaya, dan tenaga.

Selama uji coba, mahasiswa menanam kangkung dan bayam karena kedua jenis sayuran tersebut memiliki masa panen relatif singkat, yakni sekitar satu bulan.

“Karena ditanam secara organik, hasil panennya sangat memuaskan,” kata Dadan.

Ia menjelaskan, kebun gizi yang dirintis sejak 2024 tersebut memang diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Khususnya, anak-anak yang terindikasi mengalami stunting.

Hasil panen, selanjutnya didistribusikan kepada penerima sasaran.

Pada penutupan kegiatan KKN kali ini, sayuran hasil panen dibagikan bersama paket makanan bergizi kepada 50 anak.

Dadan berharap, kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui pemanfaatan teknologi dapat terus dikembangkan sehingga greenhouse kebun gizi tidak hanya menghasilkan pangan sehat. Tetapi juga, menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendukung penanganan stunting di lingkungan Komunitas Salarea.***