Sejarah Kota Bandung, Asal Nama hingga Jadi Lautan Api

Sejarah Kota Bandung
Gedung Sate Bandung, pusat pemerintahan yang dibangun Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Deandels. Foto: Instagram @irfan_ncos

KOPI PAGI, ruber.id – Nama Bandung tercipta dari kata Bendung atau Bendungan. Istilah ini, sesuai dengan terciptanya kawasan Bandung, dari material lava letusan gunung berapi yang membendung aliran Sungai Citarum.

Dari filosofi Sunda, menyadur dari kalimat yang sakral dan juga luhur, yaitu Nga-Bandung-an banda Indung.

Inti dari kalimat tersebut mengartikan bahwa tempat segala mahluk hidup, dan juga benda mati yang menempati tanah ibu pertiwi dan Yang Maha Kuasa saksikan.

Belanda Temukan Bandung Secara Tidak Sengaja

Mulanya, pada zaman Kolonial Belanda, para penjajah menemukan Bandung secara tidak sengaja.

Mereka menyebutnya, daerah tak bertuan.

Sejak awal, Bandung tidak masuk dalam rancangan pembangunan Pemerintah Belanda.

Dahulu, Bandung terkenal dengan sebutan Tatar Ukur, yang kekuasaannya ada di bawah Kerajaan Banten dan Mataram.

Perhatian Penjajah Belanda muncul saat penguasa Tatar Ukur, Wangsanata (Dipati Ukur), terlibat dalam peristiwa penggempuran benteng kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie alias VOC di Batavia (Sekarang Jakarta).

Akibatnya, pemerintah Belanda mulai menaruh curiga, wilayah Tatar Ukur menjadi sarang para pemberontak.

Lekuasaan VOC berakhir, dan bangkrut pada tahun 1799.

Baca juga:  Cerita Dafid, Pelajar di Pangandaran Berjualan Sosis Bakar, Jaga Asa Tetap Sekolah dan Bantu Ringankan Beban Keluarga

Akibat hal tersebut, pemerintah Hindia Belanda saat itu melakukan penggantian orang-orang di pemerintahan.

Herman Willem Deandels ditunjuk sebagia Gubernur Jenderal Pertama oleh pemerintah Hindia Belanda.

Deandela lalu memerintahkan kepada Bupati Bandung R.A Wiranatakusumah II, untuk memindahkan Ibu Kota Kabupaten Bandung.

Ketika Daendels mengontrol pembangunan jalan raya yang melintasi Kota Bandung, sampailah dia di jembatan Sungai Cikapundung (Dekat Gedung Merdeka sekarang).

Jembatan tersebut sedang dirampungkan oleh masyarakat pribumi setempat, di bawah pasukan Zeni Militer Belanda.

Selesainya pembuatan Jembatan Cikapundung, Daendels menyeberanginya dan berjalan sampai ke suatu lokasi.

Tepatnya di dekat jalan raya, seberang Hotel Savoy Homan di (Saat ini disebut Jalan Asia-Afrika).

Daendels kemudian menancapkan tongkat kayunya di sana dan berkata, “Zorg dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd”.

Artinya, coba usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah berdiri sebuah kota.

Di tempat Daendels menancapkan tongkatnya, sebuah tugu dibangun di lokasi itu untuk menandakan batas awal Kota Bandung.

Tugu tersebut, yaitu titik kilometer nol Kota Bandung.

Baca juga:  Sejarah Panjang Bus Medal Sekarwangi, Tetap Eksis di Tengah Badai Krisis

Tugu kilometer nol baru pada tahun 2004, oleh Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, resmikan.

Di tempat tersebut juga terdapat monumen mesin penggilingan (Stoomwals) kuno, beserta sebuah batu prasasti sejarah.

Tugu dan monumen ini, dekasikan untuk rakyat pribumi korban pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan.

Awal Pembangunan Bandung

Awal mula, pembangunan Bandung oleh pemerintahan Hindia Belanda di bawah Daendels.

Sebelumnya, dari Batavia (Saat ini Jakarta), menuju Bandung, harus melewati pedalaman hutan Priangan.

Lalu, jalan setapak yang bisa terlewati kuda mulai Daendels bangun untuk menghubungkan Batavia-Bogor-Bandung.

Saat itu, Bandung memang sudah menjadi wilayah penting bagi kegiatan ekonomi Belanda.

Terdapat perkebunan kopi di sekitar Gunung Tangkuban Parahu, milik Pieter Engelhard yang ada sejak 1789.

Kopi ini, menjadi salah satu pemasukan terpenting pemerintah Belanda.

Melonjaknya keinginan bangsa koloni di Batavia menuju Bandung, semakin menggencarkan pembangunan di wilayah ini.

Mulai membuat akses jalan yang lebih layak, tak hanya di Bandung, namun di seluruh Pulau Jawa.

Daendels lalu membuat Grote Postweg (Jalan Raya Pos), atau populer dengan sebutan Jalan Daendels.

Baca juga:  Melihat Prosesi Jamasan, Ngumbah Pusaka Koleksi Museum Tosan Aji Purworejo

Panjang jalan di sisi utara Jawa ini, dari Anyer di ujung Barat sampai Panarukan di ujung Timur, dengan panjang total mencapai 1000 kilometer.

Bandung Lautan Api

Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan kejadian heroik yang terjadi di Bandung, Jawa Barat.

Peristiwa ini, terjadi pada 23 Maret 1946.

Hal ini terjadi, karena Bandung sebagai markas strategis militer dalam perang Kemerdekaan Indonesia.

Mencegah tentara sekutu, dan tentara Belanda untuk dapat menggunakan Kota Bandung, sebagai markas strategis militer.

Pertempuran paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung.

Di mana, terdapat gudang amunisi besar milik tentara sekutu.

Gudang tersebut, berhasil diledakan menggunakan dinamit.

Hingga pukul 24.00 WIB, Bandung selatan telah kosong dari penduduk, namun api masih membumbung membakar kota.

Sehingga, Bandung pun menjadi lautan api.

Peristiwa ini, pemerintah abadikan dengan membangun monumen Bandung Lautan Api.

Bandung Lautan Api pula, yang mengilhami Ismail Marzuki dalam lagunya yang berjudul Halo-halo Bandung.

Penulis: Eka Katika Halim/Editor: Bam