oleh

Cerita Kakek Tua Sebatang Kara, Tinggal Digubuk Reyot, Tak Lagi Dapat Bantuan Raskin dan Bertahan Hidup Jadi Buruh Angkut Sampah di Pangandaran

Kakek Sarun di gubuk reyotnya yang memprihatinkan, Senin (11/3/2019). smf/ruang berita

PANGANDARAN, ruber — Seorang kakek tua renta bernama Sarun, 70, warga Dusun Jati RT 01/01, Desa/Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran bertahan hidup dari hasil menjadi pemulung dan jasa angkut sampah perumahan.

BACA JUGA: Gagah! Setelah Kencan 10 Hari, Kakek Ini Nikahi Gadis 28 Tahun

Setiap hari, dari pagi hingga siang Kakek Sarun berkeliling di seputar daerah Parigi sekadar mencari barang bekas dan mengangkut sampah yang tertumpuk di tempat sampah halaman rumah warga menggunakan roda butut miliknya.

“Setelah roda saya terisi penuh oleh sampah dari rumah warga dan barang bekas dibawa ke rumah untuk dipilih,” kata Kakek Sarun.

Kakek Sarun hidup sendiri selama 5 tahun dalam gubuk reyot berukuran 4×5 meter persegi setelah istrinya meninggal dunia.

“Saya hidup sendiri di gubuk ini numpang di tanah milik orang lain,” tambahnya.

Untuk makan sehari-hari Kakek Sarun mengaku mengandalkan orang yang memberinya setelah mengangkut sampah di halaman rumah warga.

“Kadang orang yang sampahnya saya bawa mereka baik hati memberi uang ada yang Rp5000 ada yang Rp10.000, lalu uangnya saya belikan nasi dan sayur,” ucapnya.

Meski dengan kondisi seperti itu, tidak mematahkan semangat Kakek Sarun untuk bertahan hidup meski sendiri dengan kondisi serba kekurangan.

Kake Sarun mengaku, biasanya dia mendapat bantuan beras dari pemerintah untuk warga miskin.

Namun belakangan ini dirinya sudah tidak lagi mendapat bagian beras tersebut.

“Dulu sering ada bantuan beras dari pemerintah dan beberapa kali mendapat santunan uang, tapi sudah lama saya tidak lagi menerimanya,” ucapnya. smf

loading…


loading...

Komentar