29.4 C
Indonesia
Sabtu, September 18, 2021
spot_img

Riwayat Sembah Agung, Penyebar Islam di Pangandaran

SALAH seorang keturunan Sembah Agung ke 11, Endang Sukara. smf/ruber.id

PANGANDARAN, ruber.id — Sembah Agung, merupakan salah satu penyebar Agama Islam.

Sembah Agung memiliki nama asli Jang Langas, yang merupakan keturunan ke 5, Raja Mandala.

Berdasarkan sejarah, Raja Mandala memiliki lima keturunan. Di antaranya, Nini Geude Aki Geude, Jang Pati, Jang Raga, Jang Singa dan terakhir Jang Langas.

BACA JUGA: Cantigi, Asal Muasal Nama Objek Wisata Karang Tirta Pangandaran

Salah seorang keturunan Sembah Agung ke 11, Endang Sukara mengatakan, Jang Langas semula bertempat tinggal di Cihaur di wilayah Galuh sekitar Abad ke 16.

“Perjalanan Jang Langas ke Batukaras atas mandat Raja Mandala untuk menjenguk kakak kandungnya Nini Geude Aki Geude di Jurago, Kecamatan Cigugur,” katanya kepada ruber, Selasa (3/9/2019).

Perjalanan Jang Langas dari Cihaur untuk meyakinkan cerita Raga Sangsang atas kejadian penyerahan putri Nini Geude Aki Geude, yang merupakan istri Raga Sangsang ke Raden Tameula di Sukapura.

BACA JUGA:  Kapal Jaya Abadi Terbalik di Pangandaran, 1 Nelayan Hilang
BACA JUGA:  Kecamatan Langkaplancar Ingin Mekar, Ini Tanggapan Bupati Pangandaran

“Putri Nini Geude yang merupakan istri Raga Sangsang diminta oleh Raden Tameula waktu itu, padahal sudah bersuami,” tambahnya.

Singkat cerita, Raga Sangsang berniat untuk kembali ke Kedung Randu di Banyumas, melewati jalan Cihaur.

Sesampainya di Cihaur, Raga Sangsang menceritakan pengalaman nasibnya bahwa istrinya yang merupakan putri Nini Geude Aki Geude sudah diserahkan ke Raden Tameula.

Mendengar cerita dari Raga Sangsang, Raja Mandala langsung mengutus Jang Langas.

Namun sebelum menemui Nini Geude Aki Geude, Jang Langas memilih menemui Raden Tameula di Sukapura.

“Sesampai di Sukapura, Raden Tameula sedang mengadakan saembara pembuatan Situ Cimawate,” katanya.

Siapa saja yang bisa membuat Situ Cimawate akan diberikan hadiah salah seorang putri Raden Tameula.

“Jang Langas menjadi salah satu peserta sayembara dan memenangkan sayembara sehingga diberi hadiah putri Raden Tameula,” ucapnya.

Jang Langas, diberi hadiah putri oleh Raden Tameula untuk dinikahi. Tetapi, Jang Langas memiliki pendirian hadiah putri tersebut untuk diserahkan ke Kanjeung Sinuhun di Banyumas.

BACA JUGA:  Pemkab Ciamis Belum Serahkan 2 Aset BUMD ke Pangandaran

“Singkat cerita Jang Langas beserta putri Raden Tameula menuju Kedung Randu Banyumas. Sesampainya di lokasi diserahkanlah putri dari hadiah sayembara ke Kanjeung Sinuhun,” jelasnya.

BACA JUGA:  Kapal Jaya Abadi Terbalik di Pangandaran, 1 Nelayan Hilang

Harapan Jang Langas menyerahkan putri tersebut agar Kanjeung Sinuhun tidak berharap terhadap putri Nini Geude Aki Geude.

“Waktu itu, Kanjeung Sinuhun menerima pemberian hadiah dari Jang Langas, sambil berkata setelah 40 hari akan diserahkan lagi ke Jang Langas,” terangnya.

Setelah 40 hari, Jang Langas kembali membawa putri Raden Tameula ke Kanjeung Sinuhun.

Kanjeung Sinuhun kemudian berpesan jangan dinikahi dulu karena putri tersebut sedang hamil.

Setelah serah terima putri tersebut, Jang Langas dan putri Raden Tameula berniat melanjutkan amanat Raja Mandala untuk menemui Nini Geude Aki Geude di Jurago Cigugur.

“Sesampainya di Batu Nunggul, tepatnya di Sungai Sandaan, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, putri Raden Tameula melahirkan bayi kembar laki-laki,” katanya.

BACA JUGA:  Meski Hanya Ditandatangani 4 Komisioner, Pemusnahan Surat Suara Rusak di Pangandaran Diklaim Sah

Namun, anak pertama ini ketika lahir langsung menghilang dan yang ada secara lahiriah hanya putra kedua.

“Setelah beberapa hari lahir bayi, suatu saat putri Raden Tameula hendak ke air, ia menitipkan bayi yang sedang dalam ayunan ke Jang Langas,” sebutnya.

Sebelum ke air, putri Raden Tameula berpesan ke Jang Langas jika bayi menangis jangan diayunkan.

BACA JUGA:  Jelang Debat Capres 2019, Ulama Muda dari 3 Kabupaten Doakan Jokowi-Ma'ruf Amin

Namun, Jang Langas lupa akan pesan itu, sehingga saat bayi menangis malah diayunkan.

“Saat menarik ayunan, bayi masih ada dalam ayunan, namun setelah ayunan didorong bayi tersebut langsung menghilang,” urainya.

Dari kejadian itu, Jang Langas dan putri Raden Tameula sepakat untuk mencari jejak bayi yang hilang sambil menyiarkan Agama Islam.

“Akhirnya, rencana Jang Langas untuk menemui Nini Geude Aki Geude ke Jurago, Kecamatan Cigugur tertunda karena mencari keberadaan bayi sambil menyiarkan ajaran Islam,” terangnya. smf

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles