18.4 C
Indonesia
Selasa, September 28, 2021
spot_img

Pendidikan di Masa Pandemi, Bupati Pangandaran: Kualitas Harus Dijaga

BERITA PANGANDARAN, ruber.id – Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata meminta kepada guru untuk bersama-sama menjaga kualitas pendidikan meski di tengah pandemi Covid-19. Sejatinya, peradaban kemajuan bangsa diukur dari pendidikan.

Jeje mengatakan, pandemi virus Corona yang masih terus menggejala ini jangan dijadikan satu alasan untuk menurunkan kualitas pendidikan. Pola pembelajaran yang optimal harus dicari agar mutu pendidikan tetap terjaga.

“Poses pembelajaran tatap muka selama pandemi Covid-19 memang tidak berjalan secara maksimal. Jadi lakukan proses belajar secara online, jangan samapai karena situasi begini mutu pendidikan kita jadi tidak baik,” kata Jeje.

Sejak tahun 2020 kegiatan belajar mengajar atau KBM tatap muka di sekolah hanya beberapa kali saja. Di tahun yang sama, siswa yang duduk dibangku kelas 5 SD, langsung naik ke kelas enam. Dan sekarang sudah duduk di bangku SLTP.

Selain itu, Jeje meminta guru di Kabupaten Pangandaran membantu pemerintah untuk menyosialisasikan serta memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait upaya-upaya penanggulangan pandemi COVID-19.

BACA JUGA:  Rencana Menteri Luhut Beli Laptop Rp13 Triliun Dikritik Susi Pudjiastuti

“Sosok seorang guru bagi masyarakat di daerah itu mayoritas menjadi tokoh di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Mereka ada sosok yang digugu dan ditiru, jadi kami minta mereka untuk membantu memberi pemahaman kepada warga,” ujarnya.

BACA JUGA:  Baru 16% Warga Pangandaran yang Divaksin Covid-19

Jeje berharap, guru bisa memberi pemahaman terkait pentingnya vaksinasi Covid-19, penerapan prokes dan lainnya. Dirinya bilang, guru harus bisa memberikan contoh di lingkungannya.

“Beri mereka (masyarakat) pemahaman mengapa harus divaksin, mengapa harus isolasi mandiri, kenapa harus menerapkan protokol kesehatan atau prokes Covid dan lainnya,” ucapnya.

Pemaparan tersebut disampaikan Jeje usai menggelar webinar pendidikan tahun 2021 yang bertema ‘Bupati Menyapa Guru’ di Command Center Pemkab Pangandaran pada Rabu (4/8/2021).

Dalam acara yang digelar secara virtual itu diikuti oleh ratusan guru. Dan dihadiri pula oleh Analisis Kebijakan Madya Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbudristek Eko Warisdiono dan Plt Kadisdikpora Pangandaran Agus Nurdin.

Eko menyampaikan, guru harus berani mengambil sikap untuk melakukan berbagai inovasi dalam pembelajaran di masa pandemi. Baik itu luring (luar jaringan) maupun daring (dalam jaringan).

BACA JUGA:  Cyber Counseling di Era New Normal

“Harus berani inovasi, supaya kualitas pendidikan tetap terjaga,” ucapnya.

Rapor Mutu Pendidikan Tahun 2020 Belum Terevaluasi

Rapor mutu pendidikan tahun 2020 belum keluar, sehingga kualitas pendidikan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat belum bisa terevaluasi.

BACA JUGA:  Genre Pangandaran Ajak Kelompok Milenial untuk Divaksin

Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Pangandaran Agus Nurdin mengatakan, pembelajaran selama pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 dinilai akan berdampak pada kualitas pendidikan.

Untuk mengukur hasil kualitas pendidikan ada rumusan tertentu. Menurutnya, salah satu tolak ukur kualitas pendidikan bisa dinilai dari sebuah indikator, bernama rapor mutu pendidikan.

“Rapor mutu pendidikan dikeluarkan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan atau LPMP,” kata Agus, Senin (2/8/2021).

Ada 8 indikator standar mutu pendidikan. Yakni standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar kompetensi lulusan, standar pendidik, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan dan standar sarana prasarana.

“Standar yang bisa dipastikan terdampak langsung oleh situasi pandemi Covid-19 adalah standar proses. Ini meliputi bagian pelaksanaan proses pembelajaran, maka ketika ini terganggu berdampak pada standar penilaian pendidikan,” tuturnya.

BACA JUGA:  Ratusan Pelamar CASN Pangandaran Ajukan Sanggahan

Dampak dari tidak idealnya standar proses dan standar nilai, kata Agus, juga bisa berpengaruh pada standar kompetensi lulusan. Kendati demikian, pihaknya selalu berupaya semaksimal mungkin supaya kondisi tersebut tidak terjadi.

“Kami fokus pada penanganan standar kompetensi lulusan dengan melakukan beberapa strategi. Saya selalu menyampaikan kepada guru agar menginventarisasi kompetensi apa saja yang belum dikuasai peserta didik,” terangnya.

Agus menyebutkan, jika terdapat beberapa hal yang belum dikuasai oleh peserta didik, maka harus difahamkan pada kelas berikutnya. Hal itu untuk meminimalisasi atau upaya supaya tidak tertinggal materi.

BACA JUGA:  Penyandang Disabilitas di Pangandaran Terima Bantuan Kursi Roda dan Kaki Palsu

“Guru harus memastikan siswa memiliki kompetensi esensial yang dibutuhkan untuk tingkat selanjutnya. Kompetensi ini menjadi syarat wajib untuk menerima pembelajaran di tingkat berikutnya. Maka harus dipastikan telah dikuasai oleh peserta didik di kelas sebelumnya,” sebutnya. (R002)

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles