Friday, 3 Apr 2020

Kasus MSA di Jombang Rekayasa dan Fitnah

Baca Juga

Doa Bersama Jelang HUT ke 74 RI, Kapolres Sumedang: Harus Peka Paham Menyimpang

SUMEDANG, ruber.id -- Jajaran Polres Sumedang menggelar doa bersama jelang HUT ke 74 RI di Masjid Al Hidayah Polres Sumedang, Kamis (15/8/2019) malam. Kegiatan doa...

Goa Peninggalan Belanda di Klaten, Bikin Penasaran Warga, Ini Detail dan Awal Cerita Ditemukannya

Goa Peninggalan Belanda di Klaten, Bikin Penasaran Warga, Ini Detail dan Awal Cerita Ditemukannya KLATEN, ruber.id -- Penemuan goa peninggalan zaman kolonial Belanda di Dukuh...

Peparpenas 2019, Pecatur Disabilitas asal Pangandaran ‘Krisna Aji’ Siap Wakili Jabar

Peparpenas 2019, Pecatur Disabilitas asal Pangandaran (Krisna Aji) Siap Wakili Jabar PANGANDARAN, ruber.id -- Krisna Aji, 15, siswa SLB Bina Harapan Pangandaran dipastikan akan mewakili...

Ciri-ciri Kanker Serviks yang Sering Tak Disadari padahal Berbahaya

Ciri-ciri Kanker Serviks yang Sering Tak Disadari padahal Berbahaya ruber.id -- Kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang menyerang leher rahim pada organ reproduksi wanita,...

JOMBANG, ruber.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang, Jawa Timur buka suara soal kasus dugaan pelecehan se**ual yang dilakukan MSA terhadap santriwati.

Jubir MSA Nugroho Harijanto membantah sangkaan polisi yang menyatakan bahwa MSA telah melecehkan santrinya.

Nugroho mengatakan, kasus pelecehan yang dilaporkan pelapor, tidak pernah terjadi.

Nugroho menegaskan, perbuatan asusila seperti yang dituduhkan oleh pelapor terhadap MSA merupakan fitnah keji.

“Para santri dan pengurus pondok berani memberikan jaminan bahwa tuduhan itu tidak benar.”

“Pondok Shiddiqiyyah bersih dari perbuatan asusila,” ujar Nugroho dalam rilis yang diterima ruber.id, Rabu (5/2/2020).

Nugroho menyebutkan, fitnah bermula dari seleksi santri untuk mengikuti program pelayanan kesehatan masyarakat desa dan pedalaman hutan yang selenggarakan pada Maret 2017.

Pelapor, kata Nugroho, merupakan salah satu santriwati yang ikut seleksi itu.

Di tengah sesi tes wawancara itu, kata Nugroho, tiba-tiba pelapor menangis di hadapan MSA.

Saat ditanya oleh MSA, pelapor mengatakan dia merasa kotor karena telah dinodai oleh mantan pacarnya asal Semarang.

“Pelapor mengaku bersalah dan berdosa. Itu terjadi di teras rumah terapi, tempat wawancara berlangsung, disaksikan semua santri yang mengikuti seleksi.”

“Tidak heran kalau para santri yang mengikuti seleksi dan menyaksikan siap menjadi saksi dalam kasus ini,” sebut Nugroho.

Ketua DPW Shiddiqiyyah Yogyakarta ini menyebutkan, setelah sesi wawancara, pelapor dipanggil oleh beberapa orang untuk kembali menceritakan kasusnya dan pelapor menceritakan hal sama.

Pelapor, kata Nurgoho, diminta membuat surat pernyataan yang isinya memutarbalikkan fakta.

Namun, kata Nugroho, orang-orang yang memanggilnya tersebut justru meminta pelapor membuat cerita lain.

Pelapor juga diminta, mengaku telah diperlakukan tidak senonoh oleh MSA. Padahal, yang berbuat adalah mantan pacarnya.

Saat membuat pernyataan itu, kata Nugroho, pelapor dipaksa, dan diancam oleh tiga orang yang memanggilnya.

Setelah itu, menyuruh pelapor untuk membagikan surat pernyataan tersebut ke grup WhatsApp.

“Kami punya bukti bahwa surat pernyataan itu dilakukan MNK di bawah ancaman orang-orang tersebut,” ujar Nugroho.

Sebab, kata Nugroho, setelah postingan itu, pelapor menemui MSA dan menceritakan kronologi surat pernyataannya itu.

Dua adik keponakan MSA menjadi saksi pertemuan pelapor dan MSA.

MSA menganggap masalah itu selesai. Tapi tiba-tiba datang panggilan Polres Jombang tertanggal 25 November 2019 yang menyatakan MSA sebagai tersangka.

“Belum pernah diperiksa polisi kok tiba-tiba statusnya tersangka. Ini kan aneh,” ujar Nugroho.

Nugroho menjelaskan, MSA, tidak memenuhi dua panggilan polisi karena harus menunggui ayahnya yang sakit.

Terkait hal ini, pihak keluarga sudah mengirim surat penangguhan panggilan ke Kapolres Jombang, yang ditandatangani Ibunda MSA.

Menurut Nugroho, pihaknya melihat ada beberapa kejanggalan dalam kasus ini.

Misalnya, sari sisi korban disebutkan dalam laporan polisi, bahwa MNK merupakan gadis di bawah umur.

Padahal, berdasarkan keterangan ijazah sekolah dasarnya MNK lahir pada tahun 1997.

Artinya, pada tahun 2017 saat kasus itu mencuat, MNK adalah wanita dewasa, bukan di bawah umur karena sudah berusia 20 tahun.

“Kami juga menyimpan bukti-bukti percakapan WhatsApp yang menegaskan bahwa MSA itu korban. Tuduhan kepada MSA adalah fitnah keji, dan kami tahu siapa dalangnya,” ujar Nugroho.

Sementara itu, Kuasa Hukum Pelapor Palupi Pusporini saat dikonformasi mengatakan tidak mempersoalkan tuduhan rekayasa kasus yang tengah didampinginya.

“Yang jelas kami mengacu kepada laporan korban, alat bukti yang sudah dikumpulkan serta prespektif penyidik yang sudah menetapkan MSA sebagai tersangka,” sebutnya.

Perempuan yang juga sebagai Sekjen Aliansi Kota Santri melawan kekerasan seksual ini mengatakan, terkait pelapor yang telah dinodai oleh mantan pacarnya, ia enggan berkomentar banyak.

“Semuanya terserah keluarga tersangka. Itu juga, harus dibuktikan di pengadilan,” ujarnya. (R007/Moris)

Loading...

Komentar

loading...
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Sejak Corona Merebak, Miliarder Terkaya di Dunia Ini Tambah Kaya Raya

INTERNASIONAL, ruber.id - Sejak virus corona merebak dan mengancam umat manusia, orang terkaya di dunia, Jeff Bezos makin tambah kaya.

Lagi, Dua Pasien Dalam Pengawasan Corona di Garut Meninggal Dunia

GARUT, ruber.id - Dua Pasien Dalam Pengawasan COVID-19 di Kabupaten Garut, Jawa Barat meninggal dunia, Kamis (2/4/2020). Pusat Informasi...

Hujan Deras Terjang Ciamis: Pohon Tumbang di Rumdin Wabup, Longsor dan Petir Menyambar Rumah Warga

CIAMIS, ruber.id - Hujan deras menerjang Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020) sore. Akibatnya, bencana alam terjadi di sejumlah titik wilayah di...

Total Positif Hasil Rapid Test Jadi 11 Orang, Warga Terdampak Corona di Sumedang Dapat Bantuan Sosial

SUMEDANG, ruber.id - Hasil rapid test sebelas warga Kabupaten Sumedang positif COVID-19, Kamis (2/4/2020) jam 16.00 WIB. Bupati Sumedang...

FMKKS Sumedang: Dana BOS Bisa Digunakan untuk Pencegahan Corona

SUMEDANG, ruber.id - Pandemi corona membuat berbagai kegiatan dan penyelenggaraan pendidikan yang bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak dapat dilaksanakan.