NEWS, ruber.id – Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mendorong percepatan transformasi sektor pertanian melalui pengembangan metode budidaya yang lebih modern dan terintegrasi.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penerapan demplot padi dengan sistem tanam benih langsung (Tabela) di Panyindangan Girang, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong, Senin (6/4/2026).
Program tersebut digagas oleh DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Sumedang.
Dalam hal ini, HKTI Sumedang bekerjasama dengan Balitbang Ketahanan Pangan Mandiri sebagai bagian dari upaya menghadirkan model pertanian berbasis inovasi.
Demplot Tabela di Rancakalong jadi laboratorium lapangan
Demplot ini, diharapkan dapat menjadi laboratorium lapangan yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Menurut Dony, pengembangan demplot tersebut bukan sekadar uji coba.
Melainkan, bagian dari solusi untuk menjawab persoalan mendasar yang selama ini dihadapi petani, terutama terkait kesejahteraan.
Ia menilai, permasalahan tersebut masih dipengaruhi oleh tata kelola pertanian yang belum optimal serta pengendalian hama yang belum maksimal.
Dalam pelaksanaannya, demplot tersebut menggunakan varietas padi unggul Inpari 32 yang berasal dari Balai Benih Sukamandi, Subang.
Varietas ini, memiliki masa tanam sekitar 110 hingga 120 hari dan ditanam di lahan seluas kurang lebih 170 bata.
Penggunaan benih unggul menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi budidaya.
Berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan sistem pindah tanam, metode Tabela memungkinkan penanaman benih dilakukan langsung di lahan.
Hal ini dinilai, mampu mempercepat proses budidaya serta membuat penggunaan pupuk dan pestisida menjadi lebih terkontrol.
Meski demikian, berdasarkan analisis Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang, biaya produksi sistem Tabela tercatat lebih tinggi.
Yakni sekitar Rp18,8 juta per hektare, dibandingkan metode konvensional yang berkisar Rp11,5 juta per hektare.
Namun, peningkatan biaya tersebut dinilai sebanding dengan potensi hasil panen yang bisa mencapai hingga 16 ton per hektare.
Dony menegaskan, perhitungan dalam sektor pertanian tidak bisa hanya berfokus pada besarnya biaya produksi.
Tetapi juga, harus mempertimbangkan hasil akhir dan keuntungan yang diperoleh petani.
Jika produktivitas meningkat signifikan, maka sistem ini dinilai layak untuk dikembangkan secara luas.
Ia pun berharap, penerapan metode Tabela dapat meningkatkan hasil panen.
Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas beras, sekaligus mempercepat siklus tanam dan panen.
Menurutnya, langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani.
“Transformasi ini, tidak mudah karena menyangkut perubahan pola pikir petani dari sistem konvensional menuju pertanian terintegrasi. Namun, dengan kolaborasi semua pihak, hal ini harus terus didorong,” ucapnya. ***







