Bermodal Tekun, Warga Purworejo Ini Sukses Kembangkan Budidaya Jamur Tiram

BERITA PURWOREJO, ruber.id – Bermodal tekun, salah seorang warga asal Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang satu ini, sukses mengembangkan budidaya jamur tiram.

Ya, kesulitan ekonomi dampak Pandemi Covid-19, tidak menyurutkan semangat Ahmad Faqih, 33, dalam merintis sebuah usaha.

Ketekunan dan keuletan, menjadi salah satu modal dalam menggembangkan usaha budidaya jamur tiram di Purworejo, Jawa Tengah.

Ahmad Faqih Sukses Kembangkan Budidaya Jamur Tiram di Purworejo

Usaha yang dirintisnya ini, kini sukses dengan banyaknya pesanan jamur tiram segar yang dibudidayakannya.

Ditemui di kediamannya di Desa Jatiwangsan RT 01/02, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo. Faqih mengatakan, usaha budidaya jamur tiram ini dirintisnya sejak satu tahun lalu.

Baca juga:  Pedagang Positif COVID-19, Pasar Ampel Boyolali Ditutup 3 Hari

Jamur tiram sendiri dipilih karena belum banyak pesaing dan biaya produksinya cukup murah.

Selain itu, harga jamur tiram yang cenderung stabil dibandingkan dengan jenis sayuran lainnya.

“Di Purworejo memang ada pembudi daya jamur tiram, tapi belum banyak. Makanya, saya tertarik dengan usaha ini.”

“Ditambah lagi bahan baku pembuatan jamur cukup mudah didapat di daerah sini,” kata Faqih.

Faqih menjelaskan, bahan baku pembuatan jamur sendiri, terdiri dari tiga komponen utama.

Yakni, serbuk kayu gergaji, bekatul, dan kapur pertanian.

Ketiga bahan tersebut, dicampur menjadi satu dengan komposisi 10 banding 1 untuk serbuk.

Lalu, bekatul dan 2% kapur pertanian, disesuaikan dengan berat perbandingan campuran.

“Setelah dicampur merata, kemudian dimasukkan ke dalam plastik berukuran 20×35 sentimeter dan dipadatkan.”

Baca juga:  bjb Solo Local Festival, Dorong Generasi Muda Majukan Wirausaha

“Tahap selanjutnya, media tanam ini dikukus dalam tangki drum selama kurang lebih 5 jam. Setelah dingin, baru bisa diberi bibit jamur,” jelasnya.

Di tempat usahanya, Faqih mampu menampung 5000 baglog jamur tiram.

Untuk menjaga ketersedian jamur, dari jumlah itu dibuat sistem paneh bertahap.

Di mana dalam satu hari, Faqih mengaku bisa panen rata-rata 10 kilogram jamur tiram segar, dengan harga jual mencapai Rp15.000 per kilogram.

“Saat panen raya bisa mencapai 30 kilogram per hari. Usia produktif baglog jamur tiram hasil produksi bisa mencapai 4 bulan lebih.”

“Selama ini, kendala yang dihadapi hanya cuaca. Saat musim kemarau seperti sekarang ini, produksi jamur menurun. Padahal, permintan jamur terus ada,” ucapnya.

Baca juga:  Viral di Medsos karena Hand Sanitizer Kemensos, Ini Kata Bupati Klaten Sri Mulyani

Permintaan Pasar Tidak Pernah Sepi

Faqih menambahkan, pangsa pasar jamur tiram masih cukup tinggi dengan banyaknya permintaan yang tidak pernah sepi.

Faqih memilih menjual sendiri jamur di empat lokasi pasar tradisional yang berbeda.

Di antaranya, Pasar Seren, Winong, Gembor, dan Kemiri.

Terkadang, ia juga melayani pesanan dari warga dan pedagang sayur setempat.

“Alhamdulillah ya, selama ini pesanan selalu ada. Setiap kali ke pasar, dagangan jamur juga selalu habis.”

“Hasil dari usaha ini juga bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Faqih.