Tuesday, 7 Apr 2020

Tak Sekadar Kota Tahu! Sumedang Juga Punya Batik Berkelas dari Tanjungsari

Baca Juga

Polres Sumedang Tangkap Tiga Pemakai Sabu

SUMEDANG, ruber.id - Satresnarkoba Polres Sumedang meringkus tiga pengguna narkotika jenis sabu di tempat berbeda, Ahad (21/7/2019) dini hari. Polisi kali pertama menangkap tersangka HD,...

Sekolah di Sumedang Tunggu Keputusan Disdik soal Ujian Sekolah

SUMEDANG, ruber.id - Sejumlah sekolah di Sumedang, Jawa Barat menunggu keputusan soal pelaksanaan ujian sekolah (US). Apakah di tengah...

Pilkades Pangandaran Digelar November, Ini Nama-nama Bakal Calon Kepala Desa yang Bakal Bertarung

Pilkades Pangandaran Digelar November, Ini Nama-nama Bakal Calon Kepala Desa yang Bakal Bertarung PANGANDARAN, ruber.id -- Pemilihan kepala desa atau Pilkades serentak 2019 di Kabupaten...

Curi Onderdil Pabrik di Pamulihan Sumedang, Kancil dan Mumuh Diringkus Polisi

PAMULIHAN, ruber.id - Nurdin alias Kancil, dan Mumuh Fadilah diringkus jajaran Satreskrim Polres Sumedang. Mumuh dan Kancil ditangkap setelah...

TANJUNGSARI, ruber.id – Tak sekadar Kota Tahu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat juga punya produk batik berkelas.

Batik Kasumedangan namanya. Batik ini dikembangkan oleh sejumlah pengrajin di Sumedang.

Di antaranya, oleh Sanggar Batik Umimay, di Jalan Kaum RT 03/04, Desa Jatisari, Kecamatan Tanjungsari.

Owner Sanggar Batik Umimay Enur, 41, menyebutkan, ada 80 motif batik yang dikembangkan oleh para pengrajin di sanggar miliknya ini.

“Semua motif itu terinspirasi dari kebudayaan dan ikon Sumedang,” ucap Enur kepada ruber.id di, Selasa (25/2/2020).

Enur menyebutkan, motif yang dibuatnya itu mulai dari batik bermotif Kuda Renggong, Teratai Pakuwon, Manuk Julang, Menara Loji.

Ada juga motif Waduk Jatigede, Cadas Pangeran, dan berbagai motif lain yang mengedepankan ciri khas Sumedang.

“Dari bermacam motif batik yang ada, batik bermotif Naga Paksi banyak dipesan,” akunya.

Enur mengatakan, usaha batik Sanggar Umimay telah mulai merintis usaha batik Kasumedangan ini sejak tahun 2011.

Saat ini, kata Enur, batik dari sanggarnya ini sudah dipasarkan ke berbagai daerah. Mulai dari Bandung, hingga daerah lainnya di Jawa Barat.

“Saat ini juga, Alhamdulillah, kami sudah mempunyai pelanggan tetap. Baik dari sekolah maupun perorangan,” sebutnya.

Enur menjelaskan, batik hasil karya sanggarnya ini dibuat dengan dua cara. Yaitu cetak dan lukis.

“Harganya bervariasi, untuk batik cetak dijual mulai dari harga Rp75.000-Rp200.000.”

“Untuk batik lukis, harganya antara Rp500.000-Rp3.5 juta per 2×2.5 meter,” urainya.

Enur mengaku, dalam sehari mampu memproduksi 10 lembar kain batik cetak.

Sedangkan, untuk motif tulis atau lukis, dalam sabulan baru bisa memproduksi 5 lembar kain.

“Kain mentahan batik sendiri, untuk bahan bakunya didatangkan dari daerah Jawa yaitu Pekalongan.”

“Mulain dari kain sutra, serat rami, dan serat nanas. Dengan bahan pewarna dari alam seperti dari tumbuhan, akar-akaran, daun hingga buah-buahan,” jelasnya.

Terkendala Pemasaran Online

Ditanya kendala, Enur mengeluhkan, saat ini belum bisa memasarkan batik hasil karyanya ini melalui online.

“Inginnya, ke depan itu pemasarannya bisa lewat online. Kalau selama ini, yang membeli datang langsung ke sini (Rumah produksi),” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumedang, Harry Tri Santosa mengatakan, akan berupaya membantu mengembangkan pemasarannya.

Salah satu caranya, kata Harry, Disparbudpora akan bekerjasama dengan Diskoperindag Sumedang untuk memberikan pelatihan pemasaran melalui online.

“Karena potensinya bagus. Kami akan coba bantu pemasarannya. Akan kami koordinasikan dengan PHRI juga agar nantinya, tiap pengusaha hotel dapat membantu pemasarannya.”

“Selain itu, kami juga sudah bekerjasama dengan media daring agar semua produk Sumedang ini bisa dijual melalui online,” ucap Harry.

Harry menambahkan, saat ini, di Sumedang sudah ada 4 pengrajin batik Kasumedangan.

“Empat pengrajin tersebut tersebar di Kecamatan Tanjungsari, Pamulihan, Sumedang Selatan, dan Conggeang,” ujar Harry. (R003)

Baca berita lainnya: Mengenal Ong Bung Keng, Perintis Tahu Sumedang Sejak 1900-an

Loading...

Komentar

loading...
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Rentan Terpapar Corona, 100 Jurnalis di Depok Jalani Rapid Test

DEPOK, ruber.id - Seratus jurnalis yang aktif melakukan peliputan di wilayah Depok, Jawa Barat menjalani tes rapid test, Senin (6/4/2020).

Pamsimas di Sumedang Selatan Ditutup Warga, Ini Alasannya

SUMEDANG SELATAN, ruber.id - Masyarakat di Lingkungan RT 05/04 tutup Pamsimas di Desa Sukagalih, Sumedang Selatan, Sumedang, Senin (6/4/2020).

Di Sumedang Utara, Bantuan untuk Pedagang di Sekolah Sudah Disalurkan

SUMEDANG UTARA, ruber.id - Bantuan sembako dari Pemkab Sumedang, Jawa Barat sudah dibagikan kepada para pedagang di sekolah.

Warga Sumedang Tewas Tersambar Petir

UJUNGJAYA, ruber.id - Kiki Arta, 59, warga Duaun Pasir Tengah RT 01/05, Desa Keboncau, Kecamatan Ujungjaya, Sumedang tewas tersambar petir, Senin (6/4/2020)...

Ada Lapak Asik, BPJamsostek Sumedang Pastikan Layanan Klaim JHT Normal Selama Pandemi COVID-19

SUMEDANG, ruber.id - BPJamsostek (Badan Penyelanggara Jaminan Sosial Ketenegakerjaan) Kantor Cabang Sumedang memastikan setiap pelayanan pencairan klaim Jaminan Hari Tua (JHT) berjalan...