Sejarah dan Latar Belakang Peringatan Hari Pers Nasional

Sejarah dan Latar Belakang Peringatan Hari Pers Nasional
Foto ilustrasi oleh Leah Kelley dari Pexels.

KOPI PAGI, ruber.id – Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 5/1985.

Presiden Soeharto, menandatangani Kepres tersebut pada tanggal 23 Januari 1985.

Peringatan HPN ini bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Bapak Pers Nasional

HPN tidak terlepas dari jasa Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, yang dinobatkan sebagai Bapak Pers Nasional.

Ini karena, jasanya sebagai perintis jurnalistik nasional.

Tirto, disebut Bapak Pers Indonesia karena merupakan orang Indonesia pertama yang mampu menerbitkan surat kabar yang ditulis, dimodali, dan dikelola oleh kaum bumi putra sendiri.

Tirto memulai jalan jurnalismenya dengan mendirikan Soenda Berita (SB), yang mulai terbit pada 7 Februari 1903.

Baca juga:  Ngudag Tapak, Katara Badranaya Ajak Generasi Milenial Tasikmalaya Susuri Tempat Bersejarah

SB berdiri dari hasil penjualan seluruh harta benda Tirto, selama tinggal di Jakarta.

Empat tahun berselang, Tirto mendirikan kembali surat kabar yang cakupannya lebih luas.

Yakni, Medan Prijaji (MP) yang mulai terbit pertama pada Januari 1907.

Andil perjuangan jurnalistik Tirto kian meluas, hingga mewujud menjadi wartawan pembela kaum tertindas.

Tirto, merupakan perintis jurnalisme advokasi yang pertama di Indonesia.

Dengan menggunakan kuasa media, sebagai senjata untuk memperjuangkan nasib rakyat atau sebagai pengawal pikiran umum.

Lahirnya MP, kemudian menjadi saluran Tirto dalam menyuarakan visi kebangsaan masa itu.

Tirto juga tercatat mendirikan media dengan nama Soeloh Keadilan (1907), yang menjadi media penyuluh bidang hukum dan pemerintah.

Baca juga:  14 September, Sejarah Hari Kunjungan Perpustakaan: Geliatkan Budaya Gemar Membaca

Selain juga, Poetri Hindia (1908) yang menjadi surat kabar perempuan pertama masa itu.

Atas jasanya, pada 10 November 2006, Tirto mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Jasa Kehormatan Maha Putra Adipratama.

Penghargaan ini, Tirto terima pada masa pemerintahan Presiden Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tercatat, selain media, Tirto juga membidani organisasi pergerakan.

Pada 1906, Tirto mendirikan Sarikat Prijaji.

Organisasi yang Tirto kelola secara modern pertama yang dua tahun lahir sebelum lahirnya Boedi Oetomo (BO) pada 1908.

Kemudian, pada 1909, Tirto juga mendirikan Sarekat Dagang Islamiah (SDI) di Bogor, dan 1911 di Batavia.

Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal Sarekat Islam, yang turut membesarkan nama HOS Tjokroaminoto.

Baca juga:  Sejarah Kota Bandung, Asal Nama hingga Jadi Lautan Api

Lahirnya PWI