Budi Utomo, Sejarah Berdiri hingga Pembubaran

Budi Utomo, Sejarah Berdiri hingga Pembubaran
Sejarah Budi Utomo. Foto: internet

KOPI PAGI, ruber.id – Sejarah berdirinya organisasi Budi Utomo, menandai kebangkitan nasional Indonesia.

Organisasi bentukkan beberapa mahasiswa School tot Opleiding van Indische Arsten (STOVIA), ini bertujuan untuk menjamin kehidupan bangsa yang terhormat.

Sejarah kelahiran Budi Utomo, menjadi penanda terjadinya perubahan bentuk perjuangan dalam meraih kemerdekaan.

Dari yang tadinya bersifat kedaerahan berubah, menjadi nasional dengan tujuan yang satu.

Perjuangan mengusir penjajah yang awalnya hanya mengandalkan kekuatan fisik, berganti dengan perjuangan baru yang mengutamakan kekuatan pemikiran.

Maka, Budi Utomo menjadi pelopor perjuangan dengan memanfaatkan kekuatan pemikiran.

Peran dr. Wahidin Soedirohusodo

Pendirian Budi Utomo, tidak lepas dari peran dr. Wahidin Soedirohusodo.

Wahidin, merupakan lulusan sekolah dokter Jawa di STOVIA.

Pada tahun 1901, Wahidin menjadi direktur sebuah majalah bernama Retnodhoemilah atau Ratna yang berkilauan.

Majalah ini terbit dalam bahasa Jawa dan Melayu dan peruntukkannya khusus untuk kalangan priyayi.

Hal ini, mencerminkan besarnya perhatian seorang priyayi terhadap masalah dan status golongan priyayi itu sendiri.

Wahidin juga berusaha untuk memperbaiki masyarakat Jawa, melalui pendidikan Barat.

Baca juga:  Sawah Segar Sentul, Wisata Kuliner dengan Pemandangan Alam

Melalui semboyan hendak meningkatkan martabat rakyat, Wahidin pada 1906 dan 1907 mulai melakukan kampanye di kalangan priyayi di Pulau Jawa.

Saat berkampanye di Jawa Tengah, Wahidin memberikan gagasannya tentang Dana Pelajar.

Dana Pelajar ini, bertujuan untuk membantu para pemuda cerdas yang tidak dapat melanjutkan sekolah.

Sayangnya, gagasan ini tidak mendapat tanggapan yang cukup dari rakyat.

Pada akhir 1907, Wahidin bertemu dengan Sutomo, pelajar STOVIA di Jakarta.

Sebenarnya, keinginan untuk meningkatkan kedudukan dan martabat rakyat sudah ada pada para pelajar STOVIA.

Setelah mendengar kampanye Wahidin, Sutomo pun merasa lebih terdorong untuk mencapai cita-citanya tersebut.

Sutomo kemudian menjelaskan maksud dari kampanye Wahidin kepada teman-temannya di STOVIA.

Pelopor Kebangkitan Nasional

Setelah rangkaian diskusi, akhirnya perhimpunan Budi Utomo terentuk.

R. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeradji Tirtonegoro.

Kemudian, Gondo Soewarno, Soelaiman, Angka Prodjosudirdjo, M. Soewarno, Moehammad Saleh, dan RM. Goembrek adalah sembilan orang yang mendirikan Budi Utomo.

Meski kemudian, pengurus besarnya dijabat oleh orang-orang lebih tua yang bergabung.

Baca juga:  Sejarah Hari Radio Sedunia

Bermula dari situ, akhirnya pada 20 Mei 1908, lahirlah organisasi Budi Utomo di Jakarta.

Sutomo pun, menjadi ketua dari Budi Utomo.

Peristiwa terbentunya Budi Utomo ini, menjadi penanda Hari Kebangkitan Nasional.

Setelah berdirinya Budi Utomo, muncul organisasi-organisasi di berbagai bidang.

Seperti Perhimpunan Indonesia, Sarekat Islam, Indische Partij, dan organisasi lain yang berkaitan dengan Budi Utomo.

Meski organisasi-organisasi tersebut memiliki ideologi berbeda-beda, di masa pergerakkan, semua memiliki tujuan yang sama.

Yaitu, untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan bangsa.

Keberagaman organisasi di masa itu dapat mempercepat tercapainya kemerdekaan karena saling melengkapi.

?aka, berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, menjadi awal gerakkan yang menjadi tonggak kemerdekaan Indonesia.

Terjun di Politik

Organisasi Budi Utomo mulai terjun dalam bidang politik, sejak meletus Perang Dunia 1 pada tahun 1914.

Saat itu, Jerman mengumumkan perang kepada Rusia.

Kemudian oleh Perancis, pada 3 Agustus 1914 mengumumkan perang pada Jerman.

Pada 4 Agustus 1914, Inggris mengumumkan perang kepada Jerman.

Sehingga, peperangan pun meletus.

Baca juga:  Sejarah Gajah Mada dan Sumpah Palapa

Bersamaan dengan peristiwa ini, Budi Utomo melakukan gerakan-gerakan di bidang politik.

Yaitu, melancarkan isu politik bahwa mempertahankan diri sendiri lebih penting dari serangan bangsa lain.

Mendukung, adanya gagasan wajib militer bagi bangsa pribumi.

Mengirim Komite Indie Weerbaar ke Belanda untuk memperkuat pertahanan Hindia (Indonesia).

Sejarah Bubarnya Budi Utomo

Semasa organisasi Budi Utomo berdiri, terdapat organisasi lain yang juga terbentuk.

Yaitu Sarekat Islam (1911), Muhammadiyah (1912).

Kemudian, Indische Partij (1913), Jong Minahasa (1919), dan Nahdlatul Ulama (1926).

Selama Budi Utomo berjalan, rupanya organisasi ini tidak mendapat dukungan yang cukup dari massa.

Secara politik, kedudukan Budi Utomo juga kurang begitu penting.

Karena Budi Utomo, mengalami kemunduran, maka perjuangan nasionalisme ini diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij.

Budi Utomo pun bubar dengan meleburkan diri dalam Perhimpunan Bangsa Indonesia (PBI), yang Sutomo dirikan.

Dari peleburan dua organisasi ini, lahirlah Partai Indonesia Raya (Parindra), dan organisasi Budi Utomo resmi bubar pada 1935.

Penulis: Eka Kartika Halim/Editor: Bam