19.4 C
Indonesia
Rabu, September 22, 2021
spot_img

Pembudidaya Lebah Teuweul di Pangandaran Hasilkan Omzet Ratusan Juta

BERITA EKBIS, ruber.id – Semua orang pasti tahu madu, cairan kental dengan rasa manis yang memiliki beragam manfaat. Di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ada kelompok pembudidaya lebah teuweul menghasilkan ratusan juta setiap panen.

Bagi Kelompok KTH Banyu Metu di Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang ini, madu bukan sekedar manis, namun juga menjanjikan dari sisi ekonomi.

Budidaya teuweul atau trigona yang dilakukan kelompok ini, dirintis sejak 2019 lalu dengan lahan seadanya. Awalnya, kelompok ini berulang kali mengalami berbagai kegagalan.

Namun, kegagalan-kegagalan tersebut tak membuat semangatnya tumbang. Mereka semakin aktif mencari tahu dan belajar cara mengelola peternakan madu dari lebah teuweul itu.

Ketua Kelompok KTH Banyu Metu Supardi mengatakan, pada lahan seluas 1 hektare ada sebanyak 1.000 kotak pembudidayaan lebah (stup) yang dimiliki kelompoknya. Stup itu terbuat dari bambu atau limbah kayu.

BACA JUGA:  Uang Ganti Isolasi Mandiri Diubah Jadi Paket Bahan Makanan
BACA JUGA:  Soal PPKM, Pelaku Usaha Wisata di Pangandaran Dukung Pemerintah

“Dalam proses pembudidayaan lebah teuweul ini hanya diperlukan keuletan, jangan mudah putus asa. Kami juga tidak langsung begini, sempat mengalami kegagalan dulu,” kata Supardi.

Saat ini, madu yang didapat kelompok tersebut pada setiap kali panen sebanyak 1/2 kilogram/stup. Panen dilakukan setiap satu bulan. Kelompok KTH Banyu Metu ini hanya memiliki dua macam spesies, yakni biroi dan itama.

“Rata-rata pendapatan setiap panen mencapai Rp150 juta. Itu juga tidak semua (stup) bisa dipanen. Karena masih ada yang belum bisa menghasilkan madu dengan baik,” ujarnya.

Supardi menuturkan, di masa pandemi sekarang ini lebih banyak permintaan dibandingkan sebelum pandemi Covid-19, 200 sampai 300% permintaan. Namun, kelompoknya ini belum bisa memenuhi permintaan itu.

BACA JUGA:  Lewat Video Conference, Menteri Susi Resmikan Pabrik Pakan Ikan di Pangandaran

“Kami baru bisa melayani wilayah Pangandaran, Ciamis dan Tasik. Mungkin kalau punya banyak koloni, permintaan dari luar kota bisa terlayani. 1.000 kotak ini terbilang masih sedikit,” tuturnya.

BACA JUGA:  Uang Ganti Isolasi Mandiri Diubah Jadi Paket Bahan Makanan

Supardi menyebutkan, dalam perawatan budidaya lebah teuweul ini tidak begitu sulit. Termasuk untuk pakan lebah pun hanya cukup dengan menyediakan bunga-bunga di area stup.

“Dalam satu koloni atau satu stup itu kita sediakan tiga tanaman. Karena kita sediakan pakan pokok lebahnya, ada Nektar, Polen, Resin atau biasa disebut NPR,” sebutnya.

Supardi menerangkan, lebah teuweul ini jarang terjadi imigrasi atau kabur, berbeda dengan lebah lainnya. Meski masih bisa berkeliaran keluar area untuk mencari makan.

BACA JUGA:  Lumbung Padi di Pangandaran Ini Dapat Bantuan Rp500 Juta

Selain itu, lebah teuweul ini tidak mengganggu dan tak menyengat ke manusia yang ada di sekelilingnya. Justru sangat membantu penyerbukan bunga atau pembuahan.

“Kemudian lebah teuweul atau trigona ini cenderung lebih kuat meski di sekelilingnya ada asap atau suara keramaian maupun kegaduhan manusia,” ucapnya. (R002)

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles