Haidar Alwi Diusulkan Jadi Menteri BUMN Kabinet Indonesia Kerja Jilid II

NEWS, ruber.id Penanggung Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) R Haidar Alwi diusulkan masuk dalam Kabinet Indonesia Kerja Jilid II.

Haidar didorong sebagai Menteri BUMN dalam pemerintahan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.

Ketua Umum JPKP RI A Ferry Gunawan menyatakan dukungan pada Haidar Alwi. Karena, gebrakannya saat menjabat sebagai Penanggung Jawab ARJ.

“Sehubungan dengan pernyataan dari Pak Jokowi bahwa partai politik dan relawan dipersilakan memberi usulan calon menteri.”

“Maka, saya dan berbagai organisasi yang saat ini berada di bawah ARJ sekitar 800 ketum organ di ARJ akan memberikan dukungan.”

“Kami, mengusulkan Bapak R Haidar Alwi sebagai menteri BUMN,” katanya dalam pesan rilis yang diterima ruber.id.

Baca juga:  Gempa M5,2 Guncang Pesisir Barat Lampung, Tidak Berpotensi Tsunami

JPKP RI menanggap, Haidar Alwi sebagai sosok yang pas untuk menjabat Menteri BUMN.

Hal itu, setelah melihat gebrakannya yang terus fokus dan konsisten bicara bahaya radikalisme dan intoleransi.

Apalagi, kata Ferry, berdasarkan survei terbaru sebagian besar ASN dan BUMN sudah terpapar paham radikalisme.

Menurutnya, ini sangat berbahaya untuk negeri ini.

Untuk itu, ia menganggap sosok Haidar Alwi mampu memberantas radikalisme dan intoleransi di tubuh ASN dan BUMN.

“Menurut kami, sosok calon pembantu presiden dan wakil presiden dalam Kabinet Indonesia Kerja II ini harus berani. Punya integritas, kapabilitas, mampu menjawab tantangan zaman (progresif).”

“Harus nasionalis, berdedikasi, loyal serta setia kepada ideologi Pancasila dan NKRI.”

Baca juga:  Gempa M7,1 Guncang Tonga Islands, Tidak Berpotensi Tsunami di Indonesia

“Kami anggap, Pak Haidar sebagai sosok terbaik yang mampu membuat banyak perubahan di Kementerian BUMN. Khususnya, terkait masalah radikalisme dan intoleransi,” ucapnya.

Haidar juga dikenal sosok yang tegas, berani, loyal dan setia kepada Pancasila dan NKRI.

“Apalagi, selama ini beliau sangat aktif bicara tentang bahaya radikalisme dan intoleransi di mana-mana.”

“Selain mempertimbangkan leadership, kecepatan gerak. Juga, kemampuan mengambil risiko, kemampuan manajerialnya,” tuturnya. ***