27.4 C
Indonesia
Sabtu, Juli 31, 2021
spot_img

Alat Peringatan Dini Tsunami di Pangandaran Hanya Ada Dua

BERITA PANGANDARAN, ruber.id – Early Warning System atau EWS di sepanjang pantai di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat hanya terdapat dua buah. Alat peringatan dini bencana tsunami hanya ada di Bojongsalawe Kecamatan Parigi dan Desa/Kecamatan Pangandaran.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangandaran Dani Hamdani mengatakan, pantai sepanjang 91 kilometer ini idealnya terpasang sebanyak 20 EWS.

“Sebelumnya memang ada beberapa buah alat peringatan dini tsunami, yang lainnya tidak berfungsi. Hanya dua yang tersisa sekarang ini,” kata Dani, Minggu (18/7/2021).

Keberadaan EWS ini sangat penting untuk peringatan serta kewaspadaan warga setempat terhadap tsunami. Kedua EWS yang berfungsi hingga saat ini biasa dibunyikan setiap bulan sebagai percobaan.

BACA JUGA:  Ini Biang Kerok Warga Isolasi Mandiri Keluyuran di Pangandaran
BACA JUGA:  3 Hektare Perkebunan di Pangandaran Terbakar

“Dengan keterbatasan alat itu, kami sudah mengajukan penambahan kepada pihak provinsi. Namun belum ada realisasinya. Kami ingin memasang beberapa buah lagi, terutama di daerah yang rawan,” tuturnya.

Dani menyebutkan, Pantai Pangandaran, Legokjawa, Batu Hiu, Madasari dan Ciparanti merupakan daerah yang masuk kategori rawan. Lantaran wilayah tersebut padat penduduknya.

“Fungsi EWS ini sangat vital buat mengantisipasi terjadinya gelombang pasang tsunami. Sangat berguna untuk memperingatkan warga agar segera keluar dari rumah karena ada gelombang tsunami,” sebutnya.

Begitu juga ketika terjadi gempa yang episentrumnya berada di tengah laut hingga getarannya dirasakan warga. Maka pengeras suara alat peringatan dini tsunami itu berfungsi juga untuk mengingatkan warga.

BACA JUGA:  Korban Perilaku Menyimpang di Pangandaran Enggan Lapor, Ini Alasannya
BACA JUGA:  Budidaya Ikan di Pangandaran Tak Terdampak Pandemi Covid-19

Kabid Kedaruratan dan Logostik BPBD Pangandaran Jajang Herliana Lilihar menambahkan, EWS berfungsi untuk meminimalisasi terjadinya korban saat datang gelombang tsunami.

“Ada waktu 20 menit setelah ada gempa untuk mengevakuasi warga. Lima menit awal dibutuhkan untuk menganilisis potensi terjadinya tsunami. Jika berpotensi, maka EWS dibunyikan,” tambahnya. (R002)

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles