Anak Yatim di Pangandaran Segera Didata, Pemkab Akan Berikan Perhatian Khusus

  • Bagikan
Img
BUPATI Pangandaran Jeje Wiradinata gelar doa bersama dengan kaum dhuafa dan anak yatim. dede/ruber.id

PANGANDARAN, ruber.id – Anak yatim di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat masih kurang mendapat perhatian, lantaran selama 4 tahun lebih Pemkab fokus kepada urusan makro.

Di antaranya pendidikan dan biaya berobat gratis, infrastruktur serta penataan kawasan. Sehingga, berbagai urusan mikro semacam perhatian terhadap anak yatim masih kurang.

Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata mengaku, hatinya terketuk untuk memberikan perhatian khusus terhadap anak yatim dan kaum dhuafa.

Selama 4 tahun lebih, kata Jeje, Pemkab fokus terhadap urusan makro. Untuk perhatian urusan mikro diakuinya memang kurang terperhatikan.

“Saya baru ingat, ada yayasan yang mengurus anak yatim piatu di Pangandaran,” kata Jeje di Islamic Center Kecamatan Pangandaran.

Dirinya mengakui, Yayasan Almaa’uuna itu belum tersentuh secara khusus oleh Pemkab Pangandaran. Maka dari itu, pihaknya akan membantu kebutuhan sekolah mereka (anak yatim).

“Perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu, buku dan seragamnya kami bantu. Ini saatnya Pemkab hadir di tengah-tengah mereka,” ujarnya.

Bahkan, kata Jeje, di saat menjelang akhir masa kampanye nanti pihaknya akan mendata seluruh anak yatim piatu di Kabupaten Pangandaran.

“Kalau anak yatim piatu disatukan, kami bisa bantu untuk kebutuhan hidup sehari-harinya. Saya kira anggarannya tidak akan terlalu besar,” tuturnya.

Terlebih, pendidikan menjadi hal yang penting bagi anak yatim agar bisa melanjutkan sekolah dan menggapai cita-cita yang diinginkannya.

Bupati Jeje Berikan Santunan kepada Dhuafa dan Anak Yatim

Senin (27/7/2020) malam, Jeje Wiradinata bersama istrinya Ida Nurlaela dan putra keduanya memberikan santunan kepada kaum dhuafa dan ratusan anak yatim.

“Kalau boleh jujur, saya juga ditinggal sama orang tua terasa betul sedihnya. Apalagi mereka yang masih kecil, masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya,” ungkapnya.

Jeje menceritakan, dirinya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Lahir dari seorang ibu rumah tangga dan bapak seorang nelayan.

“Sengaja anak saya dibawa ke acara doa bersama dengan dhuafa dan anak yatim. Supaya dia tahu dan merasakan bagaimana jika ditinggal oleh kedua orang tua,” ucapnya.

Dalam acara tersebut, tampak hadir juga sejumlah anggota DPRD Pangandaran dan puluhan masyarakat di sekitar Islamic Center Pangandaran. (R002/dede ihsan)

BACA JUGA: Di Tengah Pandemi Corona, Grand Pangandaran Berikan Bantuan kepada Anak Yatim Piatu

  • Bagikan