SPORTS, ruber.id – Paris Saint Germain (PSG) kembali menorehkan sejarah di pentas sepak bola Eropa dengan menjuarai UEFA Champions League (UCL) dua kali secara berturut-turut alias back to back.
Klub raksasa Prancis itu, sukses mempertahankan mahkota Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal melalui drama adu penalti pada final UCL 2025/2026 di Stadion Puskás, Budapest, Hungaria, Sabtu (30/5/2026).
Kemenangan tersebut, memastikan PSG meraih gelar Liga Champions dua musim berturut-turut atau back to back.
Di mana sebelumnya, PSG juga menjadi juara pada edisi 2024/2025 di Munich, Jerman.
Ulasan pertandingan final UCL antara PSG vs Arsenal
Pertandingan, berlangsung ketat sejak menit awal.
Arsenal, membuka keunggulan cepat pada menit ke-5 melalui Kai Havertz.
Penyerang asal Jerman itu, mencetak gol dari peluang yang sangat sulit dan membawa The Gunners unggul 1-0 hingga turun minum.
PSG yang lebih banyak menguasai permainan kesulitan menembus pertahanan disiplin Arsenal.
Namun, titik balik terjadi pada menit ke-64 ketika Ousmane Dembélé sukses mengeksekusi penalti dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Skor imbang bertahan hingga waktu normal berakhir.
Pada babak tambahan 2×15 menit, kedua tim tetap gagal mencetak gol.
Sehingga, pemenang harus ditentukan melalui adu penalti.
Drama adu penalti penentu juara
Dalam babak adu penalti, PSG tampil lebih tenang.
Empat dari lima eksekutor Les Parisiens berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara, hanya Nuno Mendes yang gagal mencetak gol.
Di kubu Arsenal, dua penendang gagal menuntaskan tugasnya.
Eberechi Eze dan Gabriel Magalhães tidak mampu mengonversi penalti menjadi gol.
Sehingga, PSG menang 4-3 dan mengunci trofi Liga Champions untuk kedua kalinya secara beruntun.
Sederet fakta Final UCL musim 2025/2026, Dembélé dan Vitinha jadi sorotan
Ousmane Dembélé, kembali menjadi salah satu pemain kunci PSG.
Gol penaltinya di final menambah koleksi menjadi delapan gol dan dua assist di Liga Champions musim ini.
Kontribusinya yang konsisten, membantu PSG mempertahankan dominasi di Eropa.
Sementara itu, gelandang Vitinha dinobatkan sebagai Man of the Match berkat penampilan impresifnya sepanjang pertandingan.
Ia menjadi motor permainan PSG dalam laga yang berlangsung sengit tersebut.
Arsenal gagal wujudkan mimpi
Meski harus pulang tanpa trofi, para pemain Arsenal tetap mendapat apresiasi atas perjuangan mereka sepanjang musim.
Kapten Arsenal, Declan Rice, mengaku bangga dengan kerja keras rekan-rekannya.
“Kami memberikan segalanya di lapangan. Kami, menang bersama dan kalah bersama.”
“Saya bangga kepada tim ini. Kami akan kembali lebih kuat,” ujar Rice dikutip ruber.id dari akun X jurnalis Fabrizio Romano, Minggu (31/5/2026).
Momen emosional juga, terlihat setelah laga berakhir.
Gabriel Magalhães, yang gagal mengeksekusi penalti mendapat dukungan dari rekan setimnya. Termasuk dari Kai Havertz, serta penghiburan dari kapten PSG, Marquinhos.
Era keemasan PSG berlanjut
Keberhasilan ini, semakin menegaskan era keemasan PSG di bawah asuhan Luis Enrique.
Pelatih asal Spanyol tersebut, berhasil mempersembahkan dua gelar Liga Champions secara beruntun bagi klub ibu kota Prancis itu.
Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi, turut merayakan keberhasilan bersejarah tersebut dengan mengangkat trofi Liga Champions untuk kedua kalinya secara beruntun.
Dengan kemenangan ini, PSG semakin mengukuhkan statusnya sebagai kekuatan baru sepak bola Eropa.
Sebaliknya, Arsenal masih harus menunda impian meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub. ***







