Sunday, 31 May 2020

RSUI Gunakan Bilik Swab Test Hasil Inovasi Universitas Indonesia

Baca Juga

Ratusan Anggota BPD Dilantik, Ini Pesan Bupati Pangandaran

PANGANDARAN, ruber -- Sebanyak 633 angota BPD (Badan Permusyawaratan Desa) dari 91 desa di Kabupaten Pangandaran ikuti prosesi pelantikan di Gedung Islamic Center, Kecamatan...

Mahasiswi Cantik Unpad Pangandaran Jienita Klistina Berhasil Terbitkan 7 Judul Novel Cinta

PANGANDARAN, ruber.id -- Jienita Klistina adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran (UNPAD) Pangandaran. Selain sebagai mahasiswa semester...

Baznas Sumedang Apresiasi Permintaan Penarikan Infak dari Anggota Polres

SUMEDANG, ruber.id - Permintaan Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo terkait penarikan infak dari seluruh jajaran anggotanya diapresiasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumedang. Ketua Baznas...

Hipmi Pangandaran Periksakan Diri ke Puskesmas Paska Ikuti Musda di Karawang

PANGANDARAN, ruber.id - Sebanyak enam anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Pangandaran, Jawa Barat memeriksakan diri ke Puskesmas, Selasa (24/3/2020).

DEPOK, ruber.id – Pemeriksaan swab test merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi virus corona dengan menggunakan menggunakan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR).

Dalam swab test corona, petugas medis akan mengambil sampel lendir dari saluran pernapasan, yaitu hidung dan tenggorokan.

Sampel ini kemudian dibawa ke laboratorium dan diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi ada tidaknya DNA virus corona.

Menurut badan kesehatan dunia WHO, pemeriksaan swab sampai hari ini masih merupakan golden standar untuk pemeriksaan COVID-19.

Ini karena, tingkat realibilitas dan validitasnya yang lebih tinggi dibanding metode pemeriksaan lain.

Namun, swab test tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi petugas medis yang melakukan pengambilan sampel.

Karena, harus berhadapan atau kontak langsung dengan orang yang diambil samplenya.

Namun kini, atas hasil kerja keras inovasi lintas bidang ilmu di Universitas Indonesia (UI).

Mulai dari para dokter di Fakultas Kedokteran (FKUI), insinyur di Fakultas Teknik (FTUI) dan para akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI).

Yang bekerjasama dengan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).

Bilik swab test atau Swab Test Chamber ini berhasil dikembangkan sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai alat penunjang pemeriksaan swab PCR.

Dekan Fakultas Kedokteran UI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, menuturkan keberadaaan Swab Test Chamber yang dirancang oleh kolaborasi lintas keilmuan di UI ini, tentu sangat penting dan bermanfaat.

Khususnya untuk melindungi para tenaga medis dalam pemeriksaan swab COVID-19.

Selain rasa aman, para tenaga medis yang memeriksa pasien dengan menggunakan Swab Test Chamber ini juga akan merasa nyaman.

“Inovasi yang sangat bermanfaat untuk mengatasi pandemi COVID-19,” jelasnya.

Sementara, Pj Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI Dr. Beta Yulianita Gitaharie, S.E., M.E. menyebutkan inovasi bilik swab test juga dapat menjadi faktor pendorong ketahanan ekonomi di tengah masa pandemi COVID-19.

“Kehadiran Bilik Swab Test COVID-19 merupakan bukti nyata bahwa kita telah tiba pada suatu zaman.”

“Di mana kolaborasi adalah kunci untuk melangkah maju bersama-sama,” sebutnya.

Beta mengatakan, kemandirian dalam berproduksi khususnya pada bidang kesehatan di masa pandemi ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan di sektor kesehatan, tetapi juga mendorong ketahanan ekonomi.

RSUI, kata Beta, merupakan rumah sakit yang pertama menggunakan bilik swab hasil inovasi multidisplin bidang ilmu tersebut.

Inovasi bilik swab yang dikembangkan ini telah diuji fungsi sehingga aman untuk digunakan.

Direktur Utama RSUI dr. Astuti Giantini, Sp.PK. MPH menuturkan adanya inovasi bilik tes swab ini sangat membantu dalam penanganan COVID-19, khususnya untuk rumah sakit.

“Bilik swab menjadi salah satu alternatif untuk melindungi tenaga medis. Karena mereka bisa bertugas dengan tetap menekan risiko paparan virus corona,” terangnya.

Selain itu, kata Astuti, terbatasnya alat pelindung diri (APD) maka bilik swab diharapkan dapat menghemat penggunaan APD di rumah sakit.

“Karena mereka tidak perlu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap,” jelasnya.

Manfaat lain, kata Astuti, yang tidak kalah penting dari bilik swab test yakni dapat meningkatkan kapasitas diagnostik pemeriksaan COVID-19.

Sehingga, kata dia, akan semakin banyak sampel swab yang dapat diambil.

“Jika biasanya pemeriksaan swab PCR dilakukan untuk pasien ODP atau PDP rawat inap.”

“Maka adanya bilik swab ini, RSUI juga dapat melakukan pengecekan swab PCR bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG) pada rawat jalan.”

“Sehingga adanya alat ini pemeriksaan untuk swab bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Pengembangan bilik swab COVID-19 ini didukung oleh hibah Program Pendanaan Perancangan dan Pengembangan Purwarupa (P5).

Khusus penanganan COVID-19 dari Direktorat Inovasi dan Sains Tekno Park (DISTP) Universitas Indonesia.

Dalam proses pengembangan produk, purwarupa bilik swab mengacu pada standar keamanan laboratorium kementerian kesehatan yang mencakup tekanan udara, pengaturan aliran udara, dan protap pemeriksaan COVID-19 di RSUI.

Dekan Fakultas Teknik UI Dr. Ir. Hendri Dwi Saptioratri Budiono, M.Eng, juga mengapresiasi inovasi pengembangan bilik swab test ini.

“Ternyata kita bisa membuat sendiri berbagai produk bila berkolaborasi dan bersinergi antardisiplin ilmu.”

“Semoga bangsa ini tidak jadi bangsa yang hanya mampu mengimpor.”

“Membuat adalah jawaban yang tepat untuk meningkatkan ketahanan dalam berbangsa dan bernegara.”

“Di sisi lain, pentingnya kebijakan pemerintah yang berpihak ke produk dalam negeri untuk menumbuhkan ekosistem industri kesehatan yang kondusif,” jelasnya.

Selain menggunakan material berkualitas tinggi, kata dia, dalam proses pengembangan produk juga dilakukan simulasi penggunaan bilik swab oleh dokter dan tenaga kesehatan.

Hal ini agar proses pemeriksaan dapat berlangsung aman, nyaman, serta sesuai dengan kondisi tempat diletakkannya bilik swab (dalam ruangan atau luar).

Bilik, kata dia, juga disesuaikan dengan kondisi Indonesia yang panas dan lembab.

Sehingga, bilik swab ini dilengkapi dengan sambungan aliran udara yang memiliki filter dan bertekanan positif di dalamnya agar pemeriksa menjadi lebih nyaman dan terlindungi.

“Kami berterima kasih kepada bidang ilmu multidisplin di UI yang telah bekerja sama dalam mengembangkan inovasi bilik swab ini.”

“Dengan tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bagi petugas medis dan pasien yang dites,” ucapnya.

Saat ini, RSUI baru menggunakan satu bilik swab yang berada di area pemeriksaan Poli Melati.

Bilik swab dilindungi dengan disinfektan dan ultraviolet, sehingga menjamin tetap aman untuk dilakukan pemeriksaan pada pasien berikutnya.

Untuk komunikasi dengan pasien di luar, bilik dilengkapi sistem penerangan dan audio.

“Adanya bilik swab test juga merupakan upaya RSUI dalam menerapkan pencegahan dan pengendalian penularan virus corona.”

“Khususnya, saat pengambilan sampel,” sambung Astuti.

Terapkan Protokol Kesehatan Ketat di Rumah Sakit
Selain itu, RSUI telah menerapkan protokol kesehatan pengendalian infeksi yang ketat di area rumah sakit.

Sehingga, masyarakat tidak perlu khawatir untuk datang ke rumah sakit.

RSUI menerapkan pemisahan area pelayanan infeksius dan noninfeksius, termasuk COVID-19 dan Non-COVID-19.

Sesuai standar pencegahan dan pengendalian penularan COVID-19 baik pada layanan rawat jalan maupun rawat inap.

Ruang perawatan khusus COVID-19 seluruhnya bertekanan negatif, termasuk ruang operasi, persalinan, dan perawatan intensif.

Seluruh pengunjung dan pasien, dilakukan screening kesehatan awal sebelum memasuki area rumah sakit dan wajib menggunakan masker serta menjaga kebersihan tangan.

“RSUI berkomitmen untuk tetap memberikan pelayanan yang dibutuhkan, dengan memastikan keamanan dan keselamatan bagi seluruh pasien dan pengunjung,” ujar Astuti. (R008/Moris)

BACA JUGA: RSUI Gunakan Bilik Swab Test Hasil Inovasi Universitas Indonesia

DEPOK, ruber.id – Pemeriksaan swab test merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi virus corona dengan menggunakan menggunakan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR).

Dalam swab test corona, petugas medis akan mengambil sampel lendir dari saluran pernapasan, yaitu hidung dan tenggorokan.

Sampel ini kemudian dibawa ke laboratorium dan diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi ada tidaknya DNA virus corona.

Menurut badan kesehatan dunia WHO, pemeriksaan swab sampai hari ini masih merupakan golden standar untuk pemeriksaan COVID-19.

Ini karena, tingkat realibilitas dan validitasnya yang lebih tinggi dibanding metode pemeriksaan lain.

Namun, swab test tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi petugas medis yang melakukan pengambilan sampel.

Karena, harus berhadapan atau kontak langsung dengan orang yang diambil samplenya.

Namun kini, atas hasil kerja keras inovasi lintas bidang ilmu di Universitas Indonesia (UI).

Mulai dari para dokter di Fakultas Kedokteran (FKUI), insinyur di Fakultas Teknik (FTUI) dan para akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI).

Yang bekerjasama dengan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).

Bilik swab test atau Swab Test Chamber ini berhasil dikembangkan sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai alat penunjang pemeriksaan swab PCR.

Dekan Fakultas Kedokteran UI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, menuturkan keberadaaan Swab Test Chamber yang dirancang oleh kolaborasi lintas keilmuan di UI ini, tentu sangat penting dan bermanfaat.

Khususnya untuk melindungi para tenaga medis dalam pemeriksaan swab COVID-19.

Selain rasa aman, para tenaga medis yang memeriksa pasien dengan menggunakan Swab Test Chamber ini juga akan merasa nyaman.

“Inovasi yang sangat bermanfaat untuk mengatasi pandemi COVID-19,” jelasnya.

Sementara, Pj Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI Dr. Beta Yulianita Gitaharie, S.E., M.E. menyebutkan inovasi bilik swab test juga dapat menjadi faktor pendorong ketahanan ekonomi di tengah masa pandemi COVID-19.

“Kehadiran Bilik Swab Test COVID-19 merupakan bukti nyata bahwa kita telah tiba pada suatu zaman.”

“Di mana kolaborasi adalah kunci untuk melangkah maju bersama-sama,” sebutnya.

Beta mengatakan, kemandirian dalam berproduksi khususnya pada bidang kesehatan di masa pandemi ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan di sektor kesehatan, tetapi juga mendorong ketahanan ekonomi.

RSUI, kata Beta, merupakan rumah sakit yang pertama menggunakan bilik swab hasil inovasi multidisplin bidang ilmu tersebut.

Inovasi bilik swab yang dikembangkan ini telah diuji fungsi sehingga aman untuk digunakan.

Direktur Utama RSUI dr. Astuti Giantini, Sp.PK. MPH menuturkan adanya inovasi bilik tes swab ini sangat membantu dalam penanganan COVID-19, khususnya untuk rumah sakit.

“Bilik swab menjadi salah satu alternatif untuk melindungi tenaga medis. Karena mereka bisa bertugas dengan tetap menekan risiko paparan virus corona,” terangnya.

Selain itu, kata Astuti, terbatasnya alat pelindung diri (APD) maka bilik swab diharapkan dapat menghemat penggunaan APD di rumah sakit.

“Karena mereka tidak perlu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap,” jelasnya.

Manfaat lain, kata Astuti, yang tidak kalah penting dari bilik swab test yakni dapat meningkatkan kapasitas diagnostik pemeriksaan COVID-19.

Sehingga, kata dia, akan semakin banyak sampel swab yang dapat diambil.

“Jika biasanya pemeriksaan swab PCR dilakukan untuk pasien ODP atau PDP rawat inap.”

“Maka adanya bilik swab ini, RSUI juga dapat melakukan pengecekan swab PCR bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG) pada rawat jalan.”

“Sehingga adanya alat ini pemeriksaan untuk swab bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Pengembangan bilik swab COVID-19 ini didukung oleh hibah Program Pendanaan Perancangan dan Pengembangan Purwarupa (P5).

Khusus penanganan COVID-19 dari Direktorat Inovasi dan Sains Tekno Park (DISTP) Universitas Indonesia.

Dalam proses pengembangan produk, purwarupa bilik swab mengacu pada standar keamanan laboratorium kementerian kesehatan yang mencakup tekanan udara, pengaturan aliran udara, dan protap pemeriksaan COVID-19 di RSUI.

Dekan Fakultas Teknik UI Dr. Ir. Hendri Dwi Saptioratri Budiono, M.Eng, juga mengapresiasi inovasi pengembangan bilik swab test ini.

“Ternyata kita bisa membuat sendiri berbagai produk bila berkolaborasi dan bersinergi antardisiplin ilmu.”

“Semoga bangsa ini tidak jadi bangsa yang hanya mampu mengimpor.”

“Membuat adalah jawaban yang tepat untuk meningkatkan ketahanan dalam berbangsa dan bernegara.”

“Di sisi lain, pentingnya kebijakan pemerintah yang berpihak ke produk dalam negeri untuk menumbuhkan ekosistem industri kesehatan yang kondusif,” jelasnya.

Selain menggunakan material berkualitas tinggi, kata dia, dalam proses pengembangan produk juga dilakukan simulasi penggunaan bilik swab oleh dokter dan tenaga kesehatan.

Hal ini agar proses pemeriksaan dapat berlangsung aman, nyaman, serta sesuai dengan kondisi tempat diletakkannya bilik swab (dalam ruangan atau luar).

Bilik, kata dia, juga disesuaikan dengan kondisi Indonesia yang panas dan lembab.

Sehingga, bilik swab ini dilengkapi dengan sambungan aliran udara yang memiliki filter dan bertekanan positif di dalamnya agar pemeriksa menjadi lebih nyaman dan terlindungi.

“Kami berterima kasih kepada bidang ilmu multidisplin di UI yang telah bekerja sama dalam mengembangkan inovasi bilik swab ini.”

“Dengan tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bagi petugas medis dan pasien yang dites,” ucapnya.

Saat ini, RSUI baru menggunakan satu bilik swab yang berada di area pemeriksaan Poli Melati.

Bilik swab dilindungi dengan disinfektan dan ultraviolet, sehingga menjamin tetap aman untuk dilakukan pemeriksaan pada pasien berikutnya.

Untuk komunikasi dengan pasien di luar, bilik dilengkapi sistem penerangan dan audio.

“Adanya bilik swab test juga merupakan upaya RSUI dalam menerapkan pencegahan dan pengendalian penularan virus corona.”

“Khususnya, saat pengambilan sampel,” sambung Astuti.

Terapkan Protokol Kesehatan Ketat di Rumah Sakit
Selain itu, RSUI telah menerapkan protokol kesehatan pengendalian infeksi yang ketat di area rumah sakit.

Sehingga, masyarakat tidak perlu khawatir untuk datang ke rumah sakit.

RSUI menerapkan pemisahan area pelayanan infeksius dan noninfeksius, termasuk COVID-19 dan Non-COVID-19.

Sesuai standar pencegahan dan pengendalian penularan COVID-19 baik pada layanan rawat jalan maupun rawat inap.

Ruang perawatan khusus COVID-19 seluruhnya bertekanan negatif, termasuk ruang operasi, persalinan, dan perawatan intensif.

Seluruh pengunjung dan pasien, dilakukan screening kesehatan awal sebelum memasuki area rumah sakit dan wajib menggunakan masker serta menjaga kebersihan tangan.

“RSUI berkomitmen untuk tetap memberikan pelayanan yang dibutuhkan, dengan memastikan keamanan dan keselamatan bagi seluruh pasien dan pengunjung,” ujar Astuti. (R008/Moris)

BACA JUGA: RSUI Tambah Ruangan Khusus untuk Pasien COVID-19

Komentar

loading...

Artikel Terbaru

Jadi Zona Biru Corona, Bupati Sumedang Puji para Camat

SUMEDANG, ruber.id - Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir memuji kinerja 26 camat se Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Bupati...

Minggu Pagi, Rumah Jompo di Sumedang Utara Ludes Terbakar

SUMEDANG UTARA, ruber.id - Rumah milik jompo di Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang ludes terbakar, Minggu (31/5/2020) pagi sekitar jam 09.30 WIB.

Dua Korban Tenggelam di Pantai Dadap Indramayu Ditemukan

INDRAMAYU, ruber.id - Dua korban yang hilang terseret arus di Pantai Dadap, Indramayu, Jawa Barat ditemukan meninggal dunia, Sabtu (31/5/2020) malam.

Warga Cilacap Ditemukan Tewas di Pantai Karang Tirta Pangandaran

PANGANDARAN, ruber.id - Tim SAR gabungan menemukan Sabar, 25, di Pantai Karang Tirta, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (30/5/2020) malam jam 19.30 WIB.

Karantina Pemudik di Pangandaran Diakhiri 2 Juni 2020

PANGANDARAN, ruber.id - Pemkab Pangandaran, Jawa Barat akan mengakhiri pemberlakuan isolasi khusus di gedung sekolah bagi para pemudik. Bupati...