Sunday, 5 Jul 2020

Pembangunan Infrastruktur untuk Siapa?

Baca Juga

Buka Pameran IT, Bupati Dony Soroti Percepatan Transformasi Digital di Sumedang

SUMEDANG, ruber.id -- Bertempat di Lapangan Pacuan Kuda, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir membuka acara Pameran Informasi Teknologi (IT) dan Promosi Potensi Daerah. Menurut Dony,...

Kandang Ludes Terbakar, 8 Kambing di Jatinangor Sumedang Ikut Terpanggang

SUMEDANG, ruber.id -- Delapan ekor kambing milik H Jaja, 59, mati terpanggang saat api melalap kandang ternak miliknya, Senin (6/1/2020) malam sekitar jam 21.30...

Bejat, Pimpinan Pesantren dan Guru di Aceh Diduga Cabuli 15 Santri

ruber – Bejat nian jika ini benar terjadi. Pimpinan pondok pesantren dan guru di Lhokseumawe Aceh diduga melakukan pencabulan terhadap 15 santrinya. Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta membenarkan adanya...

Nambah Ratusan di Pangandaran, Calon Hak Pilih Pemilu 2019

PANGANDARAN, ruber -- Calon hak pilih Pemilu 2019 di Kabupaten Pangandaran bertambah 235 orang. BACA JUGA: Nama Calon Anggota DPRD Pangandaran yang Mundur Tertera di...

Pembangunan Infrastruktur untuk Siapa?

OLEH: Rianny Puspitasari

PEMBANGUNAN infrastruktur dalam rezim Joko Widodo memang besar-besaran. Namun, perlu kita tinjau beberapa hal yang menjadi dampak dari pembangunan infrastruktur tersebut.

BACA JUGA OPINI INI: Air Sumur Tercemar, Warga Rancaekek Bandung Gusar

Di antaranya, ratusan rumah warga Kompleks Tipar Silih Asih RT 04/13, Desa Laksana Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat retak-retak akibat pengeboman pada proyek pembangunan terowongan Kereta Cepat Indonesia Cina di Gunung Bohong.

Rumah warga yang retak-retak itu kebanyakan bagian dindingnya, baik itu dinding ruang tamu, kamar tidur dan kamar mandi.

Berikutnya, ternyata lahan yang digunakan untuk Tol Cisumdau dinilai beberapa kalangan berbahaya bagi pengguna tol, sebab lereng yang curam serta rawan longsor.

Pada saat membangun infrastruktur semestinya Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) menjadi rujukan awal agar maslahat bagi umat.

Sejatinya, pembangunan infrastruktur adalah untuk memudahkan aktivitas rakyat.

Jangan sampai tujuan utama tadi justru dalam prosesnya malah merugikan apalagi membahayakan rakyat.

Belum lagi ada tanda tanya besar, sebenarnya untuk siapakah dibangun infrastruktur yang hebat tadi?

Karena pada kenyataannya, KCIC yang digadang-gadang bisa mempercepat akses Jakarta – Bandung disinyalir biayanya mahal.

Begitu pun jalan tol yang saat ini dibangun di berbagai daerah.

Hanya kendaraan yang memiliki uang lah yang bisa menikmati fasilitas yang dibangun dari utang ini.

Jika kita tengok, jalan-jalan utama yang sering dipakai rakyat pada umumnya secara gratis, tidak sedikit yang kondisinya memprihatinkan, begitu pun dengan fasilitas umum yang lainnya. Tidak sedikit kecelakaan terjadi akibat jalan rusak.

Hal ini menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur saat ini diperuntukkan bagi para pengusaha besar agar mereka semakin mudah dalam menjalankan roda perekonomian perusahaan milik mereka.

Begitulah kapitalisme, barang siapa yang memiliki modal maka ia akan mudah mengendalikan penguasa yang disokongnya dalam memuluskan bisnis besarnya.

Tentu, keuntungan pun hanya akan masuk ke kantong-kantong mereka.

Sedangkan rakyat hanya akan mendapatkan kerugian akibat dari ketamakan para korporat yang dilegalkan oleh pemerintah.

Dalam Islam, segala aspek diatur, termasuk dalm hal infrastruktur untuk memperlancar distribusi dan pemenuhan kebutuhan rakyat.

Fasilitas publik adalah kewajiban pemerintah dalam mengadakannya.

Keseriusan visi pembangunan infrastruktur dalam Islam tidak hanya membangun, namun jaminan keselamatan dan kenyamanan rakyat juga harus menjadi prioritas.

Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Umar bin Khattab ketika menjadi seorang Khalifah.

Beliau berkata bahwa jikalau ada kondisi jalan di daerah Irak yang rusak karena penanganan pembangunan yang tidak tepat, kemudian ada seekor keledai yang terperosok ke dalamnya, maka Umar bertanggung jawab karenanya.

Bila binatang saja begitu diperhatikan, apalagi manusia.

Hal ini muncul dari keimanan seorang pemimpin yang menyadari bahwa ia akan diminta pertanggungjawaban kelak oleh Allah SWT.

Bukan hanya pribadi pemimpin yang luhur, tapi dibutuhkan juga sistem yang mampu dan terbukti membawa kemaslahatan di dunia dan akhirat.

Kita sangat rindu dengan pemerintahan yang dibangun atas asas Islam, bukan berdasar hukum buatan manusia.

Oleh karena itu, marilah kita kembali pada aturan yang berasal dari Sang Pencipta, dan mencampakkan liberalism sekulerisme yang menghancurkan kehidupan manusia. Wallahu ‘alam bi ash shawab. (*)

*) Penulis: Rianny Puspitasari, S.Pd., M.Pd., adalah Dosen STBA Sebelas April Sumedang. Email: [email protected]

Baca opini lainnya: Impor Sampah Bermasalah Akibat Aturan Hidup yang Salah

Komentar

loading...

Artikel Terbaru

Gempa 5.3 Magnitudo Guncang Blitar, Terasa Hingga Cilacap

NASIONAL, ruber.id - Gempa bumi Magnitudo 5.3 mengguncang wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Minggu (5/7/2020) dini hari. Gempa bumi...

Update COVID-19 Kabupaten Tasikmalaya: 5 Kasus Positif, ODP 9 Orang

TASIKMALAYA, ruber.id - Total kasus konfirmasi positif COVID-19 di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat sebanyak 5 orang. Dari total kasus...

Kabar Baik, Pasien Positif Corona di Garut Tinggal 1 Orang

GARUT, ruber.id - Kabar baik, pasien positif COVID-19 di Kabupaten Garut, Jawa Barat yang masih dirawat tinggal tersisa 1 orang.

Seorang Pendaki Hilang di Gunung Guntur Garut

GARUT, ruber.id - Seorang pendaki dilaporkan hilang di Gunung Guntur, Desa Sukawangi, Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut, Jawa Barat, sejak Sabtu (4/7/2020).

Alhamdulillah, Pasien Positif Corona di Kota Tasikmalaya Tinggal 2 Orang

TASIKMALAYA, ruber.id - Dari 26 orang pasien positif corona asal Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, kini tersisa tinggal 2 pasien yang masih menjalani...