NEWS, ruber.id – Kawasan Laut Maluku dikenal sebagai salah satu wilayah paling aktif gempa, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia.
Pakar Kegempaan di Indonesia menjelaskan, tingginya aktivitas seismik di wilayah ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Melainkan, kombinasi kondisi tektonik yang sangat kompleks dan saling berinteraksi dalam ruang yang relatif sempit.
Secara geografi, Laut Maluku berada di titik pertemuan tiga lempeng besar dunia. Yakni Lempeng Eurasia di bagian barat, Lempeng Pasifik di timur, dan Lempeng Indo-Australia di selatan.
“Interaksi ketiga lempeng ini, menciptakan dinamika geologi yang sangat rumit,” ungkapnya melalui rilis yang diterima ruber.id, Minggu (5/4/2026).
Ia menyebutkan, salah satu fenomena paling unik di kawasan ini, terjadinya subduksi ganda (double subduction).
Dalam proses ini, kerak samudra di Laut Maluku “ditelan” dari dua arah sekaligus: ke barat menunjam di bawah Busur Sangihe, dan ke timur masuk ke bawah Busur Halmahera.
Kondisi ini, sangat jarang ditemukan di tempat lain di dunia dan menyebabkan akumulasi tekanan tektonik yang sangat besar.
Tidak hanya itu, Laut Maluku juga mengalami tabrakan busur kepulauan (arc-arc collision) antara Busur Sangihe dan Busur Halmahera.
“Tabrakan ini membuat batuan di antaranya terjepit, terlipat, dan patah, sehingga memicu terbentuknya banyak sesar aktif,” jelasnya.
Akibat dari kombinasi proses tersebut, wilayah ini memiliki karakteristik:
- Tegangan tektonik yang sangat tinggi;
- Banyaknya bidang patahan aktif;
- Gempa yang terjadi pada berbagai kedalaman, dari dangkal hingga ratusan kilometer;
- Frekuensi gempa yang tinggi dengan mekanisme yang beragam.
Dengan kata lain, aktivitas gempa di Laut Maluku tidak semata-mata karena lokasinya berada di Ring of Fire.
Tetapi, lebih karena struktur geologinya yang kompleks, ibarat “zona tumbukan berlapis” yang terus menyesuaikan diri.
Gempa bumi menjadi mekanisme alami untuk melepaskan energi yang terus terakumulasi.
Sejarah Tsunami di Laut Maluku
Ia mengatakan, selain gempa, kawasan ini juga memiliki catatan panjang kejadian tsunami, baik skala kecil maupun besar.
Berikut beberapa peristiwa yang pernah tercatat:
- 1608: Tsunami di sekitar Gunung Gamalama, Pulau Makian, dan Ternate, menyebabkan kerusakan pada banyak kapal.
- 1673: Tsunami di Maluku Utara, diduga bersumber dari Gunung Gamkonora.
- 1845: Tsunami di Kema, Minahasa Utara, dengan dua kali gelombang besar dan tiga kali surut ekstrem.
- 1846: Tsunami setinggi sekitar 1,2 meter di Maluku Utara, dengan siklus naik-turun hingga 16 kali.
- 1856: Tsunami melanda pesisir Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya.
- 1857: Tsunami di Kema-Manado menghanyutkan bangunan dan pepohonan pesisir.
- 1858: Tsunami menyebabkan kerusakan permukiman di Maluku Utara.
- 1859: Tsunami di Kema mencapai area jauh dari pantai hingga menyentuh atap gudang batubara.
- 1871: Tsunami merusak sejumlah kampung pesisir di Kepulauan Sangihe-Talaud.
- 1889: Tsunami setinggi 2 meter di Manado dan 4 meter di Kema.
- 2014: Tsunami kecil terdeteksi di Halmahera, dengan tinggi 9 cm di Jailolo dan 3 cm di Manado.
- 2019: Tsunami lokal kecil kembali terjadi di Halmahera.
“Data ini menunjukkan, Laut Maluku bukan hanya rawan gempa. Tetapi juga, memiliki potensi tsunami yang perlu diwaspadai,” sebutnya. ***







