Sunday, 29 Mar 2020

Menekan Angka Pengangguran Sumedang dengan Kewirausahaan Digital

Baca Juga

Ribuan Kartu BPNT di Pangandaran Bermasalah, Ini Penyebabnya

PANGANDARAN, ruber -- Sekitar 4.000 Kartu Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) di Kabupaten Pangandaran masih bermasalah.  Penyebabnya, data KPM tersebut mengalami berbagai kendala....

Diskusi Bareng HMI, Politisi PKB Kritisi Tata Ruang di Depok

DEPOK, ruber.id - Politisi PKB Kota Depok Babai Suhaemi kritisi kebijakan pembangunan dan tata ruang di Depok, Jawa Barat.

Pilkades Serentak 2020, Tiap Desa di Sumedang Butuh Biaya Rp60 Juta

SUMEDANG, ruber.id -- Pelaksanaan Pemilihan kepala desa atau Pilkades serentak 2020 di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, akan menelan biaya sebesar Rp5.6 miliar. Total anggaran yang...

Lulusan SMA Mendominasi, Warga di Pangandaran Lebih Tertarik Kerja di Luar Daerah

PANGANDARAN, ruber -- Mayoritas warga di Kabupaten Pangandaran lebih tertarik bekerja di luar daerah. BACA JUGA: Banyak yang Ditilang, Tingkat Kesadaran Pengendara di Pangandaran Dianggap Minim Selama...

Menekan Angka Pengangguran Sumedang dengan Kewirausahaan Digital

OLEH: Muhammad Aldhira

OPINI, ruber.id — Kabupaten Sumedang, Jawa Barat hingga saat ini dibayang-bayangi tingginya angka pengangguran.

Menurut paparan Disnakertrans Sumedang seperti dikutip media RRI pada 6 Agustus 2018, tidak kurang dari 50.000 orang menganggur di Sumedang.

Anggap saja jika jumlah penduduk Sumedang kita bulatkan jadi satu juta jiwa, maka persentase pengangguran mencapai angka 5%.

BACA JUGA OPINI INI: Pembangunan Infrastruktur untuk Siapa?

Tren angka pengangguran ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Supply atau ketersediaan angkatan kerja di Sumedang cukup besar dibanding demand atau permintaan dari industri.

Tingginya angka pengangguran ini berkolerasi linier dengan kondisi ekonomi Sumedang.

Menurut anggota DPRD Kabupaten Sumedang Rahmat Juliadi dalam rilis pers pada 2 September 2019, indeks daya beli atau pendapatan Sumedang di tahun 2018 masih di bawah rata-rata indeks pendapatan Jawa Barat.

Jika masalah pengangguran ini tidak segera ditangani dengan pendekatan yang tepat, maka akan menimbulkan permasalahan lebih besar bagi Sumedang.

Penanganan pengangguran dengan memberikan pelatihan kerja bagi angkatan kerja saat ini dinilai bukan pendekatan yang efektif.

Pelatihan kerja artinya mempersiapkan angkatan kerja agar bisa diserap oleh industri.

Sementara saat ini, permintaan industri terhadap angkatan kerja di Sumedang lebih rendah dibanding jumlah angkatan kerja yang tersedia.

Alternatif lainnya adalah mendorong angkatan kerja untuk mencari lapangan kerja di luar Sumedang.

Untuk jangka pendek ini bisa menjadi solusi mengatasi pengagguran, namun untuk jangka panjang ini kontraproduktif terhadap pertumbuhan ekonomi Sumedang.

Gambaran sederhananya, ketika warga Sumedang pindah dari Sumedang untuk bekerja di daerah lain, maka sebagian besar pendapatannya hanya akan habis dibelanjakan di domisili daerah tempat ia bekerja.

Sedikit sekali kontribusi pendapatannya diterima di Sumedang.

Diharapkan, angkatan kerja Sumedang dapat terserap di Sumedang dan menghabiskan pendapatannya hanya di daerah Sumedang.

Sehingga dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di Sumedang.

Mau tidak mau, pemangku kebijakan terkait di Sumedang harus lebih fokus pada pendekatan kewirausahaan untuk mengurangi tingginya angka pengangguran di Sumedang.

Pendekatan kewirausahaan ini mendorong angkatan kerja untuk dapat membuka usaha sendiri, alih-alih mencari lapangan pekerjaan.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi digital, ditandai dengan lahirnya berbagai platform media sosial maupun pasar online atau lebih dikenal dengan istilah marketplace menjadi peluang besar bagi angkatan kerja untuk masuk dunia wirausaha.

Saat ini dikenal istilah wirausaha digital. Secara garis besar, wirausaha digital adalah pelaku usaha mandiri yang memanfaatkan perangkat teknologi informasi dari mulai analisis pasar, penawaran produk, operasional usaha hingga transaksi.

Perkembangan teknologi informasi secara digital, disadari atau tidak memicu sebuah kondisi sosial yang disebut dengan disrupsi.

Secara makna, disrupsi adalah perubahan signifikan berbagai sektor baik dari segi pelaku, operasional maupun sistem akibat adanya perkembangan pesat teknologi informasi.

Sebagai contoh, 10 tahun yang lalu siapa terpikir bisa pesan ojek hanya menggunakan aplikasi di ponsel?

Siapa terpikir transaksi jual beli hanya menggunakan dompet virtual di ponsel?

Siapa terpikir sekarang bisa buat usaha kuliner hanya modal dapur rumah, memanfaatkan perangkat aplikasi online?

Siapa terpikir bisa jualan produk tanpa harus punya toko, cukup pajang di sosial media atau marketplace?

Saat ini, hampir semua orang memiliki gawai pintar untuk mengakses informasi maupun komunikasi melalui berbagai platform sosial media.

Era disrupsi ini menjadi peluang besar bagi angkatan kerja Sumedang untuk memulai usaha sendiri dengan modal minim, tidak melulu berorientasi mencari lapangan pekerjaan.

Karena itu, penting pemangku kebijakan membuat program tepat guna mendorong angkatan kerja menjadi seorang wirausaha digital.

Di antaranya dengan membuat program pelatihan wirausaha berbasis digital bagi angkatan kerja dengan disertai pendampingan berkesinambungan untuk memastikan angkatan kerja dapat benar-benar menjalankan usahanya dengan baik.

Program yang dibuat ini harus memastikan peserta mendapat pembekalan mindset atau pola pikir kokoh sebagai wirausaha.

Mendapatkan pemahaman bagaimana membaca peluang pasar dengan menggunakan sarana internet.

Mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana cara memasarkan produk serta bertransaksi di internet.

Program lain yang bisa dioptimalkan adalah mendorong generasi milenial pengguna sosial media untuk tidak hanya sekadar menjadikan sosial media ajang eksistensi ataupun aktualisasi diri, tapi juga digunakan sebagai sarana menumbuhkan jiwa wirausaha sedari dini.

Sehingga, ketika memasuki fase angkatan kerja, para generasi milenial di Sumedang ini sudah memiliki bekal memadai untuk memulai usaha sendiri hanya dengan memanfaatkan gawa pintar yang dimiliki.

Semoga dengan tulisan ini bisa menjadi masukan positif untuk setiap pemangku kebijakan dalam menyelesaikan persoalan pengagguran di Kabupaten Sumedang. (*)

BACA JUGA OPINI LAINNYA: HMI Jawa Barat: Hari Agraria Jangan Sekadar Seremonial

*) Penulis: Muhammad Aldhira
Alumni Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Pelaku wirausaha digital.

Loading...

Komentar

loading...
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Corona Menyerang Dunia, Ini Daftar Negara Selamat dari Ancaman COVID-19

INTERNASIONAL, ruber.id - Virus corona atau COVID-19 dikonfirmasi merupakan jenis virus baru yang mudah menular dan cepat menyebar. Saat ini,...

Patroli Skala Besar COVID-19, Sisir Pusat Keramaian di Jatinangor dan Cimanggung Sumedang

JATINANGOR, ruber.id - Patroli skala besar cegah penyebaran COVID-19 sisir sejumlah pusat keramaian di Jatinangor dan Cimanggung, Sumedang, Sabtu (28/3/2020) malam.

Beredar Pesan di WhatsApp Warga Tanjungsari Sumedang Positif Corona, Padahal…

TANJUNGSARI, ruber.id - Beredar pesan WhatsApp warga Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat positif corona, Sabtu (28/3/2020) malam. Dalam broadcast...

Garut Masih Negatif Corona, ODP dan PDP Akan Dites Massal

GARUT, ruber.id - Alhamdulillah, hingga Sabtu (28/3/2020) sore, Kabupaten Garut, Jawa Barat masih negarif COVID-19. Namun, kasus Orang Dalam...

Warga Positif Corona Terus Bertambah, Tasikmalaya Local Lockdown

TASIKMALAYA, ruber.id - Cegah penyebaran COVID-19, Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman memberlakukan kebijakan local lockdown. Dilansir ruber.id dari Kompas.com, kebijakan...