Korea Utara Dukung Rusia, Kecam Amerika

Korea Utara Dukung Rusia, Kecam Amerika
Foto ilustrasi Pexels Istockphoto

BERITA INTERNASIONAL, ruber.id – Korea Utara dukung Rusia, kecam Amerika. Perang Rusia-Ukraina yang bergulir sejak 24 Februari tahun ini, membawa banyak negara ikut menjadi korban dan akhirnya satu per satu pemimpin dunia buka suara.

Ada yang menunjukkan sikap mendukung salah satu pihak, terakhir Korea Utara (Korut) mulai menunjukkan keberpihakannya pada Rusia.

Korea Utara Kecam Amerika

Adalah media milik pemerintah Korut yang mengecam Amerika Serikat (AS) habis-habisan, terutama sekali ditujukan pada Presiden Joe Biden.

Pemimpin AS itu, disebutnya telah mengalami penyakit pikun dan ada masalah dengan intelektualitasnya ketika menyebut Rusia sebagai penjahat perang di Ukraina.

Dalam artikel yang dilansir media pemerintah Korut KCNA dituliskan, dengan menyebut Rusia sebagai penjahat perang akan berbalik sendiri ke arah Washington dan meruntuhkan rezim Biden.

Baca juga:  Sanksi Amerika dan Sekutu Dibalas Rusia dengan Pembekuan Aset Asing

“Tudingan tersebut adalah upaya AS mencemarkan nama baik Rusia. Ini akan menjadi bumerang bagi negara mereka sendiri,” tulis KCNA beberapa waktu lalu.

Artikel tersebut juga menyebutkan, jika hal ini seperti orang yang bersalah namun mengajukan gugatan.

“AS harusnya bertanggungjawab atas pembantaian mereka terhadap jutaan warga sipil Afghanistan, Irak, dan juga di Yugoslavia,” seperti lansiran Russia Today, Minggu (10/4/2022).

Tudingan AS, berdasarkan laporan dari Kyiv yang menyebutkan Rusia telah membunuh warga sipil di Kota Bucha, Ukraina.

Rusia pun membantah dan mengklaim jika hal tersebut, adalah manipulasi Ukraina menyebarkan propaganda yang tak benar agar dunia menyudutkan Kremlin.

Bahkan, Rusia telah meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar menyelidiki insiden ini supaya membuktikan kebenarannya.

Baca juga:  Klaim Pemerintah Rusia, Virus Corona Bukan dari China

Lebih lanjut, Korut mengatakan, tudingan kepada seorang pemimpin negara berdaulat dan menyebutnya sebagai penjahat perang serta diktator tanpa pembuktian adalah penghinaan.

“Jika tidak bisa membuktikan, maka bisa jadi ada masalah dalam kemampuan intelektualnya dan ucapan sembarangan hanya menunjukkan kecerobohan seorang lelaki tua yang pikun,” tulis artikel itu lagi.

Korut juga menyebutkan, taktik pelabelan penjahat perang sudah lama dipraktikkan AS untuk ‘mengucilkan’ lawan-lawannya dari pergaulan dunia.

Negara pimpinan Kim Jong Un itu, juga mengatakan masa depan AS akan suram jika dinahkodai oleh presiden yang lemah dalam intelektualitasnya.

Penulis: Ardini Maharani DS/Editor: R003