Kisah Mistis di Balik Pemberian Nama Candi Jiwa Batujaya Karawang

Kisah Mistis di Balik Pemberian Nama Candi Jiwa Batujaya Karawang
Ada kisah mistis di balik pemberian nama Candi Jiwa Batujaya, Karawang, Jawa Barah. shendy boy/ruber.id

KOPI PAGI, ruber.id – Terdapat kisah mistis yang menjadi asal muasal pemberian nama Candi Jiwa. Candi peninggalan Kerajaan Tarumanagara ini, terletak di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Karim, salah satu juru pelihara di pelataran candi mengatakan nama candi jiwa diambil dari istilah Unur Jiwa.

Sebelum candi jiwa ditemukan, di lokasi tersebut terdapat gundukan tanah yang menyelimuti bangunan candi.

Masyarakat sekitar, kata Karim, menyebut gundukan tanah tersebut dengan istilah unur.

Anehnya, unur ini memiliki daya magis tersendiri. Sebab, banyak hewan ternak yang melintasi unur mati tiba-tiba tanpa jelas.

“Kambing tersebut mati tanpa sebab yang jelas. Makanya masyarakat sekitar dulu menganggap tempat ini mempunyai jiwa.”

Baca juga:  Grup Musik asal Sumedang, Arberic, Aransemen Ulang Single Lagu Hits Nyeri Hate

“Soalnya tidak sekali dua kali hewan yang mati tanpa sebab. Makanya disebut unur jiwa. Setelah ditemukan bahwa gundukan ini candi, maka disebut candi jiwa,” ungkapnya kepada ruber.id.

Candi Jiwa: Destinasi Wisata, Eksistensi Kerajaan Tarumanagara

Terlepas dari itu, Candi Jiwa merupakan salah satu destinasi wisata Karawang yang patut dikunjungi.

Selain berwisata, komplek pelataran Candi di Batujaya tersebut bisa menjadi tempat belajar sejarah.

Dengan adanya Candi Jiwa, eksistensi Kerajaan Tarumanagara diketahui keberadaannya hingga wilayah utara Karawang, Jawa Barat.

Lokasi candi ini, berada di tengah pesawahan namun tidak jauh dari pemukiman warga.

Bentuk Candi Jiwa, diduga dulunya merupakan stupa yang menyerupai bunga teratai.

Baca juga:  Mengenal Ciri Khas Golok Asal Pangandaran, Bergagang Tanduk

Namun sayang, saat ditemukan bagian atas Candi tersebut sudah tidak utuh lagi.

Selain itu, di sekitaran kaki bangunan Candi Jiwa terdapat sebuah jalan yang melingkar. Jalan ini diduga sering dipakai ritual Pradaksina.

Ritual ini dilakukan dengan cara memutari stupa searah jarum jam.

Candi yang berbahan bata ini disimpulkan merupakan peninggalan kerajaan Tarumanagara dengan latar belakang agama Budha pada abad 5 Masehi hingga 7 Masehi.

Hal ini merujuk pada penelitian yang dilakukan tahun 1984 oleh tim Arkeologi Universitas Indonesia.

Berbeda dengan Candi peninggalan Budha lainnya, Candi Jiwa tidak memiliki arca atau relief.

Hasil eskavasi pada tahun 1996 sampai 2001 hanya berhasil memperlihatkan denah dan bangunan candi yang tidak utuh.

Baca juga:  Video Erupsi Gunung Tangkuban Parahu

Ukurannya 18×18 meter persegi. Saat ini hanya tersisa bagian kaki dan tubuh dengan tinggi 3.50 Meter.

Penulis: Shendy Boy TD/Editor: Bam