EKBIS  

Keren! Warga Sumedang Ini Sulap Limbah Jadi Bisnis Boneka Menggiurkan

Limbah boneka
WARGA Sumedang sulap limbah jadi boneka bernilai ekonomi tinggi. dok/ruber.id

Limbah merupakan hal yang merugikan untuk makhluk hidup. Terutama, limbah plastik yang menjadi permasalahan di negeri ini.

Tapi dengan ide kreatif, limbah bisa disulap menjadi sebuah bisnis dengan keuntungan menjanjikan.

Di Kabupaten Sumedang, ada sosok Jajang. Dia sukses mengolah limbah tersebut menjadi produk berupa boneka. Seperti apa prosesnya? Berikut penuturan Jajang kepada ruber.

riany mg/SUMEDANG

WARGA asal Dusun Babakan Peundeuy, Desa Baginda, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang ini terbilang ulet.

Dengan kemampuan kreatifnya, dia mengolah limbah menjadi bisnis boneka yang menjanjikan.

Jajang menyebutkan, usahanya ini telah dirintis sejak tahun 1990 dan berjalan hingga saat ini.

Dalam menjalankan usahanya, Jajang kini dibantu oleh 13 orang karyawan. Mereka bekerja membantu Jajang di pabrik pembuatan boneka tersebut.

Baca juga:  Lawan Persima Majalengka, Perses Sumedang Siapkan Strategi

Jajang mampu menghasilkan 240 buah boneka tiap bulan dengan bermacam-macam bentuk dan warna.

“Pemasarannya ke Cirebon, Majalengka, Cikampek, Kalimantan. Jadi, pemasaran tidak ada kendala,” ujarnya kepada ruber belum lama ini.

Jajang menuturkan, hambatan yang dialami dalam usahanya tersebut adalah penambahan modal, mesin peralatan yang harus memadai dan kendaraan.

Jajang mengaku, awal tertarik menggeluti usaha mengolah limbah menjadi boneka ini dilatarbelakangi tidak punya modal yang cukup besar.

Sehingga, memanfaatkan limbah boneka sebagai bahan pembuatan boneka.

Waupun dengan bahan baku yang berasal dari limbah, boneka yang dihasilkan di pabrik ini menarik dan cukup beragam.

“Dengan modal kecil, saya berharap usaha ini bisa berjalan dengan lancar,” harapnya.

Baca juga:  Motor Tanpa Lampu Hajar Elf di SPBU Barak Sumedang

Ditemui terpisah, penggemar sekaligus pengoleksi boneka, Ulfia mengaku, kecintaannya terhadap boneka sudah dirasakan sejak masih duduk di Taman Kanak-kanak.

Terutama, kata Ulfia, boneka beruang adalah yang paling disukainya.

Mahasiswi UPI asal Jatinunggal, Sumedang ini mengatakan, sejak kecil memang selalu diberi mainan boneka oleh orang tuanya.

“Koleksi boneka panda, keropi, beruang, doraemon, minion, stich. Tapi kebanyakan beruang, sih,” akunya.

Untuk warna boneka sendiri, Ulfia cenderung memilih boneka dengan warna yang netral. Tidak terlalu cerah dan tidak terlalu gelap.

“Untuk ukurannya, tidak punya kriteria khusus, baik yang kecil maupun yang besar tetap suka,” ucapnya.

Ulfia menuturkan, harga boneka di pasaran lumayan murah, namun untuk boneka brand ternama memiliki harga yang cukup mahal, hampir ratusan ribu.

Baca juga:  Okupansi Hotel di Jabar Masih Rendah

“Beli sesuai selera, tapi lihat dari bulunya, soalnya boneka yang bagus bulunya lembut banget,” ucapnya lagi.

Ulfia menambahkan, selain untuk dikoleksi, boneka juga bisa dijadikan hadiah untuk orang lain.

“Pernah diberi adik, pacar, gebetan. Tapi kalo dari orang tua pernah waktu kecil,” akunya. (*)